Teman Ngontel

Hidup adalah tentang menggores kenangan-kenangan di halaman putih buku ingatan yang tersimpan di kepala dan terekam di hati. Yang akan kita buka kembali, di kala senja usia nanti. Yang karenanya, kita akan dihakimi di alam kehidupan berikutnya nanti. -a random thought

denhague_02

Ilustrasi: Teman Ngontel, Den Hag, Belanda

Belakangan ini, saya merasa kena gejala Permanent Head Damage (PhD). Konon itu adalah hal biasa terjadi pada mahasiwa PhD tingkat akhir seperti saya saat ini. Yang saya alami adalah suka ngomong sendiri di jalanan, baik saat jalan kaki maupun sedang naik sepeda. Seolah saya sedang berdiskusi dengan seorang invisible man di samping saya. Tetapi belum parah banget sih, masih sadar kalau sedang berpapasan dengan orang lain langsung mingkem, walaupun sering kebablasan juga. Mungkin sekali dari orang-orang yang berpapasan itu ada yang menganggap saya memang ora genep. Haha, maklum saya bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktu saya di lab. dengan orang-orang nerd. Orang-orang yang lebih asyik dengan alam pikiranya sendiri-sendiri. Orang-orang yang lebih suka menggauli komputer, ketimbang bertegur sapa dengan orang-orang di sekitarnya. Kami biasa, selama 10-12 jam di tempat yang sama, secara fisik hanya berjarak beberapa centi, tetapi tidak saling bertegur sapa sama sekali. Yah, mungkin begitulah jalan hidup computer scientist sejati. Orang-orang yang rela kehilangan beberapa ketrerampilan sosialnya dari orang-orang normal pada umumnya.

Gejala ini, mengingatkan saya pada suatu siang hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya berdebat sengit dengan seorang teman dekat yang hampir setiap hari ngontel –naik sepeda bareng pergi pulang sekolah dari ndeso kami yang berjarak lebih dari 10 km. Siang yang terik sepulang sekolah itu, kami berpapasan dengan seorang perempuan yang ngomong, ngomel sendiri sambil mengayuh sepedanya.

Saya bilang kalau perempuan itu sepertinya ora pati nggenah, alias setengah gila. Eh, si teman itu ngotot banget kalau kayak gitu itu normal-normal saja. Menurutnya, adalah sesuatu yang wajar, jika ada seseorang yang melakukan monolog seperti itu meskipun di tempat umum, yang dilihat oleh banyak orang. Sementara saya juga ngotot, bagaimana pun juga orang normal pasti malulah ngomong-ngomong sendiri tidak jelas seperti itu. Nahloh, sekarang itu terjadi pada diri saya sendiri. Haruskah saya memvonis diri saya sendiri sebagai orang setengah gila? Mudah-mudahan saja pendamat teman saya yang lebih sohih.

Saya jadi ingin mengenang teman ngontel saya ini. Seorang teman yang saya masih merasa dekat dengan nya hingga sekarang. Kebetulan, kami dari desa yang sama, yang tiap hari harus ngontel di SMP di kota kecamatan, yang konon, waktu itu adalah SMP terbaik se-Kabupaten Banyuwangi. Kebetulan sejak kelas dua, kami juga berada di kelas yang sama.

Meskipun teman karib, yang hampir tiap hari ngontel beriringan, tetapi kami sebenarnya hampir selalu berbeda pendapat. itu tercermin dari tulisan tangan kami yang kontras perbedaanya. Tulisan tangan saya ekstrim miring ke kanan, sementara tulisan dia ekstrim miring kekiri. Hikmahnya, eyel-eyelan sepanjang perjalanan naik sepeda itu membuat jarak total 20 km tiap hari itu tidak terasa.

Ada saja yang kami perdebatkan. Tidak hanya saling berdebat, tetapi dia juga dia tidak sungkan-sungkan mengkritik. Pernah suatu hari saya sakit hati sama dia. Waktu saya membaca puisi di depan kelas pada saat pelajaran bahasa Indonesia. Dia bilang saya wagu, tidak pantes membaca puisi seperti itu. Padahal puisi yang saya baca itu mendapat nilai cukup bagus dari Bu Tutik, guru bahasa Indonesia kami.

