Satu Hari di Kota Venezia

… sekedar catatan perjalanan biasa saja – a random thought

venice_01

Salah satu sudut canal terbesar di kota Venezia, Italia

Huff, apa pun jenjang pendidikanya, tahun terakhir, apalagi bulan-bulan terakhir selalu menjadi waktu yang terberat. Apalagi yang namanya jenjang pendidikan PhD, wuih bikin pusing pala barbie kata salah seorang teman seperjuangan. Perpaduan antara pusing, depresi, jenuh, bosan, tertekan, kekhawatiran dan sedikit harapan. Saya sebenarnya suka menulis apa saja, but I do hate writing my dissertation so badly. Terlalu lebay kedengaranya,  tetapi saya haqul yakin sampean akan mengamininya jika sudah benar-benar mengalaminya sendiri.

Alhamdulilah, di antara hari-hari yang sangat tidak menyenangkan itu,  ndoro dosen ku mengirim ku ke Italia untuk presentasi di sebuah seminar internasional bidang riset ku. Beliau juga menyarankan untuk singgah ke kota Venice (oops yang orang Sunda bacanya jangan kenceng-kenceng), atau Venizia. Konon katanya, kota ini indah sekali. Syukur, bisa menjadi hiburan kecil di antara pahitnya penulisan disertasi yang tak kunjung usai.

Aku sebenarnya, sudah memendam keinginan untuk berkunjung di kota yang konon katanya kota paling romantis di dunia ini. Tapi ku redamkan niat itu dalam-dalam, melihat saldo tabungan yang terus berkurang tanpa ada pemasukan sekali. Maklum jatah kiriman beasiswa yang jumlahnya tak seberapa  dari pemerintah itu sudah habis, sementara masih harus bertahan hidup dengan anak istri untuk beberapa bulan kedepan. Benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang, meski sudah bertahun-tahun aku ndak punya yang namanya dompet dan ikat pinggang. Tetapi, biidznillah,  malah bisa datang di kota ini gratis, dibayari ndoro dosen ku.

Menginap di Bandara Birmingham

Jadwal keberangkatan pesawat ku dari bandara Birmingham, UK ke bandara Marco Polo, Venice, Italy jam 07.15 pagi. Tidak ada bus atau kereta dari Nottingham yang sampai di Birmingham sebelum jam sepagi itu. Kecuali taxi, yang tentu harganya sangat mahal. Meskipun ongkosnya bisa aku reimburse, aku lebih memilih menginap di Bandara Birmingham saja.

Aku naik bus National Express dari coach station Nottingham pukul 19.00 dan baru sampai di coach station Birmingham pukul 22.30. Molor satu jam, dari jadwal karena ada insiden sopirnya nyasar di perkampungan. Hal sangat aneh dan langka terjadi di negara ini, dimana jadwal bus tak kalah tepat waktu dengan jadwal pesawat. Tapi, hal-hal yang tak terduga pun bisa saja terjadi. Manusia tak bisa sepenuhnya mengatur peristiwa kehidupan.

Di coach station Birmingham, mas Iwan, seorang teman satu pesawat dari Jakarta saat pertama kali berangkat ke UK dulu, sudah menunggu ku sejak lama. Kami langsung beranjak dari coach station, mencari warung kopi atau warung ayam goreng. Tetapi rupanya, jam segitu warung makanan sudah pada tutup kecuali Bar. Untungnya, kami masih menemukan warung kebab yang masih buka, tepat di seberang jalan coach station. Kami tidak memesan kebab, tapi memilih nasi briani. Harganya cukup terjangkau, bahkan cukup murah untuk ukuran kota sebesar Birmingham. Nasi briani, kari ayam, dan sebotol pepsi hanya £6.5. Apalagi, ciri khas warung timur tengah, porsinya tiga kali lipat porsi orang Indonesia.

Kami menikmati nasi briani ditambah kripik tempe bikinan istriku sambil ngobrol, curhat lebih tepatnya, tentang penderitaan kami sebagai mahasiswa PhD yang belum juga berkesudahan. Juga cerita teman-teman seperjuangan yang lain. Ada yang sudah berjuang mati-matian empat tahun lebih, eh berakahir dengan kegagalan. Huh, aku tidak suka mendengar cerita-cerita seperti itu seperti itu. Karena hanya membuat hati ku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran. Kami menyudahi obrolan pukul 23.30, dan masih menyisakan sisa-sia makanan. Maksud hati tak ingin berbuat mubadzir,  tetapi apa daya perut rasanya sudah mau meledak. Alhamdulilah, mas Iwan menraktir ku malam itu. Mas Iwan kembali ke rumah, sementara aku kembali ke coach station menunggu bus yang berangkat ke Bandara Birmingham pukul 23.50.

