Cerutu di Pagi Musim Dingin yang Cerah

…. tandure wus sumiler tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar – Lir Ilir

 

pagi_yg_cerah

Ilustrasi: Langit Cerah di Pagi Musim Dingin (Nottingham, UK)

Sepagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku meluncur dengan sepeda ontel paling setia ku, keluar dari rumah sepeda dari kantor tempat ku bekerja setiap sebelum subuh itu  menuju ke rumah, tempat para cinta ku bersemayam.  Setiap kayuhan kunikmati dengan sepenuh rasa. Rasa syukur akan nikmat hidup, yang hingga pagi itu masih aku reguk.

Langit pagi di musim dingin yang seharusnya segera berakhir itu,  terlihat memendarkan warna biru yang amat cerah, tak sejumput awan pun terlihat menggantung di awang-awang atap langit. Sinar matahari yang merah keemasan itu, berlimpah ruah menyapu rata kota Nottingham yang masih didekap dingin menembus sumsum tulang.

Suhu di aplikasi telepon cerdas ku tercatat nol derajat celcius. Tak heran jika sisa-sisa hujan rintik semalam yang menggenang di tanah itu itu, menjelma menjadi serpihan-serpihan es. “Krak, krak”. Aku sangat menikmati, suara ban sepeda ku ketika melindas serpihan-serpihan es itu. Jalanan aspal, kaca mobil, genting rumah, pagar, semuanya menjadi berlapis es tipis. Entah, berapa kilo garam yang ditaburkan setiap paginya oleh ciy council untuk membuat jalanan itu tidak licin.

Embun pagi yang menempel pada rumput-rumput hijau di sekitar jalanan setapak itu pun ikutan membeku. Warna bening berubah menjadi putih. Warna permadani rumput hijau, berubah menjadi permadani putih.

Cicit cuit cuit, cicit cuit cuit. Ramai merdu kicauan burung-burung  berokestra di antara ranting-ranting pepohonan yang masih kerontang. Seolah menjadi pertanda, musim semi akan segera tiba, menjemput musim dingin.

Orang-orang yang berjalan dan bersepeda ke kantor melintasi jalan itu, nampaknya juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan: kedinginan. Mereka tampak menggunakan jaket-jaket sangat tebal. Lengkap dengan kupluk, penutup kepala, dan syal yang mengikat leher mereka. Tetapi, sepertinya tak ada yang mengalahkan diriku, yang memakai baju enam lapis. Dua kaos oblong, dua sweater, dan dua jaket super tebal. Jangan tanya, celana dalam ku berapa lapis. Karena akan aku jawab: ratusan ! Haha, dengan seperti itupun aku masih kedinginan.

Tetapi, selalu saja pencilan di dunia ini. Orang-orang yang keluar dari garis distribusi normal. Seorang laki-laki bule bertubuh tambun, rambutnya yang seperti rambut jagung  nan tebal dan panjang hampir sepinggang itu dibiarkan terurai diterpa angin. Melintas dengan sepedanya, bersalipan dengan sepeda ku, hanya memakai singlet tipis, dan celana sangat pendek sekali. Sebagian besar bagian tubuhnya, diumbar dipagut oleh dingin. Senyumnya sumringah, menandakan dia sedang berbahagia. Tanpa bisa ku terka, alasan apa yang membuat nya bahagia di pagi sedingin itu.

Di persimpangan jalan raya, ku hentikan sepedaku. Menunggu beberapa jenak, menyaksikan mobil-mobil mewah itu antri melintas di depanku. Mercedes, Range Rover, Bentley, Rolls-Royce, Porsche, Audi, BMW, Lexus. Hehe, sampai aku hafal merek mobil-mobil itu. Yang jelas, nyaris tidak pernah ku lihat ada merek Toyota, apalagi yang Avanza. Hehe.

