Pak Tua di Kantor ku

… rejeki mu ndak bakalan