Pasar: Ketika Belanja Tidak Sekedar Belanja

“ …. yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen durung oleh pituduh (hidayah) saka gusti Allah” – Sunan Kalijogo

 

festival_sungai_trent_5

Jajanan Pasar ala Inggris, Nottingham

Roda kehidupan terus saja cepat berputar, melukis kenangan dalam alam pikiran, menggoreskan kesan dalam kedalaman jiwa, menepis sejumlah keraguan, menjawab segenap tanda tanya, untuk kembali menggantungkan sejumlah tanda tanya yang baru. Musim bergilir, panggung kehidupan pun berganti pelakon  dan cerita. Ada yang datang, ada yang pergi, silih berganti.

Setelah sehari sebelumnya hujan deras mengguyur kota ku, siang hingga malam. Hari ini, Minggu pagi, cuaca di kota ku cerah sekali. Langit membiru sempurna, tanpa segumpal awan pun menghalangi sinar mentari pagi yang menggantung di salah satu sudut cakrawala. Hanya saja, angin musim gugur yang berhembus kencang membuat udara terasa cukup dingin.

Di dalam double decker bus no. 44  yang mengantarkan ku, dari city centre-colwick carboot, aku larut dalam pikiran ku sendiri. Teringat beberapa teman bertukar seulas senyum, beradu tawa, yang dulu biasa bersama di bus ini, kini entah dimana mereka melanjutkan babak baru kehidupanya masing-masing. Sungguh, persinggungan ruang dan waktu yang sama di kota ini adalah kenangan yang tak mudah untuk terlupakan.

Di dalam bus, aku bertemu dengan beberapa wajah-wajah baru. Teman-teman dari Indonesia yang akan memulai studinya di kota ini. Berkat beasiswa LPDP, ada ratusan anak-anak muda Indonesia yang bisa melanjutkan sekolah kembali di kota ini. Bangga rasanya, melihat wajah-wajah pribumi itu tersenyum bahagia, berdiri tegak, sejajar dengan bangsa-bangsa Eropa lainya. Dulu saat pertama kali menginjakkan di kota ini, hanya ada beberapa segelintir wajah-wajah pribumi yang bisa dihitung dengan jari.

**

Selalu ada kebahagian tersendiri yang terselip di setiap berada di Carboot-pasar loak ini. Bukan sekedar mendapatkan barang-barang murah, tetapi sekedar bisa merasakan denyut kehidupan orang Inggris lah yang memantik kebahagiaan itu. Melihat mereka saling bertegur sapa dengan logat britishnya yang kental dan khas, proses tawar-menawar barang dagangan mereka,  meninggalkan kesan tersendiri.

Hari ini kami bertemu dengan sepasang kakek dan nenek, yang rambutnya sudah memutih. Awalnya mereka menawarkan buku anak-anak 30 pences (£0.3) per buku. Setelah beberapa jenak proses tawar-menawar, atas kebaikan mereka, satu set buku anak-anak berjumlah sekitar 50 buku itu diberikan hanya dengan harga £2. Mereka pun menawarkan box, serta menawarkan untuk menitipkan buku-bukut itu di mobil mereka, hingga kami selesai berbelanja. Satu lagi yang berkesan, nenek-nenek Inggris itu selalu memanggil kami dengan sapaan` Darling’. Seperti buah kelapa, semakin tua semakin banyak santanya. Kearifan hidup bertambah seiring bertambahnya usia. Karenanya, dekat dengan orang-orang sepuh itu selalu menyenangkan dan menentramkan jiwa.

Siang itu, setelah pasar hampir saja usai, kami duduk-duduk jagongan di bangku-bangku taman yang berjajar di pinggir lokasi pasar carboot. Karena kebetulan kami semua orang Jawa khususnya jalur sumber kencono, i.e. Surabaya-Solo-Yogya, jagongan itu terasa sangat gayeng karena bisa ngobrol dan guyonan dengan bahasa Jawa. Hwa haha….  haha. Rasanya aku sudah lama dan kangen suasana guyonan khas ala warung kopi, warung gresikan, angkringan itu.

**

Entahlah, buat ku berbelanja di Pasar Carboot ini selalu mengesankan,  di tengah peradaban manusia modern di benua Eropa ini. Saat gaya orang-orang berbelanja sudah berubah dari belanja di pasar tradisional ke mall-mall, super market, dan belakangan dengan gencarnya promosi belanja online beli sayur pun cukup hanya dengan beberapa klik di depan layar komputer, tablet, atau telepon pintar saja. Tak ada tawar-menawar, tatap muka pun tidak perlu. Kebudayaan manusia-manusia modern yang serba sibuk memang harus serba cepat, efektif, efisien, dan praktis. Time is money, begitu katanya.

Hanya saja hidup di tengah-tengah peradaban manusia modern seperti ini, terkadang membuat keresahan-keresahan kecil dalam jiwa kemanusian ku. Jika hidup terus seperti demikian, apa bedanya manusia dengan robot-robot dan hewan-hewan pintar itu?

Itulah sebabnya mungkin aku senang berada di pasar carboot ini. Belanja tidak sekedar belanja, tetapi adanya interaksi sosial yang menjadi nilainya. Dan interaksi sosial itulah kebutuhan dasar jiwa-jiwa kemanusiaan itu.

Mungkin karena alasan itu pulalah, beberapa pasar tradisional yang telah berusia ratusan tahun masih dipertahankan hampir di setiap kota di Inggris ini. Di kota ku, Nottingham, masih ada pasar tradisional di lantai dua mall terbesar dan termegah tepat di tengah-tengah kota. Cukup terkenal di antara orang-orang Indonesia untuk membeli kepala ikan salmon murah meriah yang sedap sekali dibikin sup itu (maklum kalau beli dagingnya mahal bingit :p).

Beberapa pasar besar tradisional yang menyejarah yang pernah saya kunjungi di Inggris di antarnya adalah Bullring Market yang ada sejak 1154 di tengah-tengah kota Birmingham, Covered Market di tengah-tengah kota Oxford yang sudah ada sejak 1774, serta Kirkgate Market di pusat kota Leed yang sudah ada sejak 1822 dan konon saat ini adalah covered market terbesar di Eropa. Di pasar-pasar tradisional ini, sampean bisa merasakan suasana pasar dan kehangatan orang-orang Inggris klasik tempo dulu. Bahkan tukang sol sepatu, tukang service jam pun masih bisa ditemui di Kirkgate Market.

Rasanya adalah kesalahan besar, jika di kota-kota besar di Indonesia, pasar-pasar tradisional digusur,  digantikan mall-mall megah begitu saja. Nyatanya, di Inggris, pasar-pasar tradisional masih dipertahankan tepat di tengah-tengah kota. Di tengah-tengah peradaban manusia modern pun, pasar tradisional masih menemukan pelanggan nya sendiri. Khususnya buat mereka yang percaya bahwa pasar bukanlah sekedar tempat berbelanja, tapi tempat berinteraksi sosial yang menyenangkan. Khususnya buat mereka yang masih utuh jiwa-jiwa kemanusianya, belum menjadi manusia yang jiwanya separuh robot. Jika sampean berkunjung ke Inggris, agar bisa merasakan denyut kehidupan orang-orang British, datanglah ke pasar-pasar tradisional ini kawan. Jika tidak, mungkin tak jauh bedanya dengan berada diantara pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta atau Surabaya kawan.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s