Sarapan Minggu Pagi di Rumah ndoro Dosen

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. – QS: Alhujurat:13

 

daffodil

Bunga Daffodil, Nottingham

Hari ini, Minggu pagi di musim semi, cuaca di kota Nottingham begitu sempurna. Tidak dingin, tetapi juga tidak panas. Langit cerah membiru, tak segumpal awan pun menggantung. Mentari pagi, sinarnya menyempurnakan keindahan bunga daffodil dan tulip di taman yang sedang mekar sempurna. Membangunkan kuncup-kuncup daun, yang lelap tertidur di dalam ranting-ranting pohon-pohon yang kerontang selama musim dingin.

bungaTulipDiTaman

Bunga Tulip di Taman, Nottingham

Cuaca yang sempurna itu menyengat semangat emaknya anak lanang untuk beraktifitas di Minggu pagi. Berburu barang antik di Car Booth. Hiburan paling menggairah di kota ini. Awalnya, saya harus menemani. Alhamdulilah, sekarang sudah menikmati perburuanya sendiri ditemani anak lanang.

bungatulip

Bunga Merah Putih di Taman, Nottingham

Hari ini, saya dapat undangan “Sunday Morning Breakfast”, sarapan pagi , di rumah ndoro dosen, pembimbing riset kedua saya. Ini adalah undangan sarapan Minggu pagi dari beliau yang ketiga kalinya. Dan saya selalu menikmatinya. Naluri mahasiswa miskin di tanah rantau, yang tak pernah hilang, suka barang yang murah, apalagi yang gratisan.

Saya dan Raras, adek angkatan ku di ITS, datang terlambat sekitar 15 menit dari undangan jam 10 pagi. Sebenarnya keterlambatan itu tidak kami sengaja, hanya saja kami lupa rute jalan kaki ke rumah beliau yang membuat kami tersesat di jalan yang salah dan harus berputar balik cukup jauh.

Begitu kami sampai rumah ndoro dosen, kami langsung memulai sarapan pagi. Rupanya mereka telah menunggu kami. Ndoro dosen saya mengundang 12 orang pagi ini, yang hampir semuanya adalah anak-anak bimbinganya, anak-anak ideologisnya. Berbagai jenis makanan tradisional Turki terhidang melimpah di meja makan yang sangat besar. Aromanya teramat menggugah selera makan saya yang sepagi itu belum terisi apa pun.

Istri ndoro dosen saya  menjelaskan  dengan ramah, nama setiap makanan tradisi Turki itu. ” ini saya petik dari kebun belakang rumah kami sendiri di Turki lo” katanya dengan bangga, menunjuk kesalah satu jenis asinan buah. Sayang memori otak saya sangat terbatas, sehingga saya tak ingat satu pun nama-nama makanan Turki yang sulit diucapkan oleh lidah saya itu. Satu-satunya nama yang saya ingat adalah Muhammara, karena namanya yang kearab-araban yang artinya memerah, yaitu sambal kacang, walnut, dan cabe merah nan pedas rasanya.

Makanan_Turki

Makanan Turki

Diantara makanan-makanan itu, yang paling saya suka adalah apa yang dari mbah google saya tahu namanya, Sigara Boregi. Kriuk, renyah. lezat, nan nagih rasanya. Dan juga sambal terong, yang di Inggris cukup populer dengan nama EggPlant. Saya juga hanya sempat memotret makanan di piring saya saja. Malu, karena ternyata budaya memoto makanan sebelum dimakan itu ternyata  hanya budaya orang Indonesia. Ngumpul-ngumpul, makan-makan, terus menggelar pameran foto di facebook. Itu ndak banget buat orang-orang disini.

Sambil menikmati sarapan pagi, kami bercerita tentang hal-hal tradisi budaya negara kami masing-masing. Diantara kami, ada orang Turki, British, Cina, Arab, Iran, dan Jawa. Yah, mengenal dan memahami budaya bangsa lain selalu menarik perhatian saya. Untungnya, kami sama sekali tidak mendiskusikan tentang riset, apalagi kalau ada pertanyaan: Kapan Submit? Wah kalau sampek iya, pasti  akan mengurangi selera makan saya 100%.

