Merayakan Hidup

…. Man is homo festivus. Manusia itu makhluk yang senang merayakan festival. Masyarakat dan bangsa manapun senang berfestival. – Prof. Komaruddin Hidayat

st_goerge_1

St. Goerge Day di Nottingam

Sabtu pagi, di Alun-alun kota Nottingham. Tumpah ruah manusia, lelaki, perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, para sesepuh pinesepuh berkumpul di tempat yang sama. Wajah-wajah sumringah nan cerah ceria, secerah langit musim semi diterangi matahari pagi yang menghangatkan, ribuan senyum terulas memadati pusat kota.

st_george_nott_1

Aksi Tatrikal, St Goerge Day Nottingham 2016

 

Suara musik  klasik berirama rancak yang didominasi suara alat musik biola dan Accordion menyemarakkan suasana. Dua orang perempuan sepuh nan energik, berambut pirang dan perak, berbaju warna dominasi merah dan putih, larut dalam suasana. Mereka menari dan terus menari . Tak sadar, beanyak orang menontonya, bertepuk tangan memberi semangat. Sekilas, di telinga ku, suara musik itu terdengar seperti mengiringi lagu sepotong bebek angsa.

st_goerge_2

Suasana Alun-alun Kota

Di sudut lain alun-alun kota, seorang perempuan berwajah teduh, bertubuh subur, duduk di sebuah kursi. Menghadap segerombolan bocah-bocah kecil yang duduk bersimpuh dengan khusuk, mendengarkan Ia mendongeng. Dongeng kehidupan istana, jaman dahulu kala. Tentang permaisuri raja yang dikaruniai 3 bayi kembar perempuan, tetapi harus dipersembahkan kepada seorang Monster Raksasa jahat sesuai perjanjian, karena telah menolongnya memiliki bayi yang bertahun-tahun telah diidamkan.

Beberapa jenak kemudian, di tengah-tengah alun berlangsung pertunjukan teatrikal. Masih tentang kehidupan raja-raja di jaman dahulu kala. Tentang kekesatriaan prajurit istana melawan para pemberontak dalam sebuah peperangan. Bersenjatakan tombak dan pedang. “Treng-trang, Treng, Trang” suara adu pedang tajam berkilauan itu, membuatku bertanya-tanya, kenapa sih dari dulu manusia senang berperang?

st_george_nott_2

Robinhood dan ‘Ratu’ Nottingham

 

Pertunjukan teatrikal, kemudian berganti dengan pertunjukan tari-tarian. Tarian yang memamerkan kekompakan gerakan. “Prak-prak-prak”, suara para penari itu unjuk gerakan kaki yang kompak. Ada tiga kali pertunjukan tari. Pertama tari kelompok mbok-mbok. Disusul kelompok mbak-mbak. Dan terakhir kelompok tari nak-kanak.

Menjelang tengah hari,  suasana semakin bergairah. Ada pawai kuda, iring-iringan orang berjalan, dan beberapa group drum band. Dalam pawai itu, di dominasi kostum, umbul-umbul, serta bendera berwarna putih, di tengahnya ada motif salib berwarna merah.

st_goerge_3

Merayakan Hidup

 

Hari itu, masyarakat kota Nottingham sedang merayakan hari St. Goerge. Dalam iman agama kristen/katolik, mungkin St Goerge ini salah satu orang suci yang sangat dihormati. Selevel wali lah, kalau dalam Islam. Kalau di tradisi NU, mungkin perayaan St Goerge Daya ini, tak ubahnya khoul akbar Syekh Abdul Qodir Jaelani. Yang juga ‘dirayakan’ besar-besaran setahun sekali, setiap bulan Rajab, khusunya di pesantren-pesantren NU.

st_george_nott_3

Parade Pasukan Berkuda

 

***

Begitulah, sabtu pagi itu, orang-orang merayakan hidup di alun-alun kota. Hidup memang kadang layak untuk dirayakan. Tidak hanya setahun sekali atau dua kali. Bagi masyarakat dunia di belahan barat, hidup memang harus dirayakan, setidaknya seminggu sekali.

Sampean mungkin pernah mendengar istilah “Work hard, Party Harder“. Itu ternyata bukan sekedar guyonan, tetapi sudah menjadi filosofi hidup orang Barat. Setidaknya, orang Eropa yang saya tahu. Mereka bekerja keras di hari kerja dan merayakan hidup di akhir pekan. Bersosialisasi, di akhir pekan, di dalam sebuah pub/bar, minum, tertawa lepas, diiringi dentuman suara musik, mabuk, teler, hingga minggu pagi.

Yah, begitulah, orang barat pada umumnya, merayakan kehidupan mereka setiap minggunya. Dalam filsafat hidup mereka, harus ada keseimbangan antara mencari penghidupan dan merayakan kehidupan. Balance between work and life. Seminggu sekali, orang-orang HRD di kantor menebar kuesioner, berisi pertanyaan: seberapa imbangkah work-life anda minggu ini?

Mungkin sedikit berbeda dengan di budaya bangsa  lain, dimana karyawan teladan adalah yang paling pekerja keras, suka melembur mati-matian. Disini, karyawan teladan adalah yang paling seimbang work-life nya. Mungkin di budaya lain, cuti kerja itu sebuah aib. Disini, cuti tahunan 25 hari kerja justru sangat di encourage untuk diambil. Untuk apa? Ya, merayakan kehidupan tentunya.

**

Setiap orang berhak memiliki tafsirnya sendiri-sendiri tentang kehidupan. Termasuk, tafsir tentang kebahagiaan dalam hidup. Kalau aku sih tidak suka pesta. Setiap di dalam sebuah pesta, aku selalu berfikir, buat apa sih berpesta ria seperti ini, kalau toh hanya dalam waktu hitungan jam saja pasti akan berakhir. Buat apa, tertawa lepas, berhura-hura, kalau hanya sekedar sejenak untuk melupakan kesedihan, kegundahan, kegelisahan yang diam-diam menggerogoti hati-hati kita.

Tetapi saya setuju bahwa hidup kadang-kadang memang layak untuk dirayakan. Walaupun dirayakan secara sangat sederhana. Buat ku saat ini, tidur panjang di hari minggu pagi yang mendung hingga tengah hari saja, atau baca buku cerita sambil leyeh-leyeh di kasur itu sudah sebuah kemewahan hidup yang luar biasa. Piye, kalau sampean?

Advertisements

2 comments

  1. Benar mas, merayakan hidup kan ga selalu hrs dg pesta, di rumah saja leren-kumpul keluarga atau sekedar ke malang/batu walau hanya cari makan sambil mong-omong, crita2 dg anak2, ganti suasana, itu jg ‘merayakan’ hidup kan? Bersyukur msh diberi kesempatan kumpul dg orang2 terkasih dg jiwa-jiwa yg sehat dlm suasana yg aman 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s