Denyut Kota Udine, Italia

… suasana paling berkesan dari kota ini adalah ketika dua perempuan ngontel sepeda beriring bersama, lalu berpisah di persimpangan jangan, menempuh jalan yang berbeda sambil kompak mengucap salam pisah: ” Ciao… “ – sebuah catatan perjalanan biasa

udine_17

Udine Castle

Sebenarnya dari stasiun kere api St Luzia-Venice aku bisa naik kereta api langsung ke kota Udine. Namun, karena saat merencanakan perjalanan saya pikir harus turun di stasiun kereta api Maestre-Venice, jadilah saya membeli tiket kereta api dari stasiun kere api St Luzia-Venice ke Maestre-Venice dan tiket kereta api dari Maestre-Venice ke Udine secara terpisah. Dengan kereta api ini, jarak antara stasiun St Luzia-Venice dan Maestre-Venice, rupanya bisa ditempuh hanya dalam perjalanan 10 menit saja. Berangkat 19:31 sampai tepat pukul 19:41.

udine_02

Stasiun Venizia-Mestre

Aku hanya duduk-duduk di stasiun Maestre, sambil menunggu kedatangan kereta yang akan membawa ku kota Udine pukul 20.16. Sinar matahari sore masih terlihat cukup terang dari salah satu kaki langit menerobos ke dalam stasiun, menerangi rel kereta api yang usang. Stasiun sudah sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang terlehat sedang menunggu kereta. Seorang pengemis, lelaki tua, berjas lusuh datang menghampiriku, dengan bahasa Italia yang tidak aku pahami, meminta uang recehan. Tak lama berselang, perempuan tua juga menghampiri ku dengan maksud yang sama.

Stasiun Venizia-Mestre ini jauh dari bayanganku, di kota wisata modern yang sangat terkenal, sudah sewajarnya jika stasiunya megah dan mewah. Rupanya, tak jauh beda dengan stasiun Gubeng Surabaya. Banyak rumput-rumput tumbuh liar di antara rel-rel kereta api yang berjajar-jajar dan terhubung dengan kota-kota besar di daratan benua Eropa itu.

Tepat pukul 20.16 kereta api berangkat menuju kota Udine. Kereta jurusan akhir kota Treste itu berhenti hampir di setiap stasiun. Hanya ada beberapa penumpang saja di setiap gerbong bertingkat dua itu. Di gerbong ku, hanya ada dua orang. Aku memilih duduk di pinggir jendela, agar bisa melihat kereta sudah sampai di stasiun mana. Takut, kalau-kalau kebablasan. Setelah melewati beberapa stasiun, seorang petugas memeriksa tiket setiap penumpang.

Kereta api tiba di Stasiun Udine tepat pukul 21.53. Aku langsung keluar dari stasiun yang sudah sepi sunyi itu. Di luar stasiun jalanan pun sudah sepi. Aku berjalan kaki dari stasiun ke hotel tempat ku menginap mengikuti petunjuk google map yang sudah aku print out. Menyusuri trotoar jalan-jalan yang sudah sepi itu kadang-kadang ada perasaan takut, kalau-kalau ada orang jahat. Tapi aku yakinkan diriku sendiri ini Italia bukan Jakarta atau Surabaya.

Akhirnya, dengan kecerdasan sapsial ku yang rendah, aku pun tersesat juga. Cukup panik, karena tersesat di perempatan yang sunyi sepi. Sialan, tidak ada keterangan nama jalan di perempatan itu. Hanya insting menuntun ku untuk memilih salah satu jalan. Beruntung ada seorang pemuda sedang berjalan di jalan itu, aku pun bertanya jalan menuju hotel sambil menyodorkan print out google map. Duh Gusti, dia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Dia memberi petunjuk pakai bahasa Italia yang tidak sedikit pun aku mengerti kecuali bahasa tubuhnya. Beruntungnya, dia sedang berjalan menuju tempat yang searah dengan lokasi hotel. Sehingga aku pun berjalan beriring denganya. Dari 15 menit yang diperkirakan google map, saya memerlukan waktu hampir 40 menit untuk sampai di hotel Friuli, tempat saya menginap selama 4 malam.

