Bu Ang: Pakar Banjir ITS itu Telah Berpulang

 …. Sekarang itu, mahasiswa ITS manja – Ir Anggraeni M.Sc., ITS

Bu_Anggareni

Bu Anggraeni, (www.its.ac.id)

Mengawali aktivitas pagi ini, konsentrasi saya terusik oleh running tex di website kampus yang mengabarkan bahwa Ibu Ir. Anggrahini, M.Sc., dosen teknik sipil ITS meninggal dunia. Padahal, belum lama ini, saya sempat ngomongin tentang beliau kepada teman-teman ngobrol saya.

Saya sebenarnya tidak mengenal beliau secara langsung, belum pernah bertemu sekalipun, tetapi sosok Bu Ang ini sangat istimewa pada diri saya. Ceritanya, dulu saya pernah memiliki seorang teman satu kamar kos yang nampaknya begitu mengidolakan Bu Ang ini. Satu-satunya dosen di Teknik Sipil ITS yang pernah dia ceritakan kepada saya. Tidak hanya sekali, dua kali tetapi sangat sering sekali. Bahkan cerita tentang kehidupanya pribadi. Karenanya, saya jadi ikutan begitu terinspirasi oleh sosok ibu ini.

Bu Ang ini adalah pakar hidrologi, atau gampangnya ilmu air. Contoh aplikasi nyata dari ilmu ini adalah untuk manajemen banjir. Konon hidrologi ini adalah salah satu ilmu yang paling susah di Jurusan Teknik Sipil. Sulitnya kayak setan. Terbayang sih, air dimodelkan dalam rumus matematika yang begitu njelimet bin rumit. Oh, rasanya membayangkan saja otak saya langsung error.

Selain kepakaran dalam keilmuwanya yang begitu waskito, Bu Ang juga dikenal sebagai perempuan dengan kepribadian yang begitu tangguh dan tegar. Bukanlah tipe emak-emak arisan yang suka belanja, pamer gaya hidup dan memanjakan dirinya. Tetapi, sosok perempuan pekerja keras, pejuang tangguh, yang ulet dan tak gampang menyerah. Semangat inilah yang coba ditularkan ke mahasiswa-mahasiswinya dalam setiap kesempatan.

Sayang, kehidupan pribadinya tak secemerlang karir akademiknya. Di depan mahasiswa-mahasiswinya konon Bu Ang, tidak pelit berbagi pengalaman manis, pahit, getir dari kehidupan pribadinya. Bu Ang muda katanya pernah punya pacar. Tetapi, takdir memutuskan sang pacar akhirnya malah memilih menikah dengan adik kandungnya sendiri. Alamak, kalau jaman sekarang pasti akan bilang “sakitnya tuh disini” sambil tanganya mengarah ke dada. Bukan Bu Ang namanya kalau tidak tegar. Mungkin, karena Bu Ang bukanlah sosok yang mudah jatuh cinta, sehingga beliau memutuskan tidak menikah sampai hari tuanya. Buat beliau, ngemong keponakan-keponakan dari hasil pernikahan sang mantan pacar dan adik kandung sendiri, dua orang yang dicintainya, sudah menjadi bagian kebahagiaan diri beliau.

Meneladani Sosok Bu Ang

Bu Ang adalah sosok dari sedikit perempuan yang berani memilih jurusan kuliah di bidang teknik. Ilmu yang berat untuk dipelajari, yang isinya adalah rumus-rumus matematika dan fisika. Untuk mbak-mbak manja model jaman sekarang, tentu saja ilmu teknik bukanlah pilihan. Tetapi, buat Bu Ang malah justru menjadi tontong.

Menurut saya, Bu Ang adalah sosok perempuan Indonesia yang tangguh. Sayang, di jaman sekarang ini semakin sedikit sosok perempuan-peremupan tangguh seperti ini. Mungkin saya salah jika berpendapat kebanyakan anak-anak muda sekarang, lebih manja-manja, malas bekerja keras.

Dalam sebuah kesempatan acara bedah buku : “Titik Nol Kampus Perdjoeangan”, Bu Ang pernah bilang: “Waktu dahulu, walaupun sarana kurang, tetapi mahasiswa saya itu tetap menyelesaikan tugas dengan baik. Mahasiswa ITS Sekarang Manja. Dengan banyaknya sarana yang tersedia sekarang, mulai dari perpustakaan, jurnal ilmiah, hingga internet, mahasiswa harusnya dapat lebih leluasa untuk belajar mandiri”.

