Jalan Takdir

… selalu ada saat untuk kita berpisah menempuhi jalan takdir masing-masing – a random thought

aku

Ilustrasi: Mikir

Barangkali, kita pernah berada di jalan yang sama, searah atau berpapasan. Di jalan yang mulus dan lebar atau jalan sempit nan terjal. Di jalan yang datar, menurun, ataupun mendaki. Di jalan yang lurus atau jalan yang berliku. Kadang kita saling bertegur sapa, kadang kita hanya diam-diam saja, dan kadang kita tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Bahkan kita juga pernah ngiyup sejenak di bawah pohon yang sama. Berlindung beberapa jenak, hingga hujan yang turun mereda atu matahari bergeser sedikit ke arah kaki-kaki langit.

Hingga saat di persimpangan jalan itu pun tiba. Lalu kita pun harus menempuh jalan kita masing-masing. Jalan yang kita tempuh pun tak lagi sama. Jalan-jalan yang kita tak tahu dimana ujungnya, bagaimana wujud rupanya.

Terkadang kita mengingat jejak-jejak langkah kita kembali. Tapi, lebih sering kita memutuskan untuk melupakanya sama sekali.

Terkadang kita terjebak untuk membandingkan-bandingkan. Padahal, kita telah menempuh jalan yang berbeda, dan cepat atau lambat kita akan berpisah di persimpangan jalan. Cepat atau lambat kita hanya menjadi cerita, untuk diingat atau dilupakan begitu saja, tanpa sempat merenungkan untuk apa kita dipertemukan?

 

Advertisements

2 comments

  1. Ah Cak Son, itulah mengapa suara dari kesunyian begitu nyaring terdengar. Karena takdir, nasib, tersembunyi dalam jubah jubah sunyi malam.

    Di situ jugalah sejarah akan tersimpan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s