**

Seminar Internasional yang Biasa Saja

Lokasi seminar berjarak 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari hotel, tepatnya di Universita Degli Studi Di Udine atau University of Udine, universitas yang didirikan baru tahun 1978 sebagai bagian dari rekontruksi Friuli pasca gempa 1976. Seperti seminar internasional pada umumnya, disini aku betemu dengan orang-orang hebat di bidang riset ku. Para profesor, akademisi  senior dari kampus-kampus di Eropa, Amerika, dan Asia serta beberapa praktisi yang kebanyakan dari vendor software.

udine_18

Salah satu Papan Nama Universitas Udine

Beruntung, aku mendapat jadwal presentasi di hari pertama, sehingga aku bisa menikmati seminar selama tiga hari itu. Seperti biasa, presentasi ku selalu kacau, bahasa inggris ku belepotan, medok jowo ku ndak bisa hilang-hilang meskipun sudah empat tahun tinggal di Inggris. Cukup senang di seminar ini aku bisa ngobrol cukup intens dan berkesan dengan beberapa orang dari Spanyol, Irlandia, Jepang, Mexico, Cina, dan Israel.

Dengan orang spanyol, aku dapat cerita banyak tentang kota Granada, tempat kelahiranya. Dengan orang Irlandia, aku dapat update ilmu banyak dari IBM, serta terkesan dengan mas nya yang ramah dan humble sekali. Aku sampai berfikir, ilmuwan sejati itu seharusnya seperti mas ini. Dua teman dari Israel yang Yahudi pun ternyata tak seseram seperti yang aku bayangkan ketika membaca situs-situs islam garis keras itu. Aku malah jadi tahu banyak culture orang Yahudi.

Dengan orang Jepang, aku terkesan sekali dengan semangatnya. Seorang perempuan yang meskipun sepertinya sudah sepuh, dosen di sebuah universitas swasta di Tokyo, tetapi semangatnya sangat luar biasa. Datang ke Itali sendirian hanya untuk menghadiri seminar ini. Ohya, satu lagi, aku juga bertemu dengan orang Surabaya yang sudah beralih kwarganegaraan Singapore, dan saat ini jadi peneliti di Singapore Management University. Dengan mas ini, aku bisa ngobrol bebas menggunakan bahasa Jawa. Ngobrol dengan orang-orang seperti merekalah asyiknya di seminar internasional. Kalau materi seminarnya, sepertinya terlalu berat dan membosankan untuk diceritakan disini.

Suasana Kota Udine yang Klasik

Di antara jeda seminar, atau setelah seminar usai, aku mencuri waktu untuk merasakan denyut kehidupan kota Udine. Justru di kota kecil seperti Udine inilah, aku fikir kita bisa benar-benar merasakan denyut kehidupan orang lokal Itali sebenarnya. ” Kring Kring Kring Kring” suara bel sepeda ontel mendominasi suasana kota ini.

udine_03

Suasana Kota Udine di Siang hari

Aku selalu jatuh cinta dengan kota dimana jumlah sepeda jauh lebih banyak dari pada kendaraan bermotor. Sejenak kota ini mengingatkan ku pada kota Lueven di Belgia dan  kota Leiden di Belanda. Siang yang terik itu aku duduk di pinggir jalan, di samping sebuah empang yang airnya sangat jernih sekali. Di empang itu, terlihat olehku beberapa pasang capung berwarna biru-ungu sedang  berkejar-kejaran, lalu bercinta di atas ranting. Kuperhatikan capung-capung itu, sambil memperhatikan orang-orang yang lewat berlalu lalang di jalan.

udine_04

Boncengan Sepeda Ontel, Udine Italia

Pada hari pertama di kota ini, saat kembali dari kampus ke hotel, parah sekali, aku tersesat kembali. Terlalu yakin sudah hafal rute yang aku lalui waktu berangkat, eh ternyata tersesat di perempatan dekat sungai yang tak tahu harus lewat jalan yang mana. Handphone tidak ada koneksi internet, hanya berbekal print out google map dan city map. Setelah mutar-muter sampai bingung sendiri, akhirnya nyerah juga harus bertanya dengan orang lokal yang tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali itu. Pertama, ketemu sepasang muda-mudi yang berpapasan, eh bingung lagi. Sampai akhirnya, ketemu tiga mahasiswa, dua cowok satu cewek yang sangat serius membantu ku menemukan hotel. Si cewek yang cantik sekali itu mengambil stabilo dari dalam sebuah kafe, lalu dibantu dua teman coowoknya, memberi stabilo rute jalan yang harus saya tempuh sampai ke hotel.

udine_06

Parkir Sepeda Ontel di Udine, Italia

Informasi jalan di kota Udine ini memang tak sebagus informasi jalan di UK, sehingga sering kali membingungkan. Untungnya orang Italia jauh lebih hangat dan ramah dibanding orang UK yang terkenal dingin itu. Saya sangat terkesan dengan suasana tipikal di kota ini, dua orang atau lebih bersepeda beriringan, lalu ketika harus berpisah di persimpangan jalan, mereka mengucapkan salam pisah: “Ciao.. !” .

