Akhir Pekan Di Hutan Kota yang Menghangat

…. apakah kita perlu berfikir kembali seperti anak-anak dalam menikmati kehidupan. Toh, bukankah hidup tak lebih dari permaianan dan senda gurau belaka, sebentar saja. Lalu buat apa dipikir terlalu dalam, kawan? Seolah kita akan hidup untuk seribu tahun lamanya – A Random Thought

hutan_kota_forest_field

Ilustrasi: Sudut Hutan Kota

Seperti angin di pergantian musim, waktu berlari semakin cepat saja. Rasanya baru kemaren melihat perayaan tahun baru, tahu-tahu kalender sudah berganti bulan Mei, sudah hampir tengah tahun.

Tetapi hingga awal bulan Mei ini, suhu udara di kota ku masih saja dingin. Sedingin sikap ndoro dosen ku, yang selalu masih saja tak ada waktu untuk sekedar membaca disertasiku yang sudah ku tulis berbulan-bulan, bahkan lebih setahun yang lalu. Meskipun setiap pekan aku selalu menemui beliau yang sangat ku hormati itu, tak ubahnya menghormati kyai ku di pesantren dulu.

Walaupun tidak sampai aku mencium telapak tangan nya sebagaimana dulu biasa kulakukan pada kyai- kyai ku. Masak iya aku harus mencium telapak tangan beliau, atau kalau perlu mencium kaki beliau sekalian, untuk mengiba belas kasih nya.

“Tenang, sekarang sudah di toplist what to do ku, kok”. Begitulah, cara beliau selalu menenangkan aku yang dari hari ke hari semakin gelisah dirundung ketidakpastian dan kekhawatiran.

Argh, aku sudah tak percaya lagi dengan teori perencanaan, teori goal setting, yang diajarkan para pakar ilmu manajemen modern itu. Karena itu hanya akan memperdalam luka dihatiku, menyaksikan rencana yang tinggal rencana. Melihat goal yang mati mengenaskan begitu saja. Nyatanya tak semua dalam hidup ini berada dalam kendali kita. Kenyataan hidup, sering kali tak butuh teori.

Mungkin Gusti Allah sedang mengajari ku kesabaran dan ketelatenan. Tetapi, rasanya aku sudah begitu sabar dan telaten. Atau gusti Allah sedang mengajari ku sesuatu yang aku tidak akan tahu hingga titik waktu di masa depan nanti? Atau gusti Allah suka aku dalam keadaan seperti ini, sehingga aku hanya bisa pasrah dan berharap kepada Nya? Argh,  dunia selalu menyimpan teka-teki.

Yang pasti, sikap beliau itu membuat semangat ku seperti kelopak-kelopak bunga dandelion di terpa angin, terbang berhamburan kesana kemari, tidak jelas entah kemana. Mampukah aku memungut kembali kelopak-kelopak dandelion itu kembali?

Tetapi, akhirnya di akhir pekan ini, suhu udara di kota ku mendadak menghangat. Suhu di telepon genggam pintar ku menunjukkan angka 27 derajat celcius. Benar-benar hangat, bahkan terasa gerah, seolah menandai dimulainya musim panas. Matahari bersinar sempurna. Orang-orang kegirangan menyambutnya. Menyimpan pakaian musim dingin rapat-rapat, di dalam lemari, menggantinya dengan pakaian musim panas yang serba pendek dan tipis-tipis.

Siang itu selepas sembahyang di Masjid dengan anak lanang dan emaknya, aku berjalan menuju hutan kota yang tidak jauh dari rumah tinggal ku. Orang-orang menyebutnya, Forest Recreation Ground. Di tengah perjalanan, kami mampir membeli sepotong kebab, dan beberapa buah sayap ayam goreng di sebuah restoran halal, di kawasan pusat perbelanjaan yang sekilas terlihat seperti di kawasan Apel Denta Surabaya itu.

**

Sudah kuduga, banyak orang berkumpul di hutan kota. Merayakan hidup di akhir pekan dengan cara mereka masing-masing. Hadewh, benar-benar harus kuat menahan godaan maksiat mata. Tahukah kamu? Perempuan-perempuan itu, banyak yang hanya memakai celana sangat pendek sekali, berwarna putih, dengan tanktop atau kaos oblong tipis sekali, memamerkan keindahan lekukan dan tonjolan tubuh yang bersembunyi di baliknya. Untung saja, mereka tidak bertelanjang dada, seperti teman lelaki yang pergi bersamanya.

Bagian lereng hutan kota itu adalah lapangan berbagai jenis olah raga, dari sepak bola, bola basket, tenis, dan sejenisnya. Di bagian atas puncak bukit, terbentang rerumputan hijau yang terhampar luas berhektar-hektar di antara lebat pepohonan yang rindang. Pohon-pohon yang daunya menghijau dan telah melebar sempurna. Jalan-jalan setapak beraspal dibuat meliuk-liuk bagai ular, menyusuri berbagai sudut hutan kota itu.