Deru nafas dari hidung dan mulut ku menyembur membentuk kepulan asap putih, seperti orang yang sedang merokok. Lalu, sengaja ku sembur-sembur nafas ku, membentuk kepulan-kepulan asap yang terbang dan lenyap ditelan angin.

Tiba-tiba, seorang perempuan inggris yang seperti nya malas diet itu, melintas di depan ku, memamerkan semburan asap cerutu yang dihisap nya. Seolah perempuan itu mengejek ku: ” Hai gembel, beli dong, cerutu mahal kayak punyak ku ini ! Cuih !”

 

amsterdam_cerutu_sumatera

Ilustrasi: Cerutu di salah satu toko di Jantung kota Amsterdam, Belanda

 

Argh cerutu itu. Ketika jalanan kembali sepi, aku menyeberang jalan raya itu dan kembali melaju dengan sepeda ontelku. Sepanjang, sisa perjalanan seolah pikiranku tersedot oleh cerutu perempuan angkuh itu. Aku teringat, cerutu-cerutu dari Indonesia, yang dijual dengan harga sangat mahal di pusat kota Amsterdam.

Tetapi, tiba-tiba hati ku berubah jadi sedih, teringat para petani tembakau di lereng gunung Sindoro,  gunung Sumbing, dan gunung Prau di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Yang malam itu, mengadukan nasibnya kepada Cak Nun. Kyai nyentrik, jimat Indonesia, yang memilih jalan sunyi, menyapa langsung rakyat kecil di tataran akar rumput. Cak nun yang sengaja menepi dari ingar bingar pasar, media, dan kekuasaan. Menghibur kesusahan hidup mereka dengan gamelan kyai kanjeng yang menentramkan jiwa itu, membesarkan hati mereka, mengajak mereka mendekat dan mencintai kanjeng nabi dan gusti Alloh dengan bersholawat dan menembang lagu puji-pujian ke yang memberi kehidupan.

petani_temanggung

Ilustrasi: Senyum Para Petani Tembakau di Lereng Gunung Sindoro

Mereka yang malam itu datang dari dusun-dusun pelosok gunung dengan menyewa truk dan pick up, untuk mengadukan nasib mereka ke Cak Nun, di alun-alun kabupaten. Bagaimana logikanya, daun-daun emas hijau yang di Eropa harganya sangat mahal sekali itu, tidak jua membawa kemakmuran hidup bagi para petani yang menanamnya itu. Bagaimana mungkin,  daerah penghasil tembakau srintil, tembakau paling enak nomor satu di dunia itu, masih saja menjadi kantong-kantong kemiskinan.

Alih-alih pemerintah yang katanya perwakilan wong cilik itu memihak pada mereka, eh malah bersekongkol dengan para penguasa pemilik modal, dengan alasan ini itu , melarang mereka yang menumpukan hidupnya pada tembakau itu, untuk menanam tembakau. Di saat yang sama, mempersilahkan orang kaya itu, mengimpor tembakau dari luar negara.

Belum lagi, mereka juga berselingkuh dengan mereka yang mengaku para pemuka agama, yang memfatwakan merokok itu haram. Yang berimplikasi pada semakin rumitnya nasib para petani tembakau itu. Jika menanam tembakau dilarang karena merokok dapat membahayakan kesehatan. Kenapa mereka tidak sekalian melarang petani tebu melarang tanaman tebu, toh gula juga bisa menyebabkan penyakit diabetes yang juga mematikan itu.

Entahlah,  nalar bodoh ku, tak mampu memahami nalar kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa itu. Yang pada saat kampanye berebut mandat kuasa dari rakyat itu, seolah semuanya menjelma bak malaikat yang akan merubah nasib mereka yang kian pilu itu. Buktinya? argh, mungkin aku saja yang tidak tahu, para pemegang kuasa itu sudah berbuat banyak untuk  memihak nasib para petani itu. Hanya saja, nasib baik masih enggan memeluk orang-orang gunung itu. Entah, sampai kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s