Satu Pagi di Hari Raya

Masihkah ada yang merasa rendah diri, merasa kurang sempurna keislamanya hanya karena pakaian yang dikenakanya tidak sama persis dengan pakaian yang dipakai oleh orang-orang dari kota kelahiran Sang Pembawa Risalah? – a random thought

suasana_lebaran_idulfitri_nott

Ilustrasi: Setelah Khutbah Hari Raya, Sport Centere, Jubilee Campus, Nottingham

Rabu, 06/07/2016

Hari masih pagi perawan menebar hawa musim panas yang segar, saat kulihat jam dinding di rumahku menunjuk pukul 07.00. Beberapa jenak sebelum aku, anak lanang ku dan emaknya keluar rumah, berjalan setengah berlari-lari kecil menuju kampus Jubilee, Universitas Nottingham. Jalan menuju kampus pagi itu tak seperti biasanya yang lengang nan sepi, karena masa perkuliahan semester musim semi sudah berakhir lebih sebulan yang lalu.

Di jalan menuju gerbang utama kampus, para securiy kampus berpakaian hitam berompi hijau muda terlihat begitu sangat sibuk mengatur mobil-mobil yang mengantri memasuki area parkir darurat, di samping gedung asrama mahasiswa yang sudah lama tidak difungsikan itu. Orang-orang, perempuan, lelaki, dewasa, remaja, dan bocah-bocah berduyun-duyun berjalan menuju satu titik yang sama: gedung pusat olahraga.

Senyum manis dua orang remaja menyapa kami di meja reception gedung itu, mempersilahkan kami memasuki dua pintu masuk yang berbeda, satu pintu untuk perempuan satu pintu lagi untuk lelaki. Dua lapangan basket dalam gedung itu, pagi itu disulap menjadi tempat sembahyang. Shaf-shaf dari tikar kertas berderet deret menghadap salah satu sudut pojok ruangan gedung. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd”. Suara takbir menggema, menggetarkan dinding-dinding ruangan, menggetarkan hati-hati orang yang memekikkanya.

Jenak demi jenak waktu terus berdetak. Orang-orang mulai berjejalan, duduk bersimpuh memenuhi setiap sudut ruangan. Wajah-wajah cerah, senyum-senyum penuh ketulusan, memenuhi setiap ruang dalam gedung itu. Hatiku selalu terharu menyaksikan orang-orang yang berbeda berkumpul, saling menebar kedamaian di tempat yang sama. Ada yang berkulit putih bersih, kuning pucat, kuning kemerah-merahan, kuning langsap, coklat, hitam, hitam sangat legam, atau berwarna seperti sawo bosok yang perpaduan putih coklat dan hitam seperti kulit ku.

Ada yang berpakaian necis, seperti orang-orang kantoran lengkap dengan dasi dan jas yang sangat rapi. Ada yang yang memakai sarung dan kain samping. Ada yang memakai baju terusan seperti daster serba putih atau berwarna-warni. Ada yang memakai baju panjang dan bercelana longgar ala negara Asia selatan. Dan berbagai jenis rupa pakaian yang aku tak bisa menyebutnya satu persatu. Penutup kepala mereka pun bermacam-macam, ada yang memakai kain putih polos diikat di kepala, atau kain putih bermotif garis-garis merah membentuk kotak-kotak dengan ikat kepala berwarna hitam di atasnya. Ada juga yang berpeci hitam, atau peci ala Paus berwarna putih dan warna-warni lainya.

Pagi itu, di ruangan itu, setiap orang seolah ingin menunjukkan identitas bangsanya masing-masing. Yang dari Asia timur, Asia tenggara, Asia tengah, Timur tengah, Turki, Eropa, maupun Afrika seolah ingin menunjukkan pakaian kebanggaan nasionalnya masing-masing. Meski berpakaian yang berbeda, tetapi mereka semua sama, sama-sama orang Muslim. Tetapi mereka sama, dari wajah mereka terpancar wajah-wajah penuh kedamaian.

