Sandungan Hidup

… sometimes fell, sometimes balanced but always went ahead cheerfully – Behti Hawa Sa Tha Woh (3 Idiots)

playin_the_ground

Ilustrasi: Kejar-kejaran

Life is an Adventure ” atau ” Life is a Journey” , begitulah orang-orang bijak mencoba berfilosofi tentang perjalanan hidup. Intinya, inti sari dari nilai kehidupan bukanlah ketika berada di tempat tujuan, tetapi pada perjalanan menuju tempat itu sendiri. Semakin menantang, semakin berat medanya, semakin banyak ketidakpastianya, semakin banyak kejutan-kejutanya, semakin nikmatlah perjalanan itu.

Tetapi, belakangan rasanya hidup orang-orang jaman sekarang tidak seperti itu. Paham industrialisasi, seolah telah merubah hidup seperti arena balapan. Siapa yang paling cepat, dialah yang paling hebat.

Anak-anak sekolah, maunya lulus cepet-cepetan. Kalau bisa 5 tahun, kenapa harus 6 tahun? Jikalau bisa 2 tahun saja, mengapa harus 3 tahun. Yen biso 3.5 tahun, kenapa harus sampai 4 tahun?

Arena balapan pun berlanjut dengan siapa yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Terus berlanjut, siapa yang paling cepat kaya, yang paling cepat naik jabatan dan karirnya, yang paling cepat naik popularitasnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Tak jarang, banyak yang mengencingi hati nuraninya sendiri untuk mencapai posisi yang diinginkan secepat-cepatnya.

Tetapi, jika kita mau merenung sejenak, benarkah tujuan perjalanan hidup kita itu sama seperti yang digambarkan paham revolusi industri itu? Benar atau salah, itulah jalan yang banyak ditempuh orang-orang.

Tetapi, ada sedikit segelintir orang menempuh jalan kehidupan yang berbeda. Memilih, jalan sunyi, yang tidak ditempuh banyak orang, bahkan mungkin dia sendirian yang menempuhnya.

Tentu saja jalan itu sangatlah tidaklah mudah. Seorang teman bercerita. Sudah bekerja keras setiap saat, tetapi seperti berjalan di tempat, tidak ada kemajuan. Jika bekerja saat semuanya lancar itu hal biasa. Tetapi, berusaha tetap bekerja saat kesandung-sandung keraguan itu yang luar biasa. Intinya, pemaksaan diri.

Entahlah, kalimat-kalimat teman ku itu seolah mendeskripsikan perjalanan hidup ku, meskipun tentu saja sangat berbeda konteksnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s