Getaran Firasat Itu

… sekedar puisi-puisian menjelang musim gugur – a random feeling

nglokro_01

Ilustrasi : Merasa

Daun-daun yang hijau telah menguning,
Dan kemerah-merahan,
Lalu berguguran diterpa angin,

Aku bertanya pada seorang bocah: mengapa?
Ayah, musim gugur telah tiba.

***

Oh, Tuhan,
Firasat itu menemukan ku kembali.
Hari itu, saat ku buka pintu
Tiba-tiba dia datang,
merasuk, memenuhi ruang-ruang kosong dalam jiwa.

Aku berlari,
Aku bersembunyi,
Tetapi,
Perangkap firasat itu,
Selalu dapat menemukan ku kembali.

Argh, Tuhan.
Inikah pujian?
Inikah ujian?
Haruskah bersyukur?
Haruskah istighfar dan tafakur?

Patutkah berdiri tegak dan bangga?
Atau semestinya merunduk malu?

Firasat itu datang bagai secawan anggur,
Nikmatnya begitu memabukkan.
Seperti mawar merah penuh duri tajam,
Semerbak harum baunya, indah memesona rupanya,
tetapi menggores luka berdarah, bila kugenggam erat.

Getarnya,
Mendebar-debar hati,
Mengusik-usik ketenangan jiwa ku.

Terdengar suara lonceng,
Dari gereja tua di pinggir kota,
Mengabarkan hari telah surup,
Menyambut malam sunyi yang terus memanjang.

Akankah firasat itu segera pergi kembali?
Menghilang bersama pekatnya malam-malam dingin yang berkabut.
Seperti cerita yang sudah-sudah.
Entahlah,

Notttingham, 14/10/2016

Advertisements

2 comments

  1. Dan bila kau ijinkan ku bertanya, adakah getaran firasat kali ini mendendangkan irama perpisahan? Bahwa kisah hidupmu untuk saat ini di tempat ini akan segera menepi, untuk merajut kisah baru di bumi asal?
    Mudeng ora, mas? 😉 ini nyoba berpuisi koyo si mas, tp kok malah mbundeli 😀 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s