London Sebelum London

… rupanya, kita hanya mengulang-ngulang sejarah. Argh, bodoh sekali mereka yang tidak belajar dari sejarah apalagi sengaja melupakan sejarah – A Random Thought

museum_london

Museum of London

Kata para penikmat perjalanan, tak soal sudah berapa kali sampean melakukan perjalanan di tempat yang sama, perjalanan selalu mengajarkan hal baru. Apalagi, jika tempat itu bernama London. Seolah tak pernah cukup waktu menelusuri sudut-sudut kota state-of-the-art peradaban manusia ini. A week is never enough in London.

Tetapi, memang tak akan pernah ada yang lebih menggairahkan dari perjalanan yang pertama. Yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya menjadi semakin biasa-biasa saja. Sungguh, kengggumunan itu ternyata indah sekali.

Seperti hari itu, entah sudah keberapa kalinya aku menginjakkan di kota ini. Rasanya kota ini tidak menarik lagi. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Tempat yang dulu pertama kali kulihat begitu sangat menakjubkan, yang pernah membuat hatiku begitu amat bergairah seperti bocah kecil mendapatkan mainan baru yang telah lama diimpikanya itu, hari itu terlihat sangat biasa-biasa saja. Rupanya, sejatinya kebahagiaan bukanlah tentang seperti apa yang terlihat, dan terdengar, tetapi kebahagian adalah semua hal ihwal tentang rasa.

Hari itu pagi sekali, sebelum menyelesiakan sebuah urusan, aku sendirian menyusuri sudut lain dari kota ini. Menyusuri tempat-tempat yang tidak aku rencanakan untuk aku kunjungi sebelumnya. Berjam-jam aku berada di dalam Museum of London, salah satu dari banyak sekali museum-museum besar di kota ini. Di museum itu, alam pikiranku terbawa dalam suasana kota London dari masa ke masa, dari jaman ke jaman, dari jaman pra-sejarah hingga London ultra-modern yang seperti kita lihat seperti sekarang. Lalu, kaki ku membawa ku mengelilingi gereja Santo Paulus, salah satu landmark bangunan bersejarah di kota ini.

Lalu, setelah sebuah urusan selesai aku sengaja menghabiskan sisa-sisa waktu hari itu, untuk menyusuri kembali tempat-tempat yang sama, tempat-tempat yang aku kunjungi saat pertama kali menginjakan kaki di kota ini, hampir 4 tahun yang lalu. Hitung-hitung, sebagai kunjungan perpisahan sebelum aku kembali ke tanah air bisik hati ku.

big_ben

Bigben, London

Tempat pertama yang aku datangi kembali untuk kesekian kalinya adalah gedung parlemen westminster dengan menara bigben nya. Menara jam, icon kota London. Belum ke London kalau belum selfie dengan latar belakang menara ini. Aku tatap dalam-dalam kembali menara ini. Entahlah, rasanya menara ini tidak menarik lagi. Biasa-biasa saja. Gedung parlemen wesminster yang gotic itu pun juga terlihat biasa-biasa saja. Beberapa sudut gedung yang sedang direnovasi membuat gedung ini semakin tidak menarik. Padahal, rasanya dulu aku ingin teriak histeris saking senengnya pertama kali sampai di tempat ini.

Aku berjalan di antara kerumunan turis yang menyemut di atas jembatan sungai thames tidak jauh dari gedung parlemen itu. Ingin merasakan aura kebahagian para turis yang sedang berselfie ria dengan latar belakang Bigben atau London eye di seberang sungai. Dari air muka kebahagiaan mereka, aku yakin mereka sepertinya sebagian besar baru pertama kali berada di tempat ini. Di jembatan yang padat para turis itu, ada dua pengamen khas skotlandia, lelaki pakai rok, dengan alat musik terompet khas Skotlandia, yang juga tak kalah menarik perhatian para turis. Sebagai salah satu kota yang paling kosmopolit di dunia, berada di antara kerumunan orang-orang  dari berbagai bangsa di kota ini adalah suasana yang sangat menyenangkan.

london_eye

London Eye By Thames River

Setelah  dari ujung keujung sungai, aku melipir  ke sepanjang jalan setapak pinggir sungai Thame sebelum kemudian duduk sendirian di salah satu bangku kosong di pinggir sungai thame. Tempat duduk yang nyaman dengan view aliran sungai thame dengan London eye di ujungnya, serta gedung-gedung pencakar langit di kota ini. Air sungai Thame hari itu tidak sejernih seperti biasanya, tetapi berwarna kecoklatan, mungkin semalam barusan turun hujan. Beberapa kapal wisata siap diberangkatkan, mengangkut para turis yang mengantri panjang untuk kelililing menyusuri kota dengan kapal wisata itu. Gerombolan burung camar yang terbang berputar-putar di atas aliran sungai, lalu hinggap berderet deret di atap kapal lebih menarik perhatianku.

Setalah bosan mataku menyapu pemandangan setiap sudut kota, aku mengambil sebuah buku novel dari tas ku. Niat hati ingin menghabiskan sisa-sisa hari itu dengan khusuk membaca buku sendirian, dalam buaian angin sungai yang semilir, hingga senja tenggelam di balik cakrawala. Sialan sepasang muda-mudi yang sedang horni bercumbu di pinggir sungai, tepat di depan tempat duduk ku. Hilang sudah konsentrasi ku.

Pandangan ku beralih ke gedung-gedung megah dengan aristektur klasik dan arsitektur futuristic yang berselang seling.  Yang seolah berpesan bahwa kota ini tak akan pernah bisa terlepas dari sejarah masa lalunya yang sangat panjang. Jas merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah, sebagaimana pernah dipesankan Bung Karno.

Sejenak kemudian, aku pun larut dalam alam pikiran ku sendiri. Siapa sangka kota semegah ini pernah menjadi jajahan bangsa-bangsa. Bangsa Romawi, Angl0-Saxon, Viking, Norman, pernah menjarah dan menumpahkan darah. Di kota ini juga pernah terjadi perang saudara yang berdarah-darah, bahkan leher rajanya sendiri pun pernah dipenggal oleh rakyatnya sendiri. Kota ini pun pernah nyaris musnah, ketika kebakaran hebat menghangus 4/5 dari kota ini. Bahkan, penduduknya pun nyaris punah, ketiga wabah pageblug begitu mudahnya menghilangkan nyawa secara masal penghuni kota ini.

Permasalahan hidup yang kompleks nan rumit pun pernah mendera kota ini. Ketika agama berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kekuasaan menciptakan tirani. Atas nama ayat-ayat kitab suci, musik, pementasan teater William shakesphere pernah diharamkan di kota ini. Orang-orang yang memahami ayat Tuhan sedikit berbeda, dibunuhi dan diusir dari kota ini. Sungguh, beberapa abad yang lalu, kota ini pernah dalam kondisi serupa dengan kota Aleppo di Syria.

Sebelum akhirnya abad pencerahan itu datang. Dan dari kota ini, ekonomi dan martabat banyak bangsa-bangsa dikendalikan. Sampai hari ini, di kota ini banyak bangsa-bangsa berdatangan. Dari sekedar jalan-jalan, berbisnis, menuntut ilmu di ibu kota mbahnya kapitalis ini. Entah sampai kapan?

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s