Berkata Pada Bulan dan Bintang

57732989_stargazing1

Ilustrasi: Malam di Wollaton Park, Nottingham (sumber: http://ichef.bbci.co.uk)

Malam baru saja pekat, walau tak genap dua putaran jarum jam lagi
Akan segera berganti hari.
Aku berjalan sangat perlahan,
Menyusuri jalanan kota, gang-gang kecil yang mulai lengang,
Yang menghubungkan rumah tempat orang-orang bersujud itu,
dengan rumah peraduan ku, tempat berteduh dan menghangatkan tubuh ku.

Tak sengaja ku tatap purnama yang sempurna,
Menggantung sendirian di awang-awang.
Cahayanya putih meneduhkan, menerangi kuncup-kuncup daun pohon maple
di dekat tiang lampu jalan yang mati.
Tiba-tiba melintas ingatan di kepalaku,
Dalam perjalanan sunyi sebelum subuh ke anak sungai di belakang rumah ku,
Pada setiap purnama bila musim kemarau panjang tiba.
Saat sumur-sumur desa mulai mengering.
Aku selalu bertanya: “Pak, Bapak, kenapa bulan itu selalu mengikuti kita?”
Dan Bapak tak pernah bisa menjawabnya.

***
Rasanya, sudah lama aku tak menatap bulan dan bintang.
Apalagi memperhatikanya.
Waktu seolah selalu memburu ku, gedung-gedung itu selalu mengurung ku.
Cahaya lampu itu telah melupakan ku.

Tetapi,
Malam ini bulan seperti ingin berbicara kepada ku.
Tetapi, mulut ku dan mulut bulan tak mampu mencipta satu ucapan kata.
Mataku dan hati ku yang bicara.

Bulan mengadu kepada ku,
Sejak mereka menemukan teknologi lampu, dan ilmu penghitung waktu,
Manusia begitu sombong kepada ku.
Dulu aku sering dipuja-puji dalam ribuan bait-bait puisi yang indah.
Manusia sekarang seolah sangat acuh kepada ku.

Aku pun menjawab,
Hehe, tak apalah bulan, masih ada aku yang memperhatikan mu.
Setidaknya untuk malam ini.

***
Di sekitar bulan, ku lihat milyaran bintang berserak-serak.
Kerlap kerlip pijarnya, seolah membisikkan ribuan rahasia langit kepada ku.
Ah sayang, aku tak tahu dan tak akan pernah tahu bahasa bintang-bintang.

Kucoba hitung satu persatu, tetapi itu hanya semakin membuat aku semakin gelak
menertawakan kebodohan ku, mengejek kekerdilan ku.

Duhai bulan, Duhai bintang-bintang, sungguh Maha Besar yang telah menciptakan mu.
Katakan pada NYA, kelak aku ingin dapat bertemu dan menatap wajah NYA.
Dalam keabadian, kesatuan, cintaku dan cinta NYA.
Dalam bahasa mu, sampaikan salam rindu ku untuk baginda rosul ku.

Nottingham, Malam Bulan Purnama di Musim Semi, 20/04/2016

Advertisements

2 comments

  1. Salam
    Pak,
    Salam kenal, dari pertama saya tahu blog Anda, hampir tiap waktu luang saya sempatkan membaca, menarik isinya; apa adanya dan menggambarkan keadaan kehidupan yg sebenarnya ( susah, senang dlsb),
    Terima kasih telah memberi saya altermatif bacan yg ringan tapi sarat, makna, menarik dan menambah wawasan.

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s