Kehidupan Puisi Gus Mus

….. Dimana-mana sesama saudara. Saling cakar berebut benar. Sambil terus berbuat kesalahan. Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan. Masing-masing mereka yang berkepentingan. Aku pun meninggalkan mereka. Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku – Gus Mus

GusMus_Kumpulan_Puisi

Ilustrasi: Gus Mus

Kadang aku bertanya-tanya, di Jaman dimana orang-orang begitu memuja materi,
daging, dan bungkus. Melupakan begitu saja nilai, ruh, dan esensi. Masihkan ada
yang peduli dengan nilai-nilai budaya?

Coba saja kita lihat, di antara anak-anak lulusan SMA kita, yang pintar-pintar itu,
masih adakah diantara mereka yang ingin masuk Fakultas Ilmu Budaya?

Rasanya hampir semuanya berebut ingin masuk Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu
Komputer, Fakultas Teknik, atau Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Kenapa?
Prospek pekerjaan yang mendatangkan uang terbanyak semata bukan?

Jika uang semata yang menjadi ukuran kita bersama, janganlah heran, maklumlah, jika
negeri kita yang bak miniatur syurga ini menjadi terasa bak emperan neraka, karena
dihuni oleh manusia-manusia yang tak lagi berbudaya.

Mereka saling sikut, saling iri dan dengki, saling tipu dan memperdaya, berebut
kuasa, berebut jabatan, yang ujung-ujung nya untuk menumpuk-numpuk kekayaan untuk
mereka atau golongan mereka sendiri. Ketidakjujuran menjadi kebiasaan.

Sudahlah, selama penguasa ekonomi dan penguasa politik yang menjadi punggawa terdepan bangsa ini, rasanya revolusi mental yang digalakkan pemerintah hanyalah ilusi belaka.

Seharusnya, para budayawan lah yang berada di garda terdepan dalam revolusi mental. Merekalah, sedikit orang yang tersisa di negeri ini yang masih memiliki nurani. Yang masih menjunjung tinggi nilai bukan angka.

Salah satu sedikit budayawan Indonesia yang patut kita teladani adalah Cak Nur dan Gus Mus. Aku  sudah pernah menulis tentang Cak Nun di sini. Kali ini , aku ingin sekali menulis tentang Gus Mus sebagai sosok yang budayawan.

Saat para kyai banyak yang berebut kuasa, terjebak dalam pragmatisme politik, silau oleh magrong-magrongnya dunia. Gus Mus, adalah salah satu dari sedikit kyai yang bisa menahan diri dari jebakan-jebakan itu. Gus Mus, tetaplah kyai yang sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan dan kebersahajaan sebagai pilihan hidup, bukan sebuah keniscayaan.

Saat banyak kyai pesantren yang berlomba-lomba menyodorkan proposal kepada tokoh partai politik, para pejabat negara, untuk menyulap pesantren nya menjadi megah. Gus Mus, memilih, tetap menjadikan pesantrenya tetap sederhana namun pernah kebarokahan.

Ceramahnya menyejukkan, kata-katanya dari nurani yang terdalam. Tanpa muatan kepentingan. Melalui puisi-puisinya Gus Mus, mengajak kita, mengingatkan kita kembali untuk merenungkan hakikat dari kehidupan, kemanusian, kenegaraan, kebudayaan, keberagamaan, dan keislaman kita yang sebenarnya. Yang selama ini telah banyak terdistorsi oleh berbagai kepentingan-kepentingan yang membelokkan.

Kawan, mari kita sejenak, ikut merenungi kehidupan dan kemanusiaan kita bersama Gus Mus. Lewat puisi-puisi yang ditulis dengan hati lembut Gus Mus. Aku sudah mengumpulkanya, disini. Semoga bermanfaat.

 

Hallo Semua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s