Saya absolutely agree Bu. Rasanya, tidak hanya di ITS saja. Dimana-mana, di Indonesia, bahwa dari generasi ke generasi, ada kecenderungan sebuah generasi akan melahirkan generasi berikutnya yang lebih manja.

Sebagai contoh, jaman saya dulu kuliah, kebanyakan mahasiswa ITS itu ke kampus jalan kaki, naik sepeda, atau sepeda motor butut, yang naik mobil mah hanya satu dua orang saja. Jaman sekarang, sebagian besar mahasiswa naik mobil.

Jaman saya dulu kuliah, fasilitas komputer dan internet hanya bisa dikases di Lab. yang jumlahnya sangat terbatas. Belum lazim, mahasiswa punya laptop sendiri. Jaman sekarang, rasanya setiap mahasiswa sudah punya laptop sendiri-sendiri, koneksi internet juga murah dan fasilitas wifi gratis ada dimana-mana.

Tetapi, anehnya luaran anak jaman dahulu dengan fasilitas ala kadarnya jauh lebih hebat dari luaran anak jaman sekarang dengan fasilitas yang sebegitu melimpahnya. Kalau dulu di Jurusan saya, hampir setiap anak jago coding. Jaman sekarang, saya sering mendengar cerita dari beberapa teman, banyak mahasiswa ITS, calon sarjana komputer, yang sedang Kerja Praktik di Perusahaan, saat diminta untuk coding pada angkat tangan: ” Maaf pak, saya tidak bisa coding”. Rupanya, keberlimpahan fasilitas itu tidak menjamin bertambahnya kualitas.

Masih ingat dulu waktu jaman saya kuliah, bagaimana jerih payah kuliah di semester pertama. Tentang dosen pemrograman kami yang suka menggebrak meja, membanting pintu kelas, memarahi kami habis-habisan di depan kelas. Atau cerita kuliah Kalkulus yang hampir separo kelas harus mengulang dan untuk sekedar lulus dengan nilai D saja harus mengulang berkali-kali. Atau cerita teman-teman yang mengambil praktikum fisika dasar, yang setiap minggunya harus membuat laporan tulisan tangan, yang tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun, jika membuat kesalahan harus ditulis ulang dari awal. Atau cerita teman-teman yang mengambil praktikum kimia dasar, yang harus mengetik laporanya dengan mesin ketik kuno, yang juga tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun, tidak boleh di tipe X, tetapi harus diketik ulang dari awal. Masih ingat bagaimana beratnya hari-hari teman ku sekamar dulu yang semalaman tidak tidur, `cetak cetek ‘ berduaan dengan mesin ketik. Itu semua dipertaruhkan demi nilai paling maksimal dapat C.

Anak kuliahan jaman sekarang, laporan atau tugas tinggal copy paste dari sana sini dengan bantuan mbah google. Asal bisa membuat presentasi power point yang fancy insya Allah dosen nya tidak pelit memberi nilai A. Karena jika dosenya pelit nilai, si dosen sendiri yang kena batunya, dicap mata kuliahnya tidak berhasil karena nilainya jelek-jelek. Lalu sang dosen pun harus dikirim ke pelatihan tentang cara mengajar yang baik.

Rupanya karakter daya juang itu tidak gratis, harus dibayar dengan proses jerih payah yang begitu berat. Tetapi, bukankah itu inti pendidikan yang benar? Pendidikan yang menghasilkan orang-orang dengan mental dan karakter yang hebat. Bukan sekedar menghasilkan orang-orang dengan selembar kertas berisi deretan angka-angka yang bagus, tetapi bermental manja dan lembek.

Lalu, salahnya dimana?

Mungkin banyak yang berspekulasi, argh itu sudah tuntutan jaman. Ada yang bilang saat ini mereka adalah generasi X dan Y lah. Banyak teori yang bermunculan seperti itu, yang intinya tidak boleh membandingkan generasi jaman sekarang dengan jaman dahulu, yang intinya membela dan mengunggulkan generasi jaman sekarang.

