Sepotong Rembulan

… tentang sepotong rembulan dan lagu dolanan – a random thought

sepotong_rembulan

Ilustrasi : Sepotong Rembulan

 

Rasanya, sudah lama aku tidak menikmati cahaya rembulan.
Di kota ini, cahaya lampu kota begitu jumawa.
Manusia-manusia di kota ini, tak lagi menghiraukan keberadaan sang rembulan.

Tetapi, tidak halnya dengan ku,
Selama di kota ini, entahlah aku begitu menikmati berjalan kaki,
Apalagi berjalan di tengah kesunyian malam,
Menghalau sepoi angin malam,
Menyusuri jalan-jalan sempit, di antara rumah-rumah yang saling berhimpitan.
Menatap rembulan, menghitung bintang-bintang.

Tetapi, rasanya dimana-mana setiap sudut ada cahaya lampu kota,
Aku hanya bisa menikmati menatap sepotong rembulan di langit,
Tanpa bisa merasai indahnya dipeluk cahaya rembulan.

Tetapi, kemarin malam, kebetulan lampu-lampu kota yang berderet
Di jalan sempit, yang biasa ku lewati sendiri menjelang tengah malam,
Di belakang rumah-rumah dekat taman itu, ndelalah mati.

Ada sepotong rembulan yang cahanya menerpa tubuh kecilku,
Melukis bayangan hitam tubuh ku di atas tanah beraspal itu,
Kuperlambat langkah ku, lambat sekali,
Bayangan itu mengikuti di belakang ku.

Di kesunyian malam itu, di telinga ku seolah terdengar suara gamelan
ditabuh, mengiringi bocah-bocah menembangkan lagu dolanan:

Yo poro konco dolanan ing jobo, padang bulan, padangae koyo rino,
rembulan ngene sing awe-awe ngilingake ojo podo turu sore!

Rembulan, sayang kini telah pudar pesonamu.

Nottingham, 31/05/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s