Pendar Pelangi di Langit Desa Sheffield

… berkemajuan, bukan berarti mesti tercerabut dari budaya kita sendiri – a random thought

 

pelangi_di_shiffield

Pendar Pelangi, Sheffield, UK

Sepertinya sudah lama saya tidak berbagi cerita perjalanan. Yah, memang sudah lama tidak jalan-jalan. Irama hidup sedang memaksa saya lebih banyak untuk menangis di pojokan, ketimbang cengengesan di jalanan. Seperti kehidupan sampean-sampean juga, hidup saya pun bagai anyaman sedih dan senang, gembira dan lara, bangga dan kecewa. Tetapi, bukankah itu gerak alamiah kehidupan? yang harus disikapi secara wajar, tak perlu dirayakan atau ditangisi secara berlebihan.

Terima kasih buat yang sudah merindukan cerita perjalanan saya.Nah, ini cerita perjalanan saya khusus sampean, tentang satu hari pada musim gugur tahun 2014 di desa Sheffield.

sheffield_railway_station

Stasiun Kereta Api Sheffiled (wikimapia)

Saya pergi bersama keluarga kecil saya, sekedar menyegarkan suasana alam pikiran saya sejenak, dari kejenuhan mengikuti ritme kehidupan yang itu-itu saja. Berangkat dari Nottingham pagi sekali, untuk mendapatkan tiket kereta api yang paling murah.

Sampai di stasiun kereta api Sheffield, aroma pedesaan sudah tercium dari kota ini. Makanya saya lebih senang menyebutnya desa dari pada menyebutnya kota. Karena kepagian, kami berlama-lama menikmati suasana di sekitar stasiun. Sambil menunggu matahari memancarkan cahaya keemasanya, menghangatkan pagi itu.

 

kota_sheffield

Salah satu sudut kota Sheffield

 

Keluar dari stasiun, terpampang jelang gedung tinggi menjulang bertuliskan “Sheffield Hallam University“. Itu lo, kampusnya mas Andrea Hirata itu. Kusapukan tatapan mata saya, ke seluruh sudut kota. Rasanya, saya langsung jatuh cinta dengan suasana kota ini. Suasana pedesaan yang tenang, dengan bangunan-bangunan klasik yang esotik. Sepertinya, setiap sudut kota ini menyimpan banyak cerita yang layak untuk ditelusuri.

Dari stasiun, dengan bantuan google map, kami berjalan kaki menuju The University of Sheffield (UoS). Sebenarnya lebih cepat naik tram, atau bus. Tetapi, untuk menghemat ongkos, dan untuk lebih memaknai arti perjalanan itu sendiri, kami memilih jalan kaki. Sambil menikmati suasana kota yang mulai bergeliat di akhir pekan itu.

 

UniofSheffield

Universitas Sheffield

 

Di sepanjang perjalanan itu, kami menemukan banyak tempat makan yang menjual nasi dan ayam goreng halal. Waduh, nasinya enak banget rek. Berasa nasi liwet. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan kaki, kami sampai juga di kampus UoS.

 

weston_park

Weston Park, Sheffield

 

Di area kampus itu, kami langsung disambut dengan taman yang sepertinya luas sekali. Namanya: Weston Park. Ini semacam ruang terbuka hijau di dalam kampus sepertinya. Layaknya sebuah taman, di dalamnya ada danau, sekawanan angsa, bebek, merpati, pohon-pohon yang sedang berguguran daunya, dan bangku-bangku kayu yang berderet-deret di bawah pohon yang daunya sedang berguguran itu. Tempat merenung dan menikmati susana.

 

bebek_dan_burung_ditaman

Merpati dan Bebek di Taman

 

Ilyas begitu kegirangan berbagi kue muffin nya dengan sekawanan bebek dan merpati di dekat danau itu. Sungguh, riuh suara hewan-hewan unggas itu mengundang keriangan hati sendiri.

 

bangku_kosong_dan_gugur_daun

Gugur daun maple dan Bangku kosong

 

Tetapi bangku-bangku kosong yang dijatuhi daun-daun pohon maple yang berguguran itu lebih menarik perhatian ku. Sebelum daun-daun itu tertiup angin yang membawanya menyusuri tanah, entah sampai dimana berakhirnya. Saya jadi teringat, salah satu ayat di Al-quran:

” …. dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. (al-An’aam: 59)

Yah, kadang kita ingin terlalu mengatur-mengatur hidup kita, bahkan kadang kurang ajar mengatur Tuhan, agar memenuhi kemauan kita begini dan begitu. Padahal, jangankan kehidupan kita, bahkan daun yang jatuh pun Gusti Allah sing ngatur.

ditaman_sheffield

Sebuah Monumen di Weston Park

Kadang, kita begitu sombong membangga-banggakan capaian-capain hidup kita, prestasi, penghargaan, tumpukan kekayaan, kepintaran. Seolah semata karena kerja keras dan kehebatan kita. Padahal, jika saatnya tiba, kita tak ubahnya daun-daun yang bergurguran itu bukan? Jatuh, terinjak-injak, dan terlupakan sama sekali. Tak seorang pun berdaya melawan takdir kematian Sing Moho Kuoso.

