Hujan Pergantian Musim

sekedar puisi-puisian tentang hujan  – a random thought

dsc_1030

Ilustrasi: Lukisan Hujan

Pagi masih perawan di akhir pekan,
hujan gerimis turun perlahan.
Suara gemericiknya mengiring kesunyian.
Di kota ku yang masih dalam dekapan fajar.

Aku baru saja usai dari persembahyangan,
merapalkan dzikir puji-pujian untuk Tuhan
dan baris-baris do’a keselamatan,
do’a kebahagiaan, serta do’a keberkahan dalam kehidupan.
Saat kebanyakan orang-orang masih tak ingin beranjak
dari pelukan selimut malam dalam kehangatan.

Hati menuntun ku untuk duduk di kursi biru, menghadap jendela kaca
di kamar lantai dua rumah ku.
Ku buka jendela sedikit saja, lalu kulakukan kegemeranku:
Menikmati hujan.

Menatap hujan gerimis turun dari langit,
membentur kaca jendela rumah ku,
membentuk lukisan hujan.
Mendengar suara hujan menumbuk jalanan
beraspal di depan rumah ku.
Tek, tek, tek, tek, tek, …

Gerimis yang panjang menandai pergantian musim,
seolah bertutur selamat tinggal sampai berjumpa kembali
untuk musim panas, dan ucapan selamat datang untuk musim gugur.

Musim terus berganti menurut kehendak hukum alam,
seperti itu pula takdir perjalanan hidup manusia.
Latar panggung kehidupan akan terus berganti,
dengan segala ketidakpastian masa depan yang selalu menyimpan misteri.

Dalam setiap pergantian,
selalu ada setumpuk harapan,
Beriring dengan keraguan, kegelisahan, dan ketakutan-ketakutan.
Argh, bukan kah hidup hanya sekedar menjalani?
Jadi kenapa harus takut?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s