Saya pribadi kok tidak setuju dengan teori itu. Saya malah sangat mengkhawatirkan dengan karakter anak-anak muda jaman sekarang. Kalau teori itu benar, kenapa tidak terjadi di negara-negara maju? Di Inggris tempat saya hidup sekarang ini misalnya, saya melihat mahasiswa dari berbagai belahan dunia itu, begitu independent dalam belajar, begitu belajar keras, perpustakaan bisa buka 24 jam, dan penuh dengan mahasiswa yang sedang belajar keras. Mahasiswa dari Cina terutama, mereka begitu gila-gilaan dalam belajar.

Saya malah setuju dengan tulisan Prof. Komaruddin Hidayat, beberapa hari yang lalu. Di tulisan itu, Prof. Komar membandingkan antara Generasi Pejuang, Generasi Penikmat, dan Generasi Perusak. Gampangnya seperti ini. Buyut atau embah-embah dulu kita adalah generasi para pejuang, yang sampai akhir hayatnya belum pernah menikmati hasil dari perjuanganya. Kemudian disusul oleh generasi bapak-bapak kita. Bapak-bapak kita adalah generasi hasil didikan masa perjuangan, sempat merasakan beratnya perjuangan, tetapi akhirnya bisa menikmati manisnya hasil perjuangan.

Generasi penikmat hasil perjuangan inilah yang kebanyakan cenderung memanjakan anak-anaknya. Banyak yang berfikir: “Biarlah saya saja dulu yang merasakan pahitnya perjuangan, biarkan anak-anak dan cucu saya yang menikmati hasil perjuangan pahit itu”. Nah, ini dia yang berbahaya. Yang pada akhirnya melahirkan generasi yang menikmati manisnya perjuangan, tetapi tidak pernah mengerti bagaimana berjuang itu. Generasi yang menganggap semuanya ‘just take it for granted’. Tidak pernah mengerti, bahwa apa yang dinikmatinya saat ini, adalah hasil dari tetesan darah dan keringat para generasi-generasi sebelumnya. Mereka sibuk berpesta, menikmati hasil perjuangan itu. Selanjutnya, akan lahirlah para generasi perusak.

Jangan-jangan kita adalah generasi perusak itu? Jangan-jangan kita tidak sadar bahwa kita sedang melakukan perusakan berjamaah di atas bumi tempat aliran dan tetesan darah-darah para pejuang ini?

Makanya, Bapak, Ibuk, janganlah terlalu memanjakan anak. Cintailah anak-anak mu secara bijak. Kebaikan tanpa sebuah kebijakan bukanlah kebaikan. Jangan sampai, kita tidak sadar sedang melakukan pengrusakan pada generasi-generasi kita berikutnya.

**
Untuk Bu Ang, Selamat Jalan! Selamat berpulang kembali ke sangkan paraning dumadi. Jariyah ilmu yang kau tularkan ke mahasiswa-mahasiswi mu akan senantiasa memberi manfaat dan menjadi pahala yang terus mengalir, untuk kebahagian mu di kehidupan mu selanjutnya. Terima kasih Bu Ang, atas segala pengabdian, ilmu, dan inspirasi mu.

Advertisements

4 comments

  1. aduh, cak ….
    baru denger kalo bu Ang dah tiada …
    emang byak kisah ttg beliau, dulu pernah jd dekan waktu saya kuliah
    slmat jalan, bu Ang 😦

      1. bu Ang ngajar hidrolika, tp mulai smster VII dulu dibagi : sipil konstruksi, transportasi & hidrologi
        aku ambil yg transportasi …. jurusan hidrologi satu angkatan paling mhsiswanya cuman 3
        sing sampeyan tulis ttg karakter bu Ang bener kabeh …
        soal kehdupan pribadi beliau, aku no comment ae, lagi poso, cak … jo ngghibah 😀

        btw, … soal tugas pake mesin ketik, pernah dak senggol nang kene
        http://www.kompasiana.com/masteddy/kenangan-pitung-taun-nang-suroboyo-no-3-edisi-suroboyoan_574c56c10f9773a908680d09

        selamat menjalan puasa ramadhan, cak shon
        salam buat keluarga di nottingham forest …

      2. Termasuk ghibah ya? Hehehe, ampun. Wih serem bener sat angkatan cuman 3. Sama2 mas Tedy selamat berpuasa juga, salam balik buat keluarga mas teddy. #meluncurkekompasiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s