Kami duduk di salah satu kursi taman yang menyebar di dalam hutan, di dekat sebuah pohon yang rindang. Sungguh sejuk nian diterpa angin yang semilir di bawah pohon. Kami menikmati kebab dan sayap ayam goreng. Kriuk, renyah, gurih sekali, bertambah sempurna dengan kecap BBQ.

“Hoek, hoek !” Sialan! rupanya ada beberapa sayap ayam basi dicampur dengan sayap ayam yang masih segar. Padahal kami membelinya di restoran halal, bertuliskan huruf Arab. Kurang ajar sekali untuk ukuran peradaban orang Inggris. Ini bukan pengalaman kali pertama, sudah menjadi rahasia umum banyak teman bercerita di kawasan itu banyak toko yang menjual barang-barang yang sebenarnya sudah kadaluarsa. Padahal itu dikawasan Muslim men!, yang banyak masjidnya. Tetapi aku begitu yakin, orang Inggris adalah orang-orang yang bijak. Mereka tak akan menge-judge Agama dari kelakuan pemeluknya.

**

Di kursi itu, kulihat berbagai cara orang merayakan hidup mereka. Ada yang berolahraga di lapangan, atau sekedar jogging, lari mengelilingi hutan. Ada juga yang sekedar tengak-tenguk bersama keluarga seperti yang kami lakukan. Paling banyak di antara mereka berjemur, tidur-tiduran di atas permadani rumput hijau, memasrahkan tubuhnya disengat sinar matahari yang garang.

Ada yang sendirian, berduaan, atau berkelompok. Ada yang bersenda gurau, ada yang serius membaca buku, ada yang sekedar do nothing.

Di puncak gundukan bukit rumput di dalam hutan kota itu, kulihat seorang pemuda, bercelana pendek, berkaos putih tanpa lengan, dengan tas ransel di sampingnya. Matanya seolah menyapu ke segala arah, tangan kananya sibuk menggerakkan pena, menulis di lembar demi lembar buku tulis yang dipegang tangan kirinya beralaskan lutut.

Mungkin dia seorang penulis pikirku. Aneh, di jaman manusia sangat dimanjakan oleh teknologi ini, masih ada saja orang yang menulis tangan. Bukankah, dia harus menyalin kembali ke bentuk digital? Bukankah itu tidak efisien? Mungkin dia seorang berjiwa seniman,  yang bisa merasakan keajaiban tulisan tangan yang tak tergantikan.

Dandelion

Bunga Dandelion

Aku beranjak dari kursi taman, menyusuri jalan setapak, dari satu titik ujung ke titik ujung yang lain. Anak lanang kegirangan, memanen bunga dandelion yang tumbuh liar di antara rerumputan hijau. Menyebul kelopak-kelopak putihnya yang lembut nan rapuh, lalu beterbangan diterpa angin, tinggi-tinggi sekali, lalu terjatuh entah dimana. Saat kelopak-kelopak putih membumbung tinggi itulah, anak lanang berteriak bersorak sorai. Gembira tiada terkira.

Di salah satu sudut hutan itu ada sebuah taman bermain khusus anak-anak. Di taman bermain itulah anak lanang bertemu dengan teman sekelasnya di sekolah. Horain namanya. Lalu mereka bermain prosotan bersama. Prosotan yang cukup tinggi berbentuk perahu nabi Nuh. Mereka bersama puluhan anak lainya pun larut dalam suka cita.

Kebahagiaan buat anak-anak selalu sangat sederhana. Terkadang aku iri dibuatnya. Entah mengapa, semakin mendewasa, kebahagiaan rasanya semakin merumit. Apakah kita perlu berfikir kembali seperti anak-anak dalam menikmati kehidupan. Toh, bukankah hidup tak lebih dari permaianan dan senda gurau belaka, sebentar saja. Lalu buat apa dipikir terlalu dalam, kawan? Seolah kita akan hidup untuk seribu tahun  lamanya.

***

Waktu sebentar lagi menjelma senja, kami pun segera kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, kami mampir di sebuah toko buah. Kami membeli sekotak buah strawberry yang telah ranum dan merah darah warnanya, seharga 89 pence (sekitar 17.000 rupiah). “Mak Nyus” sangat manis hanya sedikit masam, serta juicy sekali rasanya. Menyegarkan suasana senja kami. Maha terpujilah Engkau yang telah menciptakan dan menumbuhkanya untuk kami manusia yang sering lupa mensyukuri anugerah kehidupan yang sedang dilakoninya.

Advertisements

4 comments

  1. 😀bisa kebayang kok, udah pingin ndang lulus, kok ndoro dosen ini mulut ae…ya, sing sabar ya mas, tidak ada perjalanan yg tdk berujung kok, pasti akan sampai juga kok.
    😂😂😂kebayang jg yg lagi galau ngeliatin ‘you can see everything’nya bule2 kalo lg kepanasan…anggap saja ujian iman, mas, n dinikmatin-(teman saya malah ber=-alhamdullilah ria kl tdk sengaja dpt ‘berkah’ spt itu)
    Berjuang trus mas… GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s