Meskipun nyaris tidak pernah sependapat, tetapi anehnya, kami masih akrab-akrab saja. Saya sering mampir makan siang, sholat, dan nonton TV di rumahnya. Yang paling saya suka adalah minum air kendi yang hanya ada di rumahnya. Duh rasanya sueger alami sekali. Apalagi, direguk sepulang sekolah seperti itu, setalah ngontel sepuluh kilometer di tengah terik matahari, menyusuri jalan beraspal di antara hamparan sawah sejauh mata memandang dengan pemandangan lukisan alami gunung raung yang gagah itu.Biuh, rasanya, bagai air syurga segarnya.

Cerita di bangku SMP itu kami tutup dengan goresan kenangan yang sangat indah. Saat pelepasan kelas tiga SMP itu, kami bersama kedua orang tua kami, sama-sama dipanggil di atas panggung. Mendapat penghargaan berupa piala kecil dari kepala sekolah. Saya sebagai lulusan dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi pertama, sementara sang teman tertinggi ketiga. Bu Kutrik, guru bahasa Inggris kami, yang juga wakil kepala sekolah, berkomentar:  wah rupanya tahun ini prestasi terbaik diboyong anak-anak desa Plampangrejo, mengikuti jejak sukses wali kelasnya, Bu Mahmudah, yang juga sama-sama dari desa Plampangrejo.

Setamat SMP, kami berpisah mengikuti garis nasib sendiri-sendiri. Tetapi, sayangnya kami sama-sama gagal meraih impian kami masing-masing. Sang teman, yang dari awal kelas tiga bercita-cita ingin sekolah di SMA 3 Yogyakarta, ternyata ditolak mentah-mentah,  meskipun NEM nya waktu itu salah satu yang tertinggi se Kabupaten Banyuwangi. Dan harus puas hanya diterima di SMA 2 Bantul, setelah gagal masuk SMA 1 Bantul, di kota kelahiranya itu.

Saya lebih parah lagi. Saya bercita-cita ingin sekolah di STM Telkom Sandi Putra, Malang. Tapi harus gigit jari setelah gagal tes wawancara dan tes kesemaptaan. Kegagalan itu  mengantarkan saya masuk pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Sebelum akhirnya, setahun kemudian pindah ke pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Padahal, sangat mudah saja, saya dulu seperti teman-teman sekelas pada umumnya, masuk di SMA 1 Genteng, SMA terbaik di kabupaten Banyuwangi. Entahlah, saya waktu itu menolak mentah-mentah, saat bapak hendak mendaftarkan saya di SMA itu. Tetapi, mungkin itulah yang namanya hidup atau garis hidup.

Ketika kami menghidupi masa-masa SMA kami masing-masing, kami  masih keep in touch satu sama lain. Karena waktu liburan yang tidak sama antara sekolah umum dan di pesantren, sang teman pernah nyambangi saya di pesantren Blokagung. Begitu juga dengan saya, rela mbolos dari pondok pesantren, demi bermain ke rumahnya saat liburan sekolah.

Saat saya di Jombang, kami masih saja rajin berdebat. Bedanya, kalau di jaman SMP kami berdebat langsung saat ngontel beriringan. Waktu saya di Jombang, kami berdebat lewat surat-suratan. Layaknya, orang pacaran saja, hampir setiap seminggu kami saling berkirim surat. Hehehe

Waktu jaman kuliah, sang teman diterima di fakultas kedokteran hewan, UGM. Saya di fakultas teknologi informasi, ITS. Saat jaman kuliah ini, komunikasi sudah semakin jarang. Hanya sesekali kami saling berkirim email. Pernah juga suatu waktu, saat liburan kuliah, saya yang main ke Yogyakarta.

Menjelang lulus kuliah, saya masih ingat sang teman lah yang memaksa saya untuk mengambil kesempatan kuliah negeri dengan beasiswa, yang saat itu sudah saya dapatkan saat masih mengerjakan Tugas Akhir aka skripsi. Padahal, saya kurang begitu berminat, karena saya sudah kebacut ingin cepat kaya, dengan kerja di perusahaan asing. “Kapan lagi lo, sampean bisa merasakan hidup di luar negeri? itu akan menjadi kenangan-kenangan tak terlupakan, dalam hidup sampean”. Begitulah, kata-katanya mencoba meyakinkan saya. Tetapi, akhirnya saya pun memilih bekerja di perusahaan Korea, menjadi orang Jakarta. Sebelum saya sadar bahwa dunia kerja dan keindahan Jakarta ternyata tak seindah yang saya bayangkan. Saya pun akhirnya menuruti saran sang kawan.

