Ter …, Ter …, Ter …

…. learning is a journey, not a race. It is the process that matters – Highscope Indonesia

 

balapan

Ilustasi: balapan karung, Nottingham, 2013

Sejak kecil, kita diajarkan untuk berkompetesi. Di bangku taman kanak-kanak, kita diadu untuk memperebutkan penghargaan ini penghargaan itu. Lomba mewarnai, lomba menyanyi, dan sebagainya. Di bangku sekolah, setiap catur wulan, empat bulan sekali, kepintaran kita pun diukur dengan sederetan angka. Ranking 1 , Rangking 2! atau harus ngendog di kelas.

Bahkan waktu SMP, saya pernah berada di satu kelas dengan bangku-bangku panas. Yah, bangku-bangku di kelas itu hanya boleh diisi oleh 40 murid dengan nilai rapot terbaik di sekolah kami. Sedikit saja nilai rapot seorang murid dari kelas lain lebih bagus, seorang siswa dari kelas kami harus rela melepaskan bangku panas nya itu.

Di bangku kuliah pun tak jauh beda. Kita berlomba-lomba untuk menjadi lulusan yang terbaik. IPK tertinggi, lulus dalam waktu tersingkat, mendapatkan pekerjaan tercepat,  dengan gaji terbesar.

Keadaan tak berubah ketika berada di tempat kerja dan berkarya. Kita masih saja diukur dengan angka-angka. Gaji terbesar, jabatan tertinggi. Jumlah kekayaan terbanyak. Mobil termewah. Rumah termegah, Pakaian termahal. Jam tangan merek terkenal. Dan ter…, ter …, ter … lainya ! Parahnya, dengan ukuran-ukuran kuantitatif itulah, kualitas kita sebagai manusia dibanding-bandingkan.

Keberagamaan pun tak luput dari pengukuran kuantitatif. Keberagamaan seseorang tak lagi diukur dengan kualitas penghambaanya pada Yang Maha Pemberi Kehidupan. Tetapi diukur seberapa lebar jilbabnya, seberapa panjang jenggotnya, sudah berapa kali umroh dan hajinya, sudah berapa masjid yang telah dibangunya.

Memang kompetisi membuat hidup kita menjadi bergairah. Tetapi, jika ukuran angka-angka kuantitatif itu yang menjadi tujuan, bukankah itu malah menyesatkan? membuat kita terlupakan dari esensi yang sebenarnya. Yang wasilah (tools) malah menjadi goyah (tujuan),  yang goyah?

Seorang murid yang terjebak mengejar angka, bisa jadi malah melupakan esensi dari belajar itu sendiri. Akibatnya, ketika sudah mendapatkan bukti lulus dengan sederetan angka-angka dibaliknya, sang murid pun enggan belajar kembali. Padahal, bukankah belajar itu semestinya sepanjang hayat?

…. nanging ojo ngucap ‘bodo yo ben’. Golek ilmu kudu telaten. Ning dunyo peteng mripate. Manungso kesasar dalane. Nuntut ilmu ilang faedahe. – Cak Nun

Seorang Anggun C Sasmi, dalam sebuah acara bincang-bincang di salah satu stasiun TV Singapura berbahasa Melayu,  ditanya: apa arti kesuksesan buat Anggun? Ada yang menarik dari jawaban Mbak Anggun. ” Sukses terbesar buat aku itu, ketika aku jalan-jalan terus ketemu dengan seorang yang tidak aku kenal, yang mencegat dan berkata kepada ku: Anggun, terima kasih, lagu kamu telah banyak menginspirasi ku “.

Rupanya, buat Anggun, sukses itu bukan ukuran-ukuran kuantitatif, jumlah penghargaan, jumlah penjualan album. Tetapi, ketulusan dan kejujuran dalam berkarya. Sukses itu tentang bagaimana dia menghayati dan menikmati dalam setiap berkarya.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita jujur dan tulus dalam berkarya? Jangan-jangan kita lupa esensi dari kehidupan kita. Jangan-jangan kita lupa menghayati dan menikmati kehidupan ini, karena tersesat mengejar ukuran-ukuran kuantitatif itu? Padahal,

… ning donyo sepiro suwene. Njur bali ning panggonane. Ning akhirat yo sejatine. Mung amal becik ya sangune – Cak Nun

Pada hakekatnya, bukankah Tuhan tidak mengukur dengan ukuran ter ter ter itu? tetapi yang terbaik, terikhlas, amalnya dan terbanyak manfaatnya buat orang-orang di sekitarnya. Apalah artinya tumpukan kekayaan, ilmu tinggi menjulang, segenggam kuasa, kemuliaan jika yang tiada terkira, jika hanya untuk keunggulan diri kita sendiri? Bukankah, hanya kebaikan kita yang bisa dibuat bekal di kehidupan selanjutnya. Hanya dengan hati yang tenang, jiwa yang bersih, kita akan kembali pada keridloanya.

Advertisements

One comment

  1. Benar utk dituliskan tp susah pengamalannya ya mas😊. Saya n suami jg sering saling mengingatkan, namanya manusia ya-suka kebawa emosi-kl ada yg ngejek/mbanding2kan trus panas ati…yah, mudah2an kita bisa mulai dr diri kita trus dalam keluarga kecil kita dulu ya, utk lbh mengejar kualitas diri yg ‘di dalam’ dan bukannya tampilan fisik saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s