udine_12

Sudut Kota Udine

Bila menyusuri sudut-sudut kota ini, kesan yang terasa dari kota ini adalah kota usang, saking banyaknya gedung-gedung tua yang sepertinya juga kurang terawat atau mungkin sengaja dibiarkan begitu, untuk menimbulkan kesan kota klasik. Penduduknya pun kesan nya kurang bergairah hidup, kecuali untuk menikmati hidup itu sendiri. Di Italia ini dan kabarnya di Spanyol juga, kantor-kantor dan pusat-pusat perbelanjaan setelah buka sekitar jam 9 pagi, akan tutup antara jam 12 sampai jam 4 sore. Buka kembali sebentar jam 4 sampai jam 5 atau jam 6 sore. Mirip sekali dengan orang Jawa tempoe doeloe, ada waktu untuk leyeh-leyeh antara duhur dan ashar. Alasanya, musim panas di negara-negara eropa selatan ini sangat panas. Padahal menurut ku, kalau dibanding panasnya Surabaya mah tidak ada apa-apanya. Jelas dibanding kota-kota sibuk di Asia seperti Singapore, kesanya orang gaya hidup orang Italia di Udine ini sangat pemalas sekali.

udine_10

Gedung-gedung tua yang masih difungsikan di Udine

Jika sampean pergi ke Singapore atau London, sampean akan melihat bagaimana orang-orang terlihat sangat sibuk, berjalan pun sambil setengah berlarian. Pemandangan di kota Udine ini kebalikanya. Orang-orang terlihat sangat santai, tidak ngoyo, tetapi sebaliknya mereka terlihat begitu menghayati dan menikmati kehidupan. Jika orang-orang US, Jepang, Korea, Cina, Singapore mengajarkan hidup itu harus kerja keras mati-matian, Orang Inggris mengajarkan  work-life balance,  orang-orang Italia di Udine ini seolah mengajarkan bagaimana menikmati kehidupan ini. Begitulah, setiap bangsa punya definisi sendiri-sendiri tentang kehidupan mereka.

udine_11

Sumur Tua di Kota Udine

Di pusat kota Udine, hampir setiap gedung adalah toko penjual gaya hidup, dari pakean, parfum, hingga warung kopi, beberapa diantaranya adalah kantor industri jasa seperti bank. Ketika sore menjelang malam, orang-orang sudah terlihat berkumpul di pusat kota untuk menikmati hidup. Di kafe-kafe, restauran, dan bar-bar. Di musim panas seperti saat ini, mereka lebih senang menikmati anggur dan bir out door.

udine_09

Orang-orang menikmati hidup di sore hari

Hal yang paling aku suka dari suasana kota ini adalah keheninganya dan berjalanya waktu yang seolah begitu melambat. Nyaris tidak terdengar suara kendaraan bermotor. Karena sebagian besar orang di kota ini naik sepeda atau berjalan kaki. Pada satu malam, setelah makan malam, aku sengaja datang sendirian di pusat kota. Aku duduk tepat di titik 0 kota Udine, di depan Castle.

udine_07

Suasana Malam Titik Nol, Kota Udine

Di malam yang tenang itu, ku lihat beberapa orang berkumpul hanya untuk duduk santai ngobrol. Tenguk-tenguk saja. Hal yang menurutku sangat langka untuk ukuran manusia modern pada umumnya yang sangat sibuk, hanya menghabiskan waktu untuk tenguk-tenguk saja. Aku jadi teringat orang-orang desa jaman dulu, ketika belum banyak orang desa yang memiliki TV seperti sekarang, setelah isyak mereka sering berkumpul, tenguk-tenguk ngobrol gayeng dengan beberapa tetangga di emperan rumah sampai malam telah larut.

Setelah berjam-jam duduk-duduk, aku pun beranjak ke sudut lain dari kota itu. Menyusuri jalan-jalan sempit. Rupanya di sebuah square, di sudut kota yang lain ramai orang-orang minum-minum di meja-meja kafe. Lalu di sebelahnya, ada sebuah konser musik jalanan yang penuh dikerumunin anak-anak muda. Mereka terlihat begitu bahagia, bernyanyi setengah berteriak, sambil tubuhnya menari-nari mengikuti dentuman suara musik. Begitulah mereka menikmati kehidupan mereka.

Prostitusi di Kota Udine

Ada satu lagi yang mengejutkan dari kota ini, yaitu keberadaan kupu-kupu malam. Waktu aku menyusuri jalan-jalan yang sudah sepi itu, ternyata banyak kupu-kupu malam berkeliaran. Mereka mangkal di pinggir-pinggir jalan itu, sambil tangan dan lirikan matanya memberi kode pada mobil atau orang yang lewat sama persis modusnya dengan kupu-kupu malam di Indonesia. Pantas saja, banyak aku temukan ATM kondom di beberapa sudut kota. Sepanjang malam itu, aku ketemu tiga jenis kupu-kupu malam. Cewek Italia beneran, Waria Italia, dan Cewek item seksi. Heran saja, diantara perempuan Italia yang cantik sempurna, masih ada juga PSK Waria dan cewek item. Tapi bisa jadi juga karena kebanyakan yang cantik, yang  aneh justru menjadi istimewa.

