Weird Dream Anak Lanang

… setiap momentum hidup adalah peristiwa yang tidak akan pernah ada duanya – a random thought

anak_lanang_weird_dream_2

Ilustrasi: Under Cherry Blossom, University Park, Nottingham

ooo, so people in Indonesia called it Ikan, haha” kata anak lanang setengah tertawa setelah mengetahui bahasa indonesia dari fish. Anak lanang yang kosa kata bahasa Indonesia nya tidak banyak itu, sering bertanya how to called it in Indonesia. Seperti pagi itu, ketika anak lanang minta disuapi makan nasi, lauknya sambel goreng tahu dan ikan laut, di sofa dekat pintu masuk rumah.

Kata orang Jawa, makan sambil ngomong itu tidak elok, alias tidak baik. Bisa keseleg. Tapi tidak halnya dengan anak lanang. Bocah ini mulutnya ndak bisa diam, selalu ceriwis, ngoceh sana sini.

Tetapi diam-diam aku menikmati momentum seperti ini. Belajar menjadi pendengar yang baik buat anak lanang. Yang dari hari-kehari semakin pintar mengungkapkan alam pikiranya dalam dunia kata-kata. Aku begitu mengagumi logat Britishnya yang terdengar sangat alamiah, karena lidah ku yang sudah kebacut designated for bahasa Jawa ini tentu tidak bisa menirukanya dengan sempurna.

Setelah mengunyah sesuap nasi dan hening sejenak, tiba-tiba dengan air muka cukup serius, anak lanang mengajukan sebuah pertanyaan kepada ku: ” Ayah, have you ever got a weird dream?”  “What, a weird dream? ” tanya ku mengkonfirmasi. “W E  I R D DREAM” kata anak lanang pelan. “What about you?” aku balik bertanya.

Anak lanang pun dengan serius bercerita panjang lebar tentang sebuah mimpi yang dialaminya panjang lebar. Aku hanya diam menyimak, mencoba menjadi pendengar terbaik untuknya. Sesekali mengagumi kosakata yang dia gunakan, dan cara dia mengungkap ceritanya yang begitu ekpresif dan apik. Tentang dia yang terdampar di negeri antah berantah, sendirian, dan bla-bla. “… finally, I back home at the house number 46 and I found one ayah with two Bundas sholat in the living room“, begitu anak lanang mengakhiri cerita weird dream nya.

Aku pun hanya bengong sendiri apa maksud kalimat yang terakhir itu. Masak saya punya dua istri? hahaha, ada-ada saja anak lanang satu ini. Tetapi, apapun ceritanya, setiap momentum menjadi pendengar yang baik buat anak lanang adalah momentum yang selalu saya syukuri. Sebelum suatu saat nanti, dia lebih memilih orang lain sebagai pendengar terbaik dalam kehidupanya.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s