Aku tiba di bandara pukul 00.10, saat bandara sudah terlihat lengang. Terlihat beberapa backpaker yang tidur-tiduran di ruang tunggu bandara. Masuk bandara terminal keberangkatan, aku langsung menuju tempat khusus wudlu, di lantai satu sebelah counter check in nomer 1 (pesawat Monarch), lalu menuju ke multi-faith prayer room yang terletak di belakang counter chek in nomer 28 (pesawat Ryan Air) sebelah counter over-sized bagage.

Sesuai namanya, prayer room ini sebenarnya untuk semua agama, tetapi sepertinya hanya sering digunakan untuk sholat, termasuk untuk sholat jumat. Di dalamnya, ada banyak sajadah dan Alquran. Setelah sholat jamak, maghrib dan insyak, tilawah sebentar, aku rencana langsung tidur di prayer room itu. Tapi sialan, ada stiker berisi larangan tidur di dalam prayer room. Meskipun aku sendirian, tetap tidak berani tidur. Akhirnya, aku hanya mojok di salah satu sudut ruangan, tas ransel ku kujadikan sandaran duduk, lalu mengambil buku dari tas, dan kubaca sebuah novel anak-anak karya Roald Dahl, penulis buku anak-anak yang legendaris itu.

Entah berapa halaman yang berhasil aku baca, sebelum akhirnya tak sadar aku tertidur, dan baru terbangun saat ada seorang laki-laki, sepertinya petugas bandara, yang hendak sholat Subuh. Aku pun segera beranjak mengambil air wudlu dan kembali ke prayer room untuk sholat Subuh. Alhamdulilah, setelah sholat subuh dan tilawah, badan rasanya sudah segar sekali, meskipun hanya tertidur beberapa jam dalam posisi duduk. Berhasil sudah, acara tidur di bandara ketiga ku kali ini. Sebelumnya, aku pernah tidur di bandara LCCT Kuala lumpur Malaysia dan bandara Abu Dhabi.

Karena sudah chek in online, saya langsung menuju terminal keberangkatan. Sempat ada sedikit hambatan di tempat pemeriksaan x-ray. Di ransel ku ditemukan benda mencurigakan. Aku pun disuruh mengeluarkan semua isi ransel. Benda yang dicurgai itu ternyata hanyalah lontong bikinan istri ku. Aku meyakinkan kalau benda bulat-bulat putih itu hanyalah nasi yang direbus di dalam kantong plastik.

Ketika mau masuk pesawat pun, aku pun sempat tertahan cukup lama. Entah apa alasanya, petugas yang ngecek paspor itu, membawa paspor ku ngacir entah kemana cukup lama. Sepertinya dibawa ke manajernya. Sebelum akhirnya petugas itu kembali lagi dan mempersilahkan ku menuju lorong masuk ke dalam pesawat. Jangan-jangan, Ahmad, nama ku, termasuk nama yang dicurigai sebagai teroris.

Kota Venezia yang Tak Seindah Dalam Foto

venice_02

Pemandangan Di Awal Masuk Kota Venice

Pemandangan Italia dan sekitarnya dari udara sungguh menakjubkan. Deretan pegunungan Alpen dengan puncak-puncaknya yang putih tertutup salaju,  terlihat sangat cantik dari udara. Demikian juga pantai sekitar kota venice, dari udara subhanallah juga terlihat begitu mengagumkan. Bandara Marco Polo sendiri, terletak di pinggir pantai, seperti bandara Ngurah Rai, Bali.

venice_03

Pemandangan dari Jembatan depan stasiun kereta St. Lucia Venice

Pesawat mendarat tepat sesuai jadwal. Perjalanan dari bandara Birmingham ke bandara Marco Polo, Venice hanya sekitar 2.5 jam. Ohya, ada perbedaan waktu satu jam antara di Inggris dan Italia, dimana waktu di Italia, satu jam lebih cepat dari waktu di Inggris. Bandara Marco Polo ini bandara kecil nan sederhana, turun dari pesawat harus naik shuttle bus untuk masuk ke dalam bandara. Dari shuttle bus inilah, aku pertama kali melihat kata Uscita, yang dulu sempat dipopulerkan di Indonesia oleh Princess Syahrini. Yang artinya pintu keluar dan Uscite yang artinya Gate.