Hati kecil ku bertanya: Masih adakah yang merasa lebih muslim dari muslimnya? Masihkah ada mengeklaim bajunya lebih muslim dari baju lainya? Masihkah ada yang merasa rendah diri, merasa kurang sempurna keislamanya hanya karena pakaian yang dikenakanya tidak sama persis dengan pakaian yang dipakai oleh orang-orang dari kota kelahiran Sang Pembawa Risalah? Bukankah, Tuhan hanya melihat yang tersembunyi di balik hati kita? Bukankah, Tuhan tak sebodoh kita yang mudah tertipu oleh yang tertangkap panca indera kita?

Pukul 07.30, saat ruangan benar-benar sudah penuh, sholat hari raya segera akan dimulai. Beberapa orang tak bosan-bosan mengingatkan orang-orang yang hadir yang belum membayar zakat fitrah untuk segera membayarnya sebelum sholat dimulai sambil mengedarkan ember kecil ke setiap sudut ruangan. Beberapa orang terlihat bergegas memasukkan recehan beberapa poundsterling (4 poundsterling per orang) ke dalam ember kecil itu. Sholat pun dimulai, suara Sang Imam menggema menggetarkan seluruh sudut ruangan, para makmum dengan khusyuk mendengarkan suara bacaan sang Imam. Hanya saja, suara tangis bocah-bocah kecil dari jamaah perempuan sedikit mengganggu.

Sejenak, setelah sholat dua rakaat usai. Brother Sudjahat, seperti tahun-tahun sebelumnya, pegawai city council itu memberikan ceramahnya penuh semangat dan berapi-api, walaupun speakaer yang tiba-tiba sering mati itu terasa sedikit mengganggu. Dalam ceramahnya, Brother Sudjahat mengutuk tindakan para pelaku bom bunuh diri yang sudah nekat hingga di kota Madinah ini. Alih-alih membela Islam, tindakan itu justru sangat memperburuk citra Islam. Islam bisa tersebar sampai ke Indonesia, Malaysia dan seluruh penjuru dunia lainya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cara-cara yang penuh kedamaian.

Saat ceramah berlangsung, di antara para jamaah tidak sedikit yang mengeluarkan smartphone nya. Cekrek, sesaat kemudian pun sejumlah foto selfie bertebaran lewat facebook, twitter, instagram, dll. ke seluruh penjuru dunia dari ruangan itu. Beberapa bocah lelaki berwajah manis penuh senyum berkeliling dari shaf ke shaf, membagikan coklat dan permen gratis kepada setiap para jamaah.

Pukul 08.00 pagi khutbah hari raya pun usai, orang-orang beranjak berdiri dari duduk simpuhnya. Saling bersalaman, saling berpelukan, saling beradu pipi, saling menebar senyum kebahagiaan, saling mengucapkan selamat hari raya, saling mendoakan, dan saling bermaaf-maafan. Riuh rendah suara penuh syukur kebahagiaan memenuhi setiap sudut ruangan. Walaupun pada akhirnya, yang sebangsa cenderung berkumpul dengan saudara sebangsanya tak pernah lupa untuk berfoto bersama. Di luar ruangan, banyak coklat, permen, kopi, mainan anak-anak yang dibagi-bagikan secara gratis. Alangkah bahagianya, bocah-bocah di pagi yang penuh barokah pagi itu. Sebelum akhirnya, gedung olah raga itu pun kembali lengang seperti sedia kala.

Ada yang kembali beraktivitas seperti hari-hari biasanya, ada yang sengaja tidak beraktivitas, bocah-bocah sengaja minta ijin libur dari sekolahnya, untuk sekedar merayakan hari kemenangan dan hari kebahagiaan pagi itu ala kadarnya. Oh alangkah indahnya kedamaian dan kebersamaan di pagi hari raya itu.

Hai engkau disana yang mengaku seiman maupun tak seiman dengan ku, masih perlukah engkau tumpahkan darah-darah sesama mu di bumi Tuhan mu ini?

Nottingham, Idul Fitri 1437 H/2016 M.

Advertisements

2 comments

  1. Untuk kesekian kalinya, setelah membaca tulisan si mas, kembali jadi berpikir, seandainya semua org bs memiliki hati dan pikiran yg terbuka, maka hidup ini pasti akan jauh lebih indah, ya mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s