Dalam memilih karir setelah lulus kuliah, kami pun berbeda pendapat, bagi dia yang penting adalah menjadi PNS. Saya malah sebaliknya, asal bukan PNS. Walaupun, pada akhirnya, kita sama-sama berstatus PNS, hehe. Sang kawan menjadi PNS sebagi dokter hewan, di kota Cirebon. Saya jadi PNS, sebagai dosen di alamamater sendiri.

Latar belakang pendidikan agama yang berbeda membuat kamu memiliki cara pemahaman dan penghayatan agama yang sangat berbeda, walaupun theologically, for sure kami sepakat. Saya yang alumni pondok, sudah bisa ditebak sangat NU banget, dengan pemahaman Islam yang sangat moderat, Islam yang ramah dan lentur dengan budaya pribumi. Lebih mengutamakan esensi daripada bungkus-bungkus budaya. Dalam hal-hal yang tidak ushul (pokok-pokok) agama, buat saya ekspresi keberagamaan orang Indonesia tidak harus sama persis dengan Arab.

Sementara sang teman, yang belajar agama dari liqo’ dan halaqah di sela-sela kuliah di kampus. Pemahaman agamanya lebih cenderung ke salafy-wahaby yang agak rigid dalam memahami agama. So, banyak amalan-amalan agama saya yang ala NU seperti tahlilan(mendoakan orang yang sudah meninggal dunia), ziarah kubur, menurut pemahaman dia, itu dianggap sesat, dan tempatnya di Neraka. Saya ‘pemuja’ Gus Dur, sementara dia penghujat Gus Dur.

Puncaknya, beberapa waktu yang lalu, saat saya kampanye Islam Nusantara, Islam yang ramah, toleran, dan rahmat bagi alam, lewat jejaring facebook. Sang teman, kirim message yang isinya: “Kang, maaf yo, untuk sementara sampean saya unfriend dan saya block dari facebook”. Saya mung mbatin tertawa, mau unfriend dan nge block kok pakai ijin segala. Kebetulan saya juga sudah jarang facebookan lagi.  Sejak saat itu, kami tidak pernah komunikasi sama sekali. Tetapi, ada teman dia yang rajin ngabari kabar sang teman ke saya.

Saya berjanji, someday saya akan main ke rumah sang teman. Beda pandangan bukan berarti harus putus hubungan. Bukankah kita sudah terbiasa berdebat, dan berbeda pandangan. Belakangan, saya sadar susahnya di jaman sekarang nyarik seorang teman yang maun menjadi cermin buat diri kita sendiri seperti sang teman tadi. Teman yang mau mengkritik, mendebat, meluruskan, tapi di saat yang sama, diam-diam setulus hati mendoakan kebaikan kita. Serta persahabatan yang berkelanjutan, lintas ruang dan waktu. Kebanyakan teman model jaman sekarang adalah teman-teman yang selalu tampak manis di depan kita. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi ketika di belakang kita. Jangan-jangan malah menceritakan keburukan kita kepada orang lain. Jangan-jangan malah bersorak sorai, ketika kita terpuruk dan jatuh. Pun kita berteman sebatas kepentingan, saat kita masih saling membutuhkan, saat kita terjebak dalam ruang dan waktu takdir yang berdekatan, disitu kita berteman. Selanjutnya, ya wassalam!

Semoga kita dikaruniai teman-teman sejati yang baik, mau menjadi cermin diri kita. Dan terhindar dari teman-teman yang tampak baik di depan saja. Ammiin

Advertisements

4 comments

  1. Huahuhauhaua… Aduuuh, ceritomu mirip banget karo aku. Cuman nek aku gak sampe diblock sih, aku nduwe konco ngontel sing ket jaman biyen seneng debat tapi roto2 hepi ending sih. Konco ngaji pas jik SD. Ngajine NU banget kang. SD ne bedo. SMP yo bedo. SMA lagi bertemu. Akrab banget! Sejak kuliah terpisah, dia ke Jogja, aku Suroboyo, dia kena pengaruh mirip2 wahabi mungkin. Pokoke rodok keras. Rodok gak toleran.

    Pas ketemuan, untunge kok biasa ae. Gak mbahas bab agomo. Memang sengojo gak mancing bab agomo sih (ibukku soale yo ra seneng nek anake tukaran perkoro agomo karo koncone), mbahas bab nom noman biyen ternyata iso akrab kang. Suwe2 bengi trus mulih. Soale bahan sing dicritokne khan mesti uuuwakeh. Hahahah..

    Suk nek ketemuan karo koncomu, coba mbahas bab sing gak marahi perpecahan. Misal mbahas jaman nom noman aeeee.. amaaaan.. damaiii.. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s