Musuh Terberat

… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua – Gie

 

patung_tentara

Ilustrasi : Patung

 

Salah seorang teman dekat ku, pernah menceramahiku begini:

Banyak orang-orang yang mencari-cari musuh dalam hidupnya. Banyak juga yang merasa tidak memiliki musuh, seolah seluruh semesta mendukung setiap jejak langkah  kakinya. Padahal, musuh terbesar berada paling dekat dengan dirinya sendiri. Bahkan  sangat dekat.

Pertama, dirimu sendiri. Nafsu kebinatangan pada dirimulah musuh terberat mu. Syahwat untuk mengawini seribu gadis, hasrat untuk menang dan unggul sendiri, keinginan untuk menguasai orang lain, keserakahan untuk menumpuk-numpuk harta benda  adalah musuh-musuh terberat yang sulit untuk ditaklukkan.

Kadang, musuh mu datang dalam wujud ketakutan. Ketakutan-ketakutan yang bermuara pada takut akan kemiskinan dan kemelaratan, takut akan kematian. Padahal, tidak ada kepastian yang lebih pasti dalam hidup ini kecuali kepastian akan datangnya  kematian.

Kedua, anak-anak dan istri mu. Bagaikan air yang tenang, kehadiran anak dan istrimu  bisa menenangkan dan meneduhkan hati mu, menentramkan suasana hati dan nuansa hidup mu. Tetapi berhati-hatilah, mereka juga bisa menghanyutkan mu. Ingatlah cerita istri dan anak para nabi. Jangan atas nama cinta, lalu kau manjakan sesuka hati mu. Ingatlah, kebaikan tanpa kebijakan bukanlah kebaikan. Walaupun kebijakan, tak  selalu menyenangkan.

Lalu, aku pun bertanya: terus aku kudu piye, mesti bagaimana?

Pertama, kamu bisa meminta tolong pada Mbah Sabar. Yang tabah dalam memegang prinsip-prinsip kebaikan. Walaupun kadang teramat sangat berat. Seperti memegang  bara api, yang panas bila dipegang, tapi akan padam jika dilepaskan. Yang mampu menahan diri, ngeker terhadap godaan-godaan. Menjalani hidup kadang seperti naik motor, ada kalanya bisa lempeng-lempeng saja, kadang ada saatnya harus ngegas sekuat tenaga agar bisa melalui tanjakan, kadang ada waktunya harus ngerem saat  melalui turunan yang curam agar tak tergelincir dan terpelanting. Tetapi setiap saat haruslah  waspada.

Kedua, rapalkan doa-doa. Sholat, dan sembahyang lah sepenuh hati mu. Walaupun rapalan do’amu, bukanlah mantra ajaib ‘bim salabim abracadraba‘ yang bisa  mewujudkan segala keinginan mu sak jek sak nyek saat itu juga. Tetapi, setidaknya  akan menenangkan hatimu. Apalah di dunia ini yang lebih berharga dari ketenangan hati? Toh, hidup ini bukanlah kemauan kita. Pernahkah kamu meminta dihidupkan di dunia ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s