venice_11

Gondola menyusuri kanal

Kondisi dalam bandara Marco Polo biasa-biasa saja. Tak semegah yang aku bayangkan. Ada pembangunan disana-sini, membuat bandara kecil ini kesanya semrawut. Urusan imigrasi lancar jaya. Semua sign board dwi bahasa: bahasa Italia dan Inggris, sehingga tidak membuat bingung. Aku langsung keluar dari bandara, menuju halte bus ATVO jurusan Marco Polo Airport – Venezia Piazzale Roma, yang tiketnya sudah saya beli online disini. Sejenak terasa linglung, karena semua orang berbahasa Italia, termasuk sopir dan kondektur yang memeriksa tiket ku.

venice_10

Gondola dengan air laut yang biru kehijau-hijauan

Perjalanan naik bus dari bandara ke Venezia Piazzale Roma yang merupakan pintu gerbang masuk kota air Venice hanya sekitar 20 menit. Sekilas, jalan raya di Italia ini jauh lebih sempit dibanding jalan raya di Inggris yang lebar-lebar dan mulus. Antara Venice daratan dan Venice kepulauan atau kota air ini dihubungkan oleh jembatan Ponte della Libertà atau Liberty Bridge sepanjang 3.8 km, yang juga dilalui rel kereta api. Di jembatan ini, tersedia jalur khusus sepeda dan pejalan kaki.

venice_04

Bangunan usang di kota Air Venice

Di kota Venice kepulauan inilah kota yang kaya dengan catatan sejarah masa lalunya yang panjang, yang banyak dipuja-puji keindahanya, yang dijuluki kota paling romantis didunia itu berada. Turun dari bus, menginjakkan kaki di kota impian banyak orang ini kesan ku adalah puanas. Kontras dengan cuaca di Inggris yang hari-harinya didominasi suasana mendung, di kota ini cuacanya sangat cerah. Matahari begitu mentereng di tengah-tengah langit luas yang membiru sempurna tanpa seonggok gumpalan awan pun.

venice_05

Clock Tower yang sudah renta

Ramai sekali jumlah pengunjung yang memadati kota ini. Entah dari belahan bumi mana saja mereka berduyun-duyun di kota salah satu syurga dunia ini. Padahal sebenarnya, kota ini tidak indah-indah amat. Memang kalau difoto terlihat sangat cantik. Tapi aslinya didominasi bangunan-bangunan tua yang sudah usang. Terus yang katanya suasananya paling romantis, aku juga gagal paham, romantisnya dimana? Apakah pemandangan gondola-gondola itu? ataukah karena banyak yang ciuman di pinggir jalan. Padahal kota yang penuh sesak dengan bangunan-bangunan tua yang tinggi-tinggi yang sudah usang dan nyaris tanpa ada tetumbuhan, ditambah cuaca musim panas yang terik, menurut ku malah membuat kota ini tidak begitu nyaman untuk dinikmati.

venice_09

Sudut Lain kota Venice

Tapi mungkin itu hanya perasaan ku saja, yang sudah hampir tahun di Eropa dan masih pusing dengan disertasi yang ndak kelar-kelar. Lain cerita, jika yang sohibul hikayat adalah orang yang pertama kali jalan-jalan ke luar negeri dan memang sedang niat sepenuh hati untuk menikmati hidup.

venice_06

Piazza San Marco

Dari halte bus, aku menyeberangi jembatan menuju stasiun kereta api Venizia St Luzia yang menyatu dengan pusat perbelanjaan tidak jauh dari halte bus. Dari stasiun kereta menyebrang jembatan lagi, ke pulau lain, menyeberangi jembatan lagi, ke pulau baru lagi, entah tak terhitung jumlahnya. Venice kota di atas air ini adalah kepulauan yang terdiri dari 177 pulau kecil-kecil yang dipisahkan oleh 177 kanal dan dihubungkan oleh 409 kanal.

venice_07

Sudut lain Piazza San Marco

Setiap pulau penuh sesak dengan gedung-gedung tua yang usang, di dalam pulau hanya ada jalanan sempit yang hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Banyak bangunan bersejarah di pulau-pulau ini. Jika malas berjalan kaki, sampean bisa naik gondola yang menyusuri kanal-kanal sempit itu. Tapi harganya mahal sekali, paling murah 80 euro hanya untuk 40 menit.

venice_08

Arsitektur unik di Piazza San Marco

Aku hanya menyusuri jalan-jalan sempit itu, menyebrangi banyak jembatan sekuat tenaga. Hanya berbekal peta usang yang aku print out dari sini, aku coba datangi tempat-tempat paling penting di kota ini. Peta usang itu lumayan membantu, tapi tetap saja lebih seru kalau tersesat di kota air ini.

