Kacamata Matahari Yang Patah

… karena rupanya banyak orang yang dewasa tetapi belum mampu berempati dan berbagi – a random thought

anak_lanang

Ilustrasi: Anak Lanang

Pukul 8.30 pagi di Musim panas itu, matahari sudah merangkak cukup tinggi dari akar langit. Jika cuaca cerah sempurna seperti hari itu, sinarnya begitu mentereng menelanjangi setiap sudut-sudut kota.

Anak lanang siap berangkat ke sekolah. Siap nangkring di boncengan sepeda ku. Matanya dikernyit-kenyitkan, sambil bilang: ” Ayah, my eyes are hurting”. Itu artinya, anak lanang meminta diambilkan ‘Sun glasses’ kacamata matahari oleh emaknya. Anak lanang begitu menyukai mengenakan kaca mata hitam yang framenya berwarna biru dengan motif sang super hero kesayangan, Spider Man.

Tetapi, hari ini anak lanang tidak hanya membawa satu buah kaca mata, tetapi dua kacamata kembar. Dulu, salah satu dari kaca matahari itu ketlingsut entah sembunyi dimana. Akhirnya, dibelikan lagi kacamata yang persis sama. Jadilah, anak lanang memiliki dua kacamata hari kembar.

Saat ditanya kenapa kok membawa dua kacamata matahari hari ini, anak lanang bercerita tentang sebuah kejadian kemaren hari. Katanya, salah seorang teman sekelasnya, Burhan namanya, kacamata mataharinya patah. Anak lanang melihat si Burhan begitu sedih dengan patahnya kaca mata itu. Nah, oleh karena itu, hari ini dia mau memberikan satu dari dua kacamata mataharinya itu untuk Burhan.

Sesampai di sekolah, ketika bertemu dengan Si Burhan. Anak lanang langsung memberikan kacamata spiderman nya itu ke Burhan yang juga baru saja sampai di sekolah diantar ibunya. Burhan, nampak tersenyum sangat bahagia menerima kacamata itu. “Thank you Ilyas” katanya setelah dijawil sama ibunya. Anak lanang pun tersenyum sangat bahagia karena telah membuat sang teman tersenyum bahagia.

Mendengar cerita anak lanang itu, aku jadi tercenung beberapa jenak. Rasanya masih tidak percaya. Karena setahu ku, layaknya anak-anak kecil lainya, anak lanang begitu posesif dengan semua barang miliknya. Jangankan mau ngasih, dipinjam temanya saja biasanya tidak boleh. Nah ini, kok ndegaren, mau memberikan salah satu barang kesayanganya ke salah satu temanya begitu saja.

Mungkin karena pendewasaan usia yang membuatnya berubah begitu. Atau mungkin sistem pendidikan karakter di sekolahnya yang sedang bekerja? Atau mungkin karena kedua-duanya. Sepertinya, alasan kedua yang paling masuk akal. Karena rupanya banyak orang yang dewasa tetapi belum mampu berempati dan berbagi.

Dalam hati, aku sangat bersyukur. Kok ya alhamdulilah, Meskipun di sekolah anak lanang tidak ada pelajaran agama, tetapi si anak lanang sudah memiliki akhlak yang sungguh mulia. Bukankah, misi dari agama tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia?

Menurut ku, mampu berempati dan berbagi adalah inti sari dari sebuah hubungan sesama manusia yang harmoni. Tetapi lihatlah, kenyataan di sekitar kita. Betapa lebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Betapa banyak ketimpangan-ketimpangan sosial di sekitar kita.

Ada yang tinggal di rumah-rumah besar magrong-magrong bak istana raja diraja, bekerja di gedung-gedung tinggi nan megah pencakar langit. Tetapi, tak jauh dari situ ada yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh di dekat rel kereta api, mencoba bertahan hidup dari mengais-ngais sisa rejeki dari tempat pembuangan sampah. Ada yang setiap detik, harta kekayaanya bertambah berlipat-lipat, timbunan kekayaanya menumpuk-numpuk yang tak akan habis tujuh turunan. Tetapi, tidak sedikit yang buat dimakan esok hari saja, masih harus dicari.

Sebenarnya, selain melatih menahan diri, mampu berempati dan berbagilah inti pesan sosial dari berpuasa ini. Tetapi, umat beragama di negeri ku memang sungguh aneh. Di bulan yang seharusnya orang-orang berlatih menahan diri, di bulan itulah di negeriku terjadi puncak konsumsi.

Di bulan yang seharusnya mereka belajar berempati, mereka terlalu sibuk dengan memikirkan diri mereka sendiri. Parahnya lagi, di akhir bulan nanti, saat seharusnya mereka saling berbagi, disitulah mereka malah justru saling pamer diri. Jor-joran memamerkan kesuksesan hidup sampai ke pelosok-pelosok dusun. Berbagi? Argh, itu cukup dibayar dengan uang seharga beras 2.5 kg sebelum sholat Idul Fitri. Atau mengundang anak-anak yatim untuk disantuni ala kadarnya sesekali saja.

Andai saja, orang-orang kaya dari kota itu setiap pulang ke dusun tidak sekedar pamer kekayaan diri. Andai saja, orang-orang kaya itu menyisihkan sedikit saja dari tumpukan kekayaanya sedikit saja. Untuk membangun sekolah-sekolah gratis di dusun. Sekolah yang gedung, fasilitas, dan guru-gurunya sebagus sekolah-sekolah di kota. Mereka tak perlu dengan angkuh berkata: ” salah mereka sendiri, bodoh sih”.

Andai saja, setiap orang-orang kaya yang hidupnya berkelimphan harta itu, tidak menimbun harta kekayaanya. Tetapi, menggunakan seperlunya saja, sesuai kebutuhanya saja. Selebihnya, dibagikan kepada yang benar-benar membutuhkan. Mungkin keadaan dunia akan penuh dengan harmoni.

Tetapi, pemeluk agama di negeriku memang aneh. Meski agama mayoritas yang mereka anut mengajarkan: sesama saudara manusia itu bagaikan sebuh tubuh, jikalau ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit; belum sempurna iman seseorang, jika belum bisa memberikan barang yang paling dicintainya kepada orang lain. Tetapi, kemampuan berempati dan berbagi masih menjadi barang yang aneh.

Tetapi, pemeluk agama di negeriku memang aneh. Agama menjadi bak lipstik dan gincu saja. Agama menjadi alat pencitraan saja. Mereka merasa sudah sempurna agamanya, jika sudah pernah jalan-jalan di kota Mekah dan Madinah lalu menutup rambutnya dengan kain lebar saja.

Terima kasih anak lanang, untuk ilmu dari mu hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s