Selamat Jalan Kyai : Mengenang KH Dimyati Romli

…. semua berasal dari Nya dan kembali pulang menuju Nya kembali. Dari ketiadaan, kemudian ada, dan kembali ketiadaan. Itulah hidup. – a random thought

 

yai_dim_okezone

Ilustrasi : KH Dimyati Romli (Tengah Bersurban), Sumber: jombangpemkab.g.id

Rabu, 18 Mei 2016

Pagi  yang mengawali hari ini disambut dengan rintik rinai hujan yang panjang.  Daun-daun maple yang menghijau dan telah mekar sempurna pun basah kuyub, jalan-jalan beraspal basah, membentuk kubangan-kubangan air kecil di beberapa sudut.

Waktu sholat subuh baru saja usai, tetapi jam di dinding masih pukul 4.30. Setelah membimbing anak lanang membaca buku setebal 30 halaman, aku tertidur kembali, terbuai suara rintik hujan yang mendamaikan. Oh, hujan pagi hari ini begitu melenakan membawa ku ke alam bawah kesadaran.

Beberapa jenak kemudian aku terbangun. Kulihat waktu di handpon ku menunjukkan pukul 7.15. “Tuing” . Ada pesan WA masuk dari seorang teman satu bilik asrama di pondok pesantren Darul Ulum Jombang dulu:

Innalillahi wainnailaihirojiuun, telah berpulang kerohmatulloh KH.Dimyati Romli pengasuh pp. Darul ulum jombang dan mursyid thoriqoh qodriyah wa naqsabandiyah,mohon bantuan bacaan fatihah buat beliau “

Hujan yang masih saja menitik seolah mengiringi suasana duka dalam hati ku.  Sedih, haru, sekali hatiku. Seketika, terbayang wajah teduh kyai ku itu tersenyum dan melambaikan tanganya kepada ku. Oh, Tuhan, begitu cepat kau panggil hamba-hamba Mu yang soleh dan yang engkau kasihi. Setelah Engkau panggil Kyai Hannan, Kyai As’ad, kini Engkau panggil pula Kyai Dimyati.

Selamat Jalan Kyai ! Hari ini, ribuan santri-santri mu di seluruh pelosok negeri menangisi kepergian mu. Mengiring kepergian mu dengan rapalan doa-doa yang tak henti. Ku yakin, taman-taman syurga sedang menanti mu di alam kehidupan mu berikutnya. Semoga, kepergian mu, segera terganti oleh ribuan kyai Dimyati – kyai Dimyati yang baru.

Mengenang Kyai Dim

Kyai Dim adalah salah satu kyai NU yang Karismatik dan berpengaruh, khususnya di Jawa Timur. Selain sebagai ketua Majelis pimpinan (baca: pengasuh) pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Beliau juga seorang Mursyid (baca: maha guru) Thoriqah Qadiriyah Wannaqsabandiyah (gerakan amalan sufi/tarekat) yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat di tataran akar rumput dengan Pondok Njoso.

Perawakanya tidak terlalu tinggi. Wajahnya teduh menentramkan hati setiap orang yang menatapnya. Penampilanya sederhana dan bersahaja. Kemana-kemana lebih sering memakai sarung, baju dan peci putuh yang nampak juga sangat sederhana bahkan terlihat sudah lusuh. Kemana-kemana , asalkan tidak terlalu jauh lebih senang jalan kaki ketimbang naik kendaraan. Tak sedikit pun, terpancar kemewahan hidup dari beliau. Seperti kebanyakan kyai-kyai NU pada umumnya, beliau juga merokok.

Aku memiliki kenangan sendiri dengan Kyai Dim, begitu beliau akrab dipanngil. Selama mondok 3 tahun di pondok Njoso, hampir setiap hari aku bersua dengan beliau. Kecuali jika berhalangan, beliau yang selalu menjadi imam jamaah sholat subuh di masjid pondok induk dan memimpin do’a Istigotsah setelahnya. Setelah mengamini do’a-do’a kyai Dim yang khusuk dan berurai air mata, kami para santri berebut mencium telapak tangan beliau. Iring-iringan para santri mengiring langkah-langkah kaki berterompah beliau dari masjid sampai ke ndalem. Seminggu sekali, beliau mampir bertakziah ke makam para kyai pendiri pondok di pesarean pondok.

Seminggu sekali, antara waktu maghrib dan isyak, aku ngaji kitab kuning dengan beliau. Bertempat di Pendopo lama, beliau membaca kitab tafsir surat Yasin. Surat yang mendapatkan tempat sangat istimewa dalam Alquran, khususnya di kalangan para Nahdliyin. Setiap hari kamis antara waktu duhur dan ashar, dari bilik asrama aku lamat-lamat mendengar ceramah beliau yang mengisi acara kemisan di masjid yang pesertanya ratusan mbah-mbah thoriqah dari pelosok-pelosok dusun yang sebagian besar dari Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk.

Setahun dua kali, setiap malam tanggal 11 muharram, disebut dengan sewelasan, dan setiap malam 15 Sya’ban, disebut dengan nisfu sya’banan, aku pun mendengar ceramah- ceramah beliau. Saat setiap jengkal tanah di bumi darul ulum menjadi lautan manusia, ribuan santri murid thariqoh qadiriyah wannaqsabandiyah dari berbagai pelosok negeri, berkumpul, bermujahadah, sholat, berdzikir, berdo’a bersama dari lepas duhur, hingga subuh hari.

kyai_dim_okezone

KH Dimyathi Romli disholatkan di Masjid Pondok Induk Darul Ulum Jombang (Sumber: okezone.com)

Selamat Jalan Kyai! Ilmu mu yang telah engkau tularkan, do’a-doa mu yang dengan tulus selalu kau rapalkan, keteladanan mu yang selalu engkau contohkan, akan selalu menjadi inspirasi abadi dalam hati-hati kami, para santri mu, di seluruh pelosok negeri.

Advertisements

3 comments

  1. Assalamualaikum cak shon
    salam kenal, kulo soraya binti dimyathi r
    nangis baca tulisan sampeyan, maturuwun
    boleh kutip tulisannya utk melengkapi penulisan buku tentang alm.ayah?
    sedang nyusun buku utk khaul pertama bln mei besok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s