Selain bantuan peta yang tidak bisa sepenuhnya diandalkan itu, algoritma heuristik koloni semut tetap paling jitu. Ikuti saja, jalan yang banyak dilalui orang, disitu most likely akan membawa sampean ke tempat-tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan, alias tempat paling wajib dikunjungi dari kota ini.

venice_12

Rialto Bridge, Venice

Tidak menyangka, aku yang hanya berjalan sendirian tidak ada temanya, berhasil sampai pada semua tempat yang paling direkomendasikan untuk dikunjungi. Lega rasanya. Diantara tempat-tempat di Venice, tempat yang wajib dikunjungi nomor wahid adalah Piazza San Marco. Ini adalah tempat paling bagus menurut ku di kota Venice.  Di tempat ini paling banyak orang berkumpul, paling banyak juga terdapat museum dan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitekturnya yang khas. Sayang aku tak memiliki banyak waktu untuk menyusuri wisata sejarah di kota ini.

Ohya di antara jalanan sempit itu, biasanya dekat gereja, banyak terdapat banyak pengemis. Hampir semua pengemis ini perempuan berjilbab dengan membawa tasbih. Mirip para pengemis di makam-makam wali songo di Pulau Jawa. Awalnya, aku pikir mereka ini pasti muslim. Tapi ternyata, di gelas-gelas tempat menampung uang recehan itu terdapat foto-foto bunda maria yang membuat aku ragu apakah mereka itu muslim atau bukan.

Setelah berjam-jam menyusuri jalan dan jembatan sempit di tengah matahari yang sangat terik itu, aku gobyos kehausan. Untungnya, di samping salah satu jembatan ada yang jualan es serut dengan jus jeruk. Satu gelas kecil harganya 2 Euro. Masya Allah, rasanya nikmat sekali. Sudah lama sekali rasanya tidak merasakan nikmatnya es serut. Seperti di padang pasir lalu menemukan oase. Nikmatnya buka puasa di musim panas yang 20 jam lebih saja tidak ada apa-apanya.

Untuk ngadem aku akhirnya memutuskan masuk ke salah gereja katedral dari banyak sekali gereja di kota ini. Altar gereja yang begitu luas dan banyak bangku kosong di dalamnya, membuat nyaman dan adem untuk istirahat. Maklum di kota ini nyaris tidak ada bangku untuk tempat duduk-duduk dengan hamparan rerumputan yang menghijau dan bunga-bunga yang cantik. Jadi rasanya, menyusuri kota ini capek sekali rasanya.

Di dalam gereja, aku memotret beberapa sudut interior ruangan yang megah dan artistik itu. Konon pada zamanya, gereja-gereja ini pernah menjadi tempat sangat penting. Mendapat jatah anggaran dari negara, bahkan banyak orang menyerahkan hartanya begitu saja untuk gereja for the sake of God. Maklumlah, jika interior gereja-gereja ini begitu megah dan indah. Tapi sayang, bangunan megah itu kini tak ubahnya sebuah museum saja. Aku kadang berfikir, akankah masjid-masjid megah tapi sepi jamaah bernasib sama dengan gereja-gereja ini?

Setelah bosan dengan pesona kota Venezia yang ternyata seperti itu saja, aku kembali ke depan stasiun St Luzia. Hanya duduk-duduk berjam-jam di pelataran halaman berundak di depan stasiun yang sangat luas, dengan pemandangan Grand Canal. Sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di tepi sungai. Rasanya memperhatikan bentuk dan rupa makhluk Gusti Allah yang nyaris sempurna keindahanya itu lebih mengasyikkan daripada memperhatikan bangunan-bangunan tua usang yang hanya membisu itu. Benar kata orang, bule Italia itu secara fisik paling keren dibanding bule Eropa lainya. Subhanallah waastaghfirullahal adziim. 

Aku duduk di pelataran depan stasiun itu, hanya berdiskusi dengan diriku sendiri dalam alam pikiran ku sendiri, hingga waktu merapat pukul 19.31 saat kereta yang akan membawa ku ke stasiun Venizia Mestre tiba. Untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke kota Udine.  Selamat tinggal Venizia, rasanya cukup sekali saja datang ke kota mu ini. Sepertinya lebih banyak tempat di negeri ku yang lebih cantik dan menarik dari kota mu ini, meskipun tentu saja tak seterkenal dirimu.

Related Post

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s