Sang ndoro dosen terlihat paling menguasai pembicaraan. Beliau yang sudah dikaruniai dua orang putra itu merasa sangat beruntung. Meskipun sudah lama tinggal di Inggris, tetapi anak-anak mereka masih bisa belajar budaya Turki. Kedutaan besar Turki, mengirim guru-guru khusus, dikirim ke seluruh kota di Britania raya, untuk mengadakan ‘sekolah’ Turki seminggu sekali.

Di sekolah itu, bocah-bocah Turki belajar budaya Turki, budaya nenek moyang mereka. Belajar sejarah, tradisi, nasionalisme, bahasa, tulisan, bahkan Agama Islam versi Turki. Jaman boleh saja membuat manusia mengglobal, tetapi tak harus membuat mereka tercerabut dari akar budaya sendiri. Hidup boleh di negeri asing, tetapi tak seharusnya menghalangi mereka untuk mengenal leluhurnya sendiri. Bahkan, katanya, kedua putra ndoro dosen saya ini pun masih membudayakan tradisi cium tangan ke kedua orang tua lo.

“Kami muslim, dan sebenarnya saya tahu disini juga banyak sekolah Islam yang kebanyakan dikelola Pakistan. Tetapi, kami punya interprestasi Agama Islam yang berbeda” istri ndoro dosen saya menambahi.

Memang dibanding Islam di timur tengah dan asia selatan, yang cenderung fundamental. Islam di Turki lebih terbuka, berdialektika dengan budaya barat, mirip-mirip dengan wajah Islam Indonesia yang terbuka dengan pengaruh budaya lokal. Seperti keluarga ndoro dosen ku ini, meskipun mereka mengaku Muslim, tetapi tidak pernah sholat, istrinya juga tidak memakai jilbab. Beberapa teman Turki saya yang lain ada yang tidak pakai Jilbab tapi rajin sholat lima waktu, dan ada juga yang masih memakai jilbab dan rajin sholat. Jilbabnya lebih mirip muslimah Indonesia dan Malaysia pada umumnya. Tidak terlalu gondrong seperti perempuan-perempuan Arab.

Selain tentang tradisi dan budaya, kami juga ngobrol masalah pendidikan, yang semakin hari semakin menjadi komoditas bisnis. Bukan rahasia lagi, kampus-kampus di UK ini mencari mahasiswa internasional sebanyak-banyaknya untuk mengeruk keuntungan. Diantara negara Eropa lainya, Inggris memang yang paling ambisius mengeruk untung dari komoditas pendidikan dengan biaya yang sangat-sangat mahal. Padahal di Jerman, pendidikan sampai Universitas sampai sekarang masih gratis, bahkan untuk mahasiswa internasional.

Sama dengan di Indonesia, rupanya di Cina dan Turki pun mengalami permasalahan yang sama: kapitalisasi pendidikan. Universitas negeri yang murah dan bagus, jumlahnya sangat terbatas, dan dari hari kehari semakin mahal spp nya. Sekolah-sekolah pemerintah, semakin turun kualitasnya, tersaingi sekolah-sekolah swasta yang sangat mahal dan tak terjangkau kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Yah, begitulah sistem dunia kita saat ini, orang-orang semakin hidup individual dan kehilangan sense komunalnya. Uang menjadi Tuhanya. Kalau sampean ingin menjadi somebody sampean harus punya banyak uang. Kalau tidak, yah bersabarlah menjadi ampas dari sistem kapitalisme. Yang kaya semakin digjaya, yang miskin menjadi semakin rapuh tak berdaya. Padahal, ketika kita akan lahir di dunia ini, kita tak pernah bisa memilih lahir di tengah keluarga kaya raya atau keluarga miskin papa.

Beruntunglah, jika masih ada Tuhan Yang Maha Kuasa di hati mu. Kita hidup semata karena kehendaknya jua. Bukan kehendak Tuhan Uang yang hanya saja seolah sangat berkuasa.

***

Tak terasa kami larut dalam jagongan yang gayeng  itu hingga tengah lari. Saat kami mesti pamit, undur diri melanjutkan cerita dalam alam pikiran kami sendiri-sendiri, menghabiskan sisa hari. Matur nuwun!

Advertisements

5 comments

  1. Aku nduwe konco muslim yo ratau sholat koyoke kang. Tapi sing penting ora ngganggu yo wis rapopo. Malah sing model model ekstrim ngono kae, sholate kuwenceng tapi omongane puwedes njaluk disampluk. Hahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s