 

museum_sheffield

Museum Sheffield, Weston Park

 

Setelah mencipta kenangan, dengan duduk-duduk di bangku kosong sambil merasai sensasi dijatuhi guguran daun-daun itu, kami beranjak ke sebuah museum yang masih berada di salah sudut Weston Park ini: Museum Sheffield, Weston Park. Ya, tentu saja gratis, karena kalau ndak gratis, kami tidak akan masuk.

 

didalam_museum

Di Dalam Museum Sheffield

 

Saya selalu menikmati berada dalam sebuah museum. Berada di dalamnya, saya seolah-olah sedang membaca ayat-ayat Tuhan. Melihat sisa-sisa kejayaan peradaban manusia di masa lalu itu, lagi-lagi mengingatkan saya akan ketidakabadian. Pada saat mereka hidup di puncak kejayaanya, mereka tidak akan mengira, bahwa suatu saat mereka hanya akan tinggal cerita.

fun_in_the_museum

Dress Up, Museum Sheffield

Museum ini menyimpan banyak cerita tentang kehidupan orang-orang Sheffield di masa lampau. Dari jaman purbakala hingga jaman perang dunia. Saya selalu iri dengan keberadaan museum di setiap kota di negara ini. Museum itu tak ubahnya pitutur peradaban dari generasi ke generasi. Generasi berikutnya, tak seharusnya terperosok pada  lubang kesalahan yang sama dengan generasi sebelumnya. Tetapi apa jadinya, jika ada sebuah bangsa yang tak peduli, tak pernah tahu menahu, bagaimana kehidupan para leluhurnya?

 

masjid_di_sheffield

Pintu Masuk Masjid Muslim Welfare House, Sheffield

 

Kami keluar dari museum saat tiba waktu Duhur. Ujian sebagai seorang muslim ketika jalan-jalan adalah ketika tiba waktu sholat. Apalagi, di negara yang tidak banyak muslimnya seperti di Inggris ini. Tapi, untungnya ada sebuah masjid di sekitar kampus. Di Severn Road No. 10-12. Jangan bayangkan seperti masjid di Indonesia yang ada kubahnya. Di tempat yang dinamai Muslim Welfare house ini, hanya bangunan 3 rumah biasa yang dialihfungsikan sebagai masjid. Tetapi dalamnya cukup luas dan nyaman.

 

di dalam masjid

Interior Masjid

 

Selepas sholat, kami kembali mengelilingi kampus, dan ketika hari menjelang senja, kami berjalan kembali ke city centre yang tidak jauh dari stasiun kereta api. Di tengah perjalanan itu kami dibuat takjub dengan lukisan alam, pendar pelangi yang melengkung tepat di atas desa Sheffield. Subhanallah.

 

city_centre_sheffield

City Centre, Sheffield, Menjelang Senja

 

Akhirnya kami menghabiskan sore menjelang senja itu di city centre. Buat banyak orang waktu senja adalah waktu yang istimewa. Waktu yang tepat untuk menikmati segala suasana. Sore itu, suasana kota kecil Sheffield ini semakin bergeliat. Semakin surup, semakin banyak orang berlalu lalang. Sebelum malam menjemput siang. Maklum, malam minggu adalah saat mereka berpesta, merayakan kehidupan, setalah lima hari sibuk bekerja.

 

alun2_sheffield

Alun-alun Sheffield

 

Kami duduk-duduk tepat di jantung kota. Di alun-alun yang ada air mancurnya itu. Mengamati orang-orang berlalu lalang menikmati sisa-sisa hari. Ada sepasang pengantin yang sedang berbahagia, mengumbar senyum kebahagianya dengan sempurna. Segerombolan orang mengiringi mereka, mengabadikan momen itu dengan jepretan-jepretan kamera. Air mancur itu menjadi saksi air kebahagiaan mereka.

Ada juga konser musik etnik di sudut jalan yang lain. Saya tidak tahu namanya. Tetapi, kurang lebih seperti tabuhan rebana yang mengiringi Tari Zapin. Orang-orang yang kebetulan lewat, mengelilingi pertunjukan itu membentuk lingkaran penuh.

Ketika matahari telah tenggelam sempurna di balik cakrawala, kami kembali ke stasiun kereta. Angin malam di musim gugur itu membawa hawa dingin yang menusuk sumsum tulang. Kami menghangatkan badan dengan menyeruput kopi pahit panas di warung kopi di dalam setasiun itu.  Hingga kereta yang akan membawa kembali ke Nottingham tiba.

Advertisements

4 comments

  1. Terimakasih Cak, saya jadi GR karena diawal2 nyinggung komentar saya, haha. Semoga studinya cepat selesai dan gantian 3 tahun lagi saya sebagai undergrad student di negara sana. Amiin. Nggak ada niatan membukukan tulisan” disini cak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s