Makanan di Italia

Selama 4 hari Udine, aku mendapatkan sarapan gratis dari hotel, dengan menu standard british breakfast. Roti, Cake, dan Biscuit yang jumlahnya sangat melimpah ruah. Lengkap dengan buah-buahan, beraneka jus buah, teh dan kopi. Yang menarik, khusus untuk kopi dilayani secara khusus oleh pelayan. Tidak satu cangkir, tapi kita diberi satu teko kopi dan susu untuk seorang.

udine_13

Jalan Menuju Castle

Siang hari aku makan siang di tempat seminar dengan berbagai macam makanan khas Italia yang aneh menurut saya dan tak satupun yang aku ingat namanya. Yang jelas hampir semua rasanya asin dan tidak ada yang namanya nasi ataupun kentang. Tidak ada pula menu-menu seperti restoran Italia di Indonesia seperti Pizza, dkk. Satu-satunya yang mendekati makanan asia adalah, nasi yang dimasak setengah matang dimasukkan dalam botol.

udine_14

Pemandangan dari Atas Castle

Sementara untuk makan malam, kami ditraktir sama panitia makan malam di restoran. Makan malam di hari pertama, kami makan di restoran Pizza bakar. Rupanya pizza bakar ini wujudnya jauh dari pizza yang biasa kita temui di Indonesia. Sebaliknya, pizza bakar ini malah lebih mirip roti nan nya orang Arab.

udine_15

Makan Malam ala Venetian Banquet

Makan malam hari kedua yang paling berkesan yaitu Venetian Banquet di Udine Castle. Kami naik di atas Castle, dan begitu sampai diatas, kami langsung dilayani bagai tamu penting keluarga istana, dari sore hingga tengah malam. Begitu sampai kami langsung disambut dengan gelas kosong. Para pelayan kemudian sibuk menuangkan anggur merah dan anggur putih sebagai pembuka. Dan aku hanya bisa menikmati air putih saja sampai klempoken.

udine_16

Daftar semua menu yang dihidangkan untuk kami

Lalu ada makanan pembuka, berupa irisan melon yang dibungkus dengan irisan tipis daging babi, dan roti kering berbentuk lonjong yang juga dibalut dengan irisan tipis daging babi. Untung ada menu yang ketiga, udang kecil-kecil yang digoreng kering. Alamak, enak, gurih sekali, meskipun agak kasinan sedikit. Saya jadi ingat udang-udang dari kali setail di belakang rumah ku tempoe dulu.

Setelah hari menjadi gelap, kami masuk ke dalam ruangan, mengelilingi meja-meja bundar besar bertaplak putih. Mirip seperti formal dinner di Inggris, ada makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Aku mendapat menu istimewa, yaitu menu vegetarian. Sebagai menu pembuka, aku mendapatkan bubur dengan daun-daun hijau di atasnya. Sementara teman yang lain ada lobster di atasnya. Alamak, kalau lobster mah aku juga mau. Ndelalah, teman sebelahku yang orang singapore itu alergi udang. Berpindahlah lobster-lobster itu di piring ku. Haha, ini mah Vegetarian abal-abal namanaya.

Untuk menu utama, sudah aku duga, seperti sebelum-sebelumnya di tempat lain, menu untuk vegetarian itu bisa dipastikan olahan jamur. Ya bubur, dicampur dengan jamur, yang rasanya tidak enak banget Men. Sementara yang lain terlihat begitu lahap menikmati potongan-potongan daging babi yang besar-besar itu.

Setelah makanan utama, berbotol-botol anggur merah dan anggur putih di drop di masing-masing meja. Mereka minum dan terus minum sambil mengobrol sampai teller. Diiringi musik, yang mirip irama padang pasir. Rupanya musik Italia ini dipengaruhi musik Arab. Sementara diriku, hanya klempoken dengan air putih saja. Tak tahan dengan bau alkohol yang semakin menyengat, aku bersama teman ku yang orang Singapore yang ndelalah meskipun non-muslim tapi juga tidak minum undur diri, tanpa menunggu makanan penutup dihidangkan. Daripada menjadi penonton orang mabuk, rasanya lebih menguntungkan tidur nyenyak di hotel, hehe.

Yah, setiap orang berhak mendefinisikan kebahagianya sendiri-sendiri bukan?

Related Post: