Imam Tahlil dan Ukuran Sukses Santri

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalu
makan dari  hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

tahlilan

Ilustrasi: Tahlilan di kota Loughborough, UK

Dulu di penghujung abad 20, waktu masih nyantri di pondok pesantren Darussalam, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Blokagung, di desa karang ndoro, Tegal sari, Banyuwangi, ada percakapan antar kang-kang pondok yang masih saya ingat sampai sekarang. Ohya, kang ini di pesantren ini adalah kata sapaan egaliter antar santri yang artinya “mas”,  tidak peduli sapaan yang lebih tua ke yang lebih muda, atau sebaliknya, maupun yang seumuran, semuanya dipanggil dengan sapaan Kang. “Kang Mukhlason, Kang Ali, Kang Bambang” contohnya. Percakapan itu adalah tentang ukuran sukses santri pondok ketika nanti sudah pulang kembali mengabdi di tengah-tengah masyarakat.

yo sak elek-eleke arek pondokan yen muleh sek dikongkon dadi imam tahlil” – ya, sejelek-jeleknya, alumni pondok pesantren itu kalau pulang kembali di tengah-tengah masyarakat masih dipercaya sebagai imam tahlil.

Begitulah, menjadi imam tahlil, alias pemimpin doa untuk orang yang sudah meninggal itu adalah ukuran minimal kesuksesan seorang santri. Setahun, lima tahun, berlalu dari hari  ketika saya lulus dari pondok, belum pernah yang namanya dipercaya jadi Imam tahlil. Apalagi di kampung halaman saya sendiri, sudah terlalu banyak alumni pondok yang jauh lebih sepuh, dituakan dan dihormati di kampung saya. Dengan ukuran kesuksesan seperti itu, jelas sudah saya adalah alumni pondok yang gagal total.

Sampai pada akhirnya, saya mendapatkan kesempatan belajar lagi hijrah ke negeri jiran, disponsori perusahaan minyak negeri tersebut. Lumayan, teman-teman sesama pelajar Indonesia di Indonesia, sering mempercayai saya sebagai tukang do’a. Tukang do’a kalau pas ada kumpul-kumpul pengajian, atau pas upacara bendera tujuhbelasan. Sedikit terangkat dari stigma buruk saya sebagai arek pondokan yang gagal. Tapi belum pernah juga yang namanya jadi Imam tahlilan.

Kemudian, alhamdulilah saya diberi kesempatan belajar lagi, pakai uang hasil perasan keringat rakyat Indonesia, di Eropa, di Inggris lebih tepatnya. Nah baru disinilah saya pernah jadi Imam Tahlil. Setiap ada salah satu anggota keluarga dari orang-orang Indonesia-baik yang tinggal sementara maupun tinggal menetap disini, ada yang meninggal dunia, saya yang selalu ketimban sampur untuk jadi Imam tahlil. Mungkin, karena orang-orang mengenal saya sebagai orang NU tulen. Seperti, kemaren terakhir tahlilan di kota Loughborough. Pada akhirnya, pecah telur juga stigma santri gagal itu. Malah jadi Imam tahlil level internasional lo, ada bule Inggrisnya juga yang ikut tahlilan. Hehe.

Saya jadi teringat teman-teman santri satu gotakan (baca: kamar) satu asrama di pondok Blokagung dulu. Di asrama saya dulu ada 7 kamar double decker dan serambi asrama tempat segala kegiatan mulai pengajian, sorogan, bandongan, tahlilan, manaqiban, istigotsahan, syawir, diba’an, lalaran, sholat malam berjamaah, khitobah alias latihan pidato.  Kamar double decker, maksudnya kamar dua lantai, ada bagian yang ngerong di dalam tanah, dan satunya lagi di atas permukaan tanah. Di kamar ukuran 3×3 m itu kami tinggal bersama sekitar 15 orang, tidur hanya beralas sajadah tanpa bantal. Konon asrama ini dulu dibangun oleh jerih payah santri sendiri dengan bantuan dari masyarakat. Maklumlah, kecuali pesantren yang kyainya mau jadi juru kampanye Golkar, di jaman orde baru, pemerintah sama sekali tidak peduli dengan pesantren. Malah, seolah dengan sengaja melabeli lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang jumlahnya ribuan itu, sebagai institusi pendidikan kaum bersarung yang terbelakang dan anti kemajuan. Dan kyaipun tidak mungkin menarik SPP dari santri untuk membangun gedung, karena siapapun boleh mengaji di pesantren, baik yang punya uang maupun tidak.

Santri di pondok Blokagung berasal dari hampir seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari strata sosial, memang kebanyakan mereka berasal dari keluarga akar rumput, konstituenya NU dan PKB, yaitu orang-orang dusun yang sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan sektor-sektor informal lainya. Teman satu kamar saya dulu kebanyakan berasal dari Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Ada juga yang berasal dari Demak, Lampung, Bali, dan dari sekitar Banyuwangi sendiri.

Secara umur, kami sangat beragam, ada yang jauh lebih senior 5-10 tahun dari saya, ada juga yang masih kanak-kanak baru lulusan SD. Saya dulu kebetulan masuk pondok setelah lulus SMP. Kebanyakan santri pada waktu itu hanya mondok dan ngaji saja. Sebagian kecil, termasuk saya, sambil sekolah di sekolah/madrasah umum milik pondok yang ijazahnya diakui pemerintah setingkat SD, SMP, dan SMA walaupun dengan kualitas ala kadarnya. Bahkan sekarang sudah ada universitasnya.

Kegiatan pondok padat merayap sekali. Bangun sebelum subuh, untuk kemudian sholat subuh  berjamaah di masjid. Setelah mengaji Alquran, adalah waktunya hafalan muhafadzoh kitab-kitab nahwu, shorof, balagoh, mantiq (ilmu tata bahasa dan sastra Arab) mulai dari Jurumiyah, tasfrif, balagoh, imrithi, qawaidul i’lal, hingga yang paling terkenal nadzom Alfiah, yang jumlah 1000 baris lebih sedikit.

Pukul 6 pagi baru dimulai Pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin, kitab besar 4 jilid yang sebagian besar tentang tasawuf karya Imam Algazali itu. Pengajian kitab ini diikuti oleh santri senior, yang sudah setidaknya 4 tahun mondok di pesantren ini. Pengajian biasanya baru berakhir antara pukul 7-8 pagi.

Santri yang merangkap sekolah  dengan ijazah yang diakui pemerintah sesuai kurikulum nasional, mulai sekolah pukul 7.00 pagi hingga pukul 12.oo siang. Sementara, santri yang tidak sekolah, waktu sampai duhur itu biasanya digunakan untuk kegiatan nembel kitab. Ketika ngaji kitab, biasanya ada beberapa kata yang lupa, atau terlewat dikasih makna di bawahnya, atau dikasih catatan pinggir. Entah karena tertidur waktu mengaji, atau memang terlalu cepat. Nah, di waktu senggang itulah kitab yang bolong itu ditambal dengan meminjam kitab dari santri lainya. Beberapa santri juga ada sambil bekerja jadi buruh tani, atau kuli bangunan membaur dengan orang-orang desa di sekitar pondok.

Di kamar saya waktu itu, tidak ada separo yang sambil sekolah. Sebagian besar, hanya mondok saja. Mereka kebanyakan hanya sekolah di madrasah diniyah yang ijasahnya tidak diakui pemerintah, dan ngaji kitab kuning saja. Ada yang alasan karena tidak ada biaya, ada juga yang karena berfikir sekolah berijazah pemerintah itu tidak penting. Ndak jadi pitakon kubur katanya.

Kegiatan sekolah berakhir, sekitar 30 menit sebelum adzan sholat duhur berkumandang. Tetapi, karena gurunya banyak yang sering tidak masuk, banyak yang pulang sebelum jam itu. Saat tidak ada gurunya itu, biasanya saya habiskan di perpustakaan pondok, yang hanya buka 2 hari seminggu, karena harus giliran dengan santri putri. Jika perpustakaan sedang tidak buka, saya biasanya ikutan tidur qoilulah di serambi asrama, tidur sunah sebelum jamaah sholat duhur.

Waktu antara duhur dan ashar adalah waktunya sekolah di Masrasah diniyah, yang terdiri dari 8 tingkatan. Tingkat Ula (terdiri dari 4 tingkatan), Tingkat Wustho (terdiri dari 2 tingkatan), dan Tingkat ‘Ulya (terdiri dari 2 tingkatan). Masing-masing tingkatan harus ditempuh selama 1 tahun. Jadi setidaknya dibutuhkan waktu 8 tahun untuk tamat dari madrasah diniyah ini. Sayang, saya dulu harus drop out dari tingkat 3, Ula. Sehingga, wajar jika pemahaman agama saya hanya pas-pasan. Belum pantes jadi imam tahlil, apalagi jadi Mudin ( dari kata Imamudin, pemuka agama) di kampung.

Antara waktu Ashar dan Maghrib, untuk tingkatan Ula, ada kegiatan taqror, mengulang kembali pelajaran yang telah dipelajari tadi antara waktu duhur dan ashar. Ada mustahiq, atau wali kelas, yang mendampingi. Tetapi yang memimpin kegiatan taqror ini ya teman kita sendiri. Biasanya teman yang sebenarnya, sudah pernah mondok di tempat lain sebelumnya. Sementara santri tingkatan Ula dan Ustho, waktu antara ashar dan maghrib itu adalah waktu mengaji kitab Ihya Ulumidin kembali.

Saat maghrib tiba, banyak para santri yang berbuka puasa. Pada saat saya mondok dulu, hampir semua santri melakukan tirakatan puasa sunah. Paling ringan puasa sunah senin-kamis,  kemudian puasa daud, yang sehari puasa sehari tidak. Tetapi tidak sedikit yang puasa ngebleng, puasa setiap hari selama tiga tahun berturut-turut, kecuali di hari-hari yang diharamkan berpuasa seperti hari raya idul fitri, dan idul adha saja. Puasa itu namanya puasa dalailul khoirat. Tidak hanya puasa saja, tetapi juga harus membaca wirid yang harus dibaca setiap pagi dan petang, sebanyak jumlah tertentu yang telah ditetapkan.

Jenis puasanya pun juga macam-macam. Ada puasa mutih, yang hanya berbuka dan sahur dengan nasi putih dan garam saja. Ada yang berbuka dengan buah-buahan saja. Ada yang puasa ngrowot, yang tidak boleh makan nasi,  hanya boleh makan nasi jagung atau tiwul alias nasi dari tepung gaplek binti telo binti singkong. Juga ada puasa nyegah ruh, yang tidak boleh makan makanan yang ada ruh nya, termasuk telur dan micin. Jadi lauknya hanya sayur-sayuran yang bumbunya hanya garam saja.

Saya termasuk santri yang agak mbeling, karena belum bisa melakukan tirakat sehebat itu. Paling banter puasa senin kamis, daud, atau 40 hari berturut-turut dan bebas sahur dan buka apa saja. Meskipun pada saat itu ada omongan, belum jadi santri blokagung sejati kalau belum pernah puasa dalail khoirat yang puasa 3 tahun berturut-turut itu. Alamak, kagak nahan saya. Karena konon, katanya dulu pendiri pondok, KH Mukhtar Syafaat saja, tirakatnya puasa 8 tahun berturut-turut, sebelum akhirnya menjadi kyai besar di Banyuwangi pada masanya.

Setelah sholat jamaah maghrib di masjid, kegiatan selanjutnya adalah ngaji kitab Tafsir Jalalain di dalam masjid. Kitab tafsir Alquran karya duo Jalal: Jalaludin Almahali dan Jalaludin Assuyuthi , yang ditulis pada abad ke 14 yang terkenal di pesantren NU itu. Kajian tafsir itu berakhir ketika menjelang sholat isyak.

Setelah sholat isyak, kegiatan selanjutnya adalah ngaji kitab kuning tiga kali, jam sembilan, jam sepuluh, dan jam sebelas malam. Berakhir tepat tengah malam, yang ditutup dengan sholat malam berjamaah sekaligus menutup kegiatan santri di hari itu.

Kegiatan itu berulang setiap harinya, kecuali malam jumat dan jumat pagi. Dimana semua kegiatan pengajian kitab kuning dan kegiatan sekolah libur. Diganti dengan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, seperti latihan pidato, seni baca alquran, seni bela diri, seni hadrah, atau kegiatan keorganisasian serta kegiatan ritual seperti ziarah kubur ke makam pendiri pondok, manaqiban, tahlilan, diba’an, dsb.

Berbeda dengan belajar di sekolah umum, dimana para siswa diajak rajin belajar agar mampu meraih citanya menjadi insinyur, bankir, dokter, dan konco-konconya. Di pesantren, niat keduniawian seperti itu haram hukumnya. Orang menuntut ilmu harus diniati semata-mata karena Allah, sebagai rasa syukur atas nikmat akal sehat untuk menghilangkan kebodohan.

Tetapi, meskipun niat keduniawian itu haram. Tetapi, sebenarnya, ukuran sukses maksimal yang beredar di antara para santri adalah menjadi Kyai. Apalagi menjadi kyai pondok pesantren yang santrinya ribuan jumlahnya. Atau menjadi da’i kondang dengan sejuta umat sekaliber KH Zainuddin MZ yang fenomenal itu.

Tetapi, seberapa banyak kah alumni pondok yang berhasil menjadi kyai atau da’i kondang? Dari teman sekamar ku dulu, setahu saya tak satu pun yang saya dengar berhasil menjadi kyai yang memiliki pesantren. Apalagi yang memiliki ribuan santri. Tetapi ada satu-dua yang menjadi ustad, guru di madrasah-madrasah atau sekolah di kampung halaman. Sambil tetap menjalani profesi orang tuanya sebagai petani, atau pekerjaan-pekerjaan informal seperti berdagang dan lain sebagainya.

Untuk ukuran orang-orang jaman sekarang yang memuja materi, kebendaan, dan atribut sosial berupa jabatan dan profesi, jelas mereka tidak bisa dibilang sukses. Tetapi, haruskah sukses diukur dengan umumnya orang jaman sekarang. Apa tidak kalah mulia menjadi petani, nelayan, pedagang yang makan dari hasil keringatnya sendiri, makan nasi dari padi yang ditanamnya sendiri. Jelas halalnya bukan? Daripada hidup berkelimpahan harta, tapi tidak terang halal haramnya. Harta dari memeras keringat dan memperdaya orang lain.

Bukankah hidup di dunia hanya selama mampir ngombe? Bukankah, kehidupan akhirat yang abadi selama-selamanya?  Apalah artinya berkelimpahan harta di dunia, jika nanti di akhirat hanya membuat semakin lama tertahan di panasnya siksa Jahanam? Apalah arti penderitaan sementara di dunia, jika di akhirat kita akan mereguk kebahagiaan dan kemujuran yang sebenar-benarnya.

Advertisements

4 comments

  1. Mbayangne nek aku mondok mesti seminggu ae wis kabur kang. Kegiatane padet banget! Kapan nggosipe ya? HAHAHAHAHAH…

    Untunge bapakku biyen cukup menyekolahkanku di emte es, lalu setelah bapak meninggal, otomatis diriku melanjutkan ke SMA saja supaya semangat belajar. Soale pas ndik MTs aku rodok nakal hahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s