Nasida Ria dan Nostalgia Ramadlan di Kampung

“Di langit ada matahari, bersinar menerangi bumi. Di langit ada matahari, bersinar menerangi bumi. Cahayanya yang tajam menembus kegelapan. Menerangi seluruh alam”

“Suasana di kota santri. Asyik senangkan hati. Tiap pagi dan sore hari, muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci. Hilir mudik silih berganti, pulang pergi mengaji”.

“Jilbab-jilab putih, bagaikan cahaya, yang bersinar di tengah malam gelap gulita”

– Nasida Ria 

nasida_ria

Ilustrasi: Nasida Ria (bursalagu.id)

Siang ini, sambil menulis disertasi eh disertasi apa disertasi ya, aku mendengarkan nomor-nomor lagu lawas dari Nasida Ria. Ada Nabi Muhammad, Kota Santri, dan Jilbab Putih di soundcloud. Tiga nomor lagu itu pernah begitu melegenda di awal tahun 90-an. Di pelosok-pelosok dusun, desa, dan kampung khususnya.

Duh, rasanya seperti terseret oleh mesin waktu, di saat senja menunggu adzan maghrib pada bulan Ramadlan di kampung. Saat hari sudah surup, dan matahari mulai tenggelam sempurna di penghujung hamparan padai yang mulai menguning, membentang, sejauh mata memandang. Saat gerombolan ratusan emprit teking kembali ke sarangnya di rerimbunan pohon bambu. Saat ribuan burung gagak terbang berbaris di langit, menuju sarangnya di rimbunan pohon saman di desa benculuk. Dengan tembolok penuh dengan makanan.

Nomor-nomor lagu grup kasidah Nasida Ria dkk itu selalu diputar di hampir setiap stasiun radio-radio sekitar 30 menit sebelum adzan maghrib. Jaman itu, masih sangat jarang orang-orang dusun yang memiliki TV di rumahnya. Tetapi, di dusunku, hampir setiap rumah memiliki pesawat radio. Satu-satunya, hiburan orang dusun saat itu.

Lalu, lima menit menjelang adzan maghrib, terdengar suara kaset, sholawat tarkhim dari corong TOA, pengeras suara di masjid terdekat. ” Tok toro tok tok, Dug Dug”. Suara kentongan dan bedug pun ditabuh pertanda saat Maghrib telah tiba. Saat itulah, puncak kebahagiaan orang berpuasa didunia mencapai titik kulminasinya. Masya Allah, sesederhana apa pun lauknya, sungguh nikmat sekali.

Selepas Maghrib pun, terkadang masih makan gorengan, bakso, minum es campur dari tetangga yang jualan musiman saat bulan puasa saja. Meriahnya suasana masjid saat sholawat taraweh, tadarus, jamaah sholat subuh juga kebahagiaan ruhani yang luar biasa nikmatnya. Satu lagi, umbyung, anak-anak kampung yang keliling kampung untuk membangunkan orang-orang sahur dengan menabuh alat kotekan ala kadarnya dari ember dan kawan-kawanya.

***

Sungguh, buat orang-orang yang pernah berpuasa di luar negeri, suasana bulan Ramadlan dan hari lebaran di kampung adalah alasan paling kuat untuk segera ingin pulang. Tetapi, pengalaman pernah hidup di luar negeri itu membuat aku sadar betapa nikmatnya menjadi Muslim di Indonesia. Tidak merasa terasing seperti saudara Muslim di barat, timur, atau selatan. Tidak juga was-was dirundung konflik dan perang saudara berkepanjangan seperti saudara Muslim di Timur Tengah.

Sungguh indahnya suasana kedamaian dalam keberagamaan dan keberagaman itu tak ada duanya di Indonesia. Di barat mungkin ada kedamaian dan keberagaman, tetapi suasana keberagamaan telah mati. Di timur tengah, mungkin masih ada suasana keberagamaan yang kental, tetapi keberagaman dan kedamaian nyaris telah mati. Betapa beruntungnya kita ditakdirkan menjadi muslim di Indonesia, ditakdirkan menjadi muslim penebar kedamaian yang hidup di gugusan pulau-pulau yang karunia alamnya bagai memantulkan cahaya syurga, bernama nusantara itu.

Sayang beribu sayang diatas alam pantulan syurga itu, kita belum dikaruniai para pemimpin yang adil dan bijkasana. Pemimpinya masih suka memperkaya diri sendiri. Sehingga banyak ketimpangan disana sini. Kekayaan alam yang melimpah, sumber daya laut yang yang luar biasa, tetapi ironinya di tempat-tempat terdekat dengan sumber kekayaan itulah pusat kantung-kantung kemiskinan berada.

Mungkinkah Tuhan sengaja berbuat demikian.  Agar kita masih berharap syurga sebenarnya di kehidupan berikutnya. Bukan, berhenti pada syurga dunia yang sempurna di atasa bumi nusantara ini.

Semoga kita segera sadar untuk menjaga baik-baik karunia ini dengan tetap menjadi diri kita sendiri. Tak perlu menjadi kebarat-baratan, tak perlu pula menjadi kearab-araban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s