Secangkir Kopi Pahit di Bandara Birmingham

…. sepahit-pahit kenyataan hidup, bisa menjadi sebuah kenikmatan, jika kita tahu cara menikmatinya, seperti secangkir kopi pahit – A Random Thought

 

kopi_pahit

Ilustrasi: Kopi Pahit

 

Menjelang tengah hari di hari itu, takdir menemukan ku sedang berada di sebuah warung kopi di terminal kedatangan, bandara internasional Birmingham. Aku memesan secangkir cappucino berukuran sedang, lalu duduk di kursi di pojokan warung kopi itu ditemani oleh kesendirian ku.

Dari pojokan warung kopi itu, kedua mataku menyapu setiap wajah orang-orang yang baru saja turun dari pesawat  dari berbagai belahan dunia itu. Otak ku bekerja dengan algoritma paling canggih, mencocokkan gambar wajah yang tertangkap oleh mata ku dengan gambar wajah yang tersimpan di memori otak ku. Kalau-kalau orang yang aku tunggu itu sudah datang.

Aku bukanlah penikmat kopi, tetapi belakangan aku cukup sering menyeruput kopi. Uniknya, aku selalu sengaja memilih belajar menikmatinya tanpa gula. Oh bukan, aku tidak sedang diet gula atau takut gula darah ku meningkat tajam. Selama ini aku tidak bermasalah dengan penyakit gula itu, lebih tepatnya aku tidak peduli.

Tetapi, aku sedang belajar menikmati kopi itu apa adanya. Pahit memang, tapi aromanya asli, cita rasanya apa adanya, kopi seutuhnya. Tidak mudah ternyata, mengajari lidah ku untuk merubah kepahitan itu menjadi sebuah kenikmatan ala para penikmat kopi sejati.

Sama tidak mudahnya menjalani hari-hari ku belakangan ini, yang rasanya pahit sekali. Belajar menerima kritikan-kritikan sepedas sambel balado itu alamak pahit rasanya. Berjuang, bekerja keras siang malam itu juga pahit. Bersabar, menahan ego belajar rendah hati pun tak kalah pahitnya. Apalagi, belajar menerima kenyata yang tidak sesuai harapan, itu sungguh pahit sekali kawan.

Jadi, aku belajar menjadi penikmat sejati kopi pahit seiring dengan belajar menjadi penikmat kepahitan hidup. Perlahan lidah ku mulai terbiasa dengan kopi pahit. Sangat perlahan, aku pun sudah mulai akrab dengan kepahitan hidup.

 

bandara_birmingham

Terminal Kedatangan, Bandara Internasional Birmingham

 

Kuseruput kopi pahit di depan ku itu perlahan, mata dan hati ku dengan khusuk membaca lembar demi lembar cerita pendek karya Kang Seno, yang aku print out  dengan fasilitas printer gratis di kampus itu.  Awalnya, kebiasaan membaca karya sastra itu, hanya tempat pelarian, sebagai tombo mumet dari menulis disertasi PhD ku yang sudah terlalu lama membusuk, ndak kelar-kelar itu. Tetapi, sekarang menjadi candu.

Awalnya, aku tidak mengerti sama sekali bagaimana menikmati sebuah karya sastra. Mengerti apalah aku ini dengan yang namanya sastra. Aku yang hanya lulusan STM, dan perguruan tinggi teknik. Susunan kata yang kata nya indah itu tak ubahnya susunan kata yang membingungkan di otak ku, terasa absurd.

Tetapi, belakangan, rasanya aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin susunan kata-kata itu bisa menyihir ku. Kalimat demi kalimat itu terasa sangat indah dan nikmat luar biasa, menggeleparkan hati ku. Kata-kata itu, seolah kata-kata indah yang dihembuskan oleh angin syurga. Aku baru mengerti, kalau membaca karya sastra itu harus dengan sepenuh hati, harus dengan segenap rasa.

Seperti halnya aku telah berhasil menjadi penikmat sastra, aku bercita-cita dalam waktu dekat bisa menjadi penikmat kopi pahit sejati, menjadi penikmat setiap kepahitan hidup.

***

Tak terasa, sudah lebih satu jam waktu berlalu, ketika sang teman yang aku tunggu datang menghampiriku. Ku pesankan secangkir kopi yang sama dengan ku untuk nya. Kami pun larut dalam cerita.

Kami beranjak dari warung kopi itu, ketika kedua cangkir itu menjadi cangkir-cangkir kosong tak bertuan. Menuju tempat khusus untuk berwudlu  di lantai 1, dan sembahyang di tempat khusus untuk bersembahyang di lantai yang sama , dekat counter over sized baggage. Setelah melipat sajadah, kutinggalkan sebaris tulisan di buku tamu di tempat sembahyang itu, sebagai ucapan terima kasih tiada terkira.

Setelah bertukar do’a. Kami pun kembali berpisah, menyusuri lika-liku jalanan takdir masing-masing. Good Luck, kawan !

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s