Peci Miring Gus Dur

“…. perjalanan hidup Gus Dur mengajarkan kepada kita untuk lebih mementingkan isi dari pada bungkus.” – a random thought

peci_miring_gus_dur

Ilustrasi: Sampul Buku Peci Miring

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman yang kebetulan pulang kampung ke Indonesia, ketika balik ke Nottingham, membawakan oleh-oleh saya berupa buku bersampul hijau ini. Judulnya, Peci Miring, sebuah buku biografi Gus Dur yang dituturkan dalam bentuk novel karya Kang Aguk Irawan MN, seorang alumni santri pesantren NU yang belakangan ini, seperti yang sampean tahu sangat produktif menulis. Bahkan beberapa karyawanya menjadi buku-buku best seller dan diangkat ke layar lebar.

Tetapi, buat saya, ini adalah buku Kang Aguk yang pertama kalai saya baca, setelah sebuah cerpen di Media Indonesia karya Kang Aguk berhasil membuat saya jatuh cinta dengan ciri khas tulisan beliau. Buku setebal 404 ini habis saya baca sehari semalam di akhir pekan, sambil kemulan selimut tebal, saat puncak musim dingin akhir tahun kemarin.

Sebagai pengagum Gus Dur, secara umum, isi dari buku ini sudah banyak yang saya tahu sebelumnya. Hanya saja, karena dituturkan dalam bentuk novel, ada keindahan sendiri membaca karya ini. Saya seolah dibawa menyusuri kehidupan Gus Dur dari sejak bayi di Jombang, Jakarta, Yogya, Magelang, Mesir, Irak, Eropa, dan akhirnya kembali ke Indonesia kembali yang penuh warna-warni.

Walaupun sebagian besar sudah saya ketahui sebelumnya, tetapi keren nya Kang Aguk mampu mengorek sangat detail dari kehidupan Gus Dur dan orang-orang di sekitarnya. Dari novel inilah, saya baru tahu bahwa dr. Angka Nitisastro, yang saya kenal sebagai pendiri ITS, adalah dokternya KH Hasyim As’ari.

Latar dari novel ini sebagian besar adalah kehidupan pesantren. Mulai dari pesantren Tebu Ireng Jombang, Tambak Beras Jombang, Krapyak Yogyakarta, hingga pesantren Tegalrejo, Magelang. Kang Aguk lihai sekali melukiskan dengan detail serba-serbi kehidupan khas yang hanya ada di pesantren. Hal ini, membuat saya merasa bernostalgia dengan kehidupan pesantren yang dulu pernah saya alami di pesantren Blokagung Banyuwangi, dan pesantren Rejoso Peterongan Jombang.

Kalau boleh saya intisarikan, lesson learnt terbesar dari kehidupan Gus Dur adalah semangat belajarnya, terutama dengan budaya membaca dan menulis Gus Dur yang sangat-sangat luar biasa. Di novel ini digambarkan bagaimana Gus Dur sudah gila membaca sejak kecil, bahan bacaanya sangat luas sekali, seolah semua bidang ilmu telah dilahapnya. Sejak kecil, Gus Dur sudah terbiasa membaca buku-buku berbahasa asing, yang isinya berat.

Perjalanan hidup Gus Dur juga mengajarkan bahwa belajar itu jangan terjebak dengan formalitas dan sekat-sekat gedung-gedung sekolah/kuliah. Buat Gus Dur, formalitas itu sama sekali tidak penting. Itulah sebabnya, Gus Dur pernah tidak naik kelas, dan tidak menyelesaikan sampai dapat ijazah dari kampus Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ini menjadi semacam kritik, buat kita kebanyakan hari ini yang belajar semata-mata untuk mengejar Ijazah, yang kemudian denganya kita berharap mendapatkan pekerjaan yang layak atau kenaikan pangkat dan kedudukan.

Dari segi gaya bahasa, jujur novel ini di bawah eskpektasi saya. Saya membayangkan novel ini akan penuh dengan bahasa yang indah khas gaya kang Aguk. Tetapi sebagian besar gaya bahasa penulisan dalam Novel ini biasa-biasa saja, keindahan bahasanya kurang menurut saya. Kemudian di novel ini juga diselipkan humor-humor Gus Dur, yang sudah banyak diketahui orang. Hanya saja,  beberapa humor itu terlihat agak dipaksakan dalam novel ini, sehingganya kesanya agak janggal.

Novel ini saya sarankan untuk dibaca bagi siapa saja, khususnya para santri pesantren. Pesan saya buat santri-santri pesantren, khususnya pesantren salaf, tirulah Gus Dur, yang bisa memadukan berbagai ilmu sehingga memberi pemahaman yang komperehensif. Jangan hanya asyik dengan kitab kuning dan anti ilmu pengetahuan barat. Kalau bisa memdaukan keduanya, top banget !

 

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s