Lelaki Pengosek WC

… tetapi begitulah, dimana-mana nasib orang rendahan. Kehadiranya sebenarnya tak diharapkan, mereka hanya dibutuhkan, untuk kemudian dilupakan selama-lamanya- a random thought.

 

peralatan_perang

Ilustrasi: Peralatan Perang

Dia sudah harus terbangun, saat orang-orang masih terlena dalam nikmatnya tidur. Masih terbuai dalam dekapan kehangatan selimut, atau pelukan pasangan hidup. Bahkan, saat suhu kota sedang membeku, beberapa derajat di bawah angka 0 derajat celcius.

Sepagi itu, dia harus memulai harinya. Bergelut dengan cairan-cairan kimia, kain-kain dan kertas-kertas lap, yang berwarna-warni. Merah, hijau, biru dan kuning. Baki air berwarna merah dan tak lupa sebuah mop pengepel lantai.

Dengan sebuah kereta dorong, lelaki berkulit agak hitam, bersepatu hitam, bercelana hitam, dan berkaos kerah hitam bertuliskan CBRE itu berkeliling dari ruang WC satu ke ruang WC yang lain. Di setiap sudut, dari lantai 1, lantai 2, lantai 3 dan kembali lagi ke lantai 1 dari bangunan bertingkat tiga yang dari lagit terlihat seperti kotak persegi itu.

Di setiap ruangan paling private itu, sang lelaki mendatangi tempat pembuangan kotoran manusia itu satu persatu. Membersihkan sisa-sisa zat buangan dari tubuh manusia yang paling menjijikkan itu dengan cermat dan teliti. Tak jarang, kloset itu pun tersumbat, dan kotoran manusia itu meluber kemana-kemana. Tetapi dengan sabar, dia harus mengatasinya sendiri, mengosek setiap inci dinding kloset itu dengan sikat khusus, dan melumuri nya dengan cairan kimia berwarna biru. Lalu menyemprotnya, dengan cairan kimia warna merah, dan mengelapinya dengan kain lap warna merah setiap closet berwarna putih tulang itu layaknya barang antik yang harus dirawat dengan baik. Hingga setiap closet itu menjadi bersih, mengkilat, dan wangi.

Beberapa jenak kemudian, lelaki itu berpindah ke setiap pembuangan pipis khusus laki-laki, urinoir, itu. Di semprot-semprotnya dengan cairan kimia warna hijau. Dijumputnya, setiap ekor rontokan jembut kemaluan pria itu dengan kain lap berwarna merah. Sisa-sisa kencing kekuningan yang pesing itu dilapnya perlahan penuh penghayatan dengan kain lap berwarna merah. Hingga setiap ceruk pembuangan kencing itu menjadi bersih, mengkilat, dan wangi.

Kemudian lelaki itu beranjak mengelap setiap cermin yang terpasang di ruangan itu, memastikan cermin itu terlihat bening tak setitik noda pun menempel. Begitupun dengan wastafel, tak boleh sedikitpun ada sisa-sisa sabun yang menempel, semuanya harus terlihat bersih, mengkilat, dan wangi. Termasuk dinding-dinding keramik ruangan itu. Terakhir lantai ruangan itu harus dilumuri dengan cairan kimia anti bakteri berwarna kuning, sebelum dipelnya lantai itu dengan kain mop, sehingga semuanya menjadi bersih, mengkilat, dan wangi. Jika sedikit saja tidak bersih, kurang mengkilat, dan kurang wangi, esok hari sudah bisa dipastikan mendapat teguran dari atasan, karena selalu saja ada penghuni kantor itu yang komplain.

Padahal, sang lelaki itu harus berkejaran dengan waktu, karena dia hanya diberi waktu yang sangat terbatas. Dia bekerja seolah dikejar-kejar oleh setan penunggu toilet itu. Tak sadar, keringatnya pun meleleh di pagi sedingin itu.

***

toilet_boys

Ilustasi:  The toilet boys and girl

Akhirnya, hari ini ku putuskan untuk mengakhiri profesi ku menjadi bagian dari lelaki pengosek WC itu. Tanpa seorang pun mengucapkan satu kata terima kasih kepada ku. Profesi dengan bayaran buruh paling rendah di negara ini itu, memang sepi dari apresiasi. Tetapi ramai dengan komplain dan keluhan. Rupanya, para penghuni kantor itu, selalu menuntut kesempurnaan di ruang sangat pribadinya itu. Tetapi, tak pernah memikirkan orang-orang di balik kesempurnaan itu. Tetapi begitulah, dimana-mana nasib orang rendahan. Kehadiranya sebenarnya tak diharapkan, mereka hanya dibutuhkan, untuk kemudian dilupakan selama-lamanya.

Akhirnya, hari ini ku terima rayuan ndoro dosen ku, menjadi peneliti pembantu, sambil menyelesiakan studiku yang tinggal sedikit lagi, insya Allah. Tawaran yang sebenarnya sudah diberikan kepada ku enam bulan yang lalu. Tapi, dasar diriku saja yang bodoh, malah memilih melanjutkan profesi sebagi lelaki pengosek WC. Padahal, kerjanya hanya di depan komputer di tempat yang sangat terhormat, pun bayaran per jamnya pun dua kali lipat dari pengosek WC.

Terima kasih wahai orang-orang di kantor ku. Senyum, keramahan, dan kebaikan beberapa orang di kantor itu akan selalu menjadi kenangan-kenangan dalam hidup ku. Setidaknya, kapalan di kedua telapak tangan ku ini, akan jadi kenangan untuk beberapa tahun ke depan. Kadang kita perlu menjadi orang rendahan, agar suatu saat jika takdir membawa kita menjadi orang yang di ‘atas’, tidak menjadi jumawah. Kadang, kita perlu menjadi orang yang diabaikan, hanya sekedar untuk memahami arti kata menghargai.

Advertisements

6 comments

  1. …dan pengalaman si lelaki itu akan roda kehidupan yang terkadang di bawah dan suatu ketika di atas, akan menjadikan ia sebagai salah satu ciptaanNya yang bisa bersabar saat sulit dan panda dalam menggandakan syukur di saat kondisi senangnya. Selamat tinggal bau pesing.

  2. …dan pengalaman si lelaki akan roda kehidupan ini semoga dpt membawanya utk menularkan arti kata menghargai kepada keturunan, murid/mahasiswanya, dan orang2 di sekitarnya…😊

  3. No, hidup tidak seperti roda yg kadang di atas kadang dibawah, tapi hidup itu seperti roda yg kalau kita sedang di bawah kita harus BERUSAHA untuk memutarnya untuk meraih ke posisi atas. Kalau kita ceroboh, maka roda akan turun ke bawah. So, kitalah yg bikin roda itu berputar. Bukan “PASRAH”.

    Sante kang, kabeh wong mengalami masa masa susah. Ngerti dewe aku biyen yo ngalami jaman susah. Saiki aku wis ngguwanteng koyok model hahaha. nek urusan urung payu payu kuwi emang aku menghendakinya sih. Nek aku wis pingin rabi, yo GAMPANG garek milih sing antri akeh HAHAHAH *kok malih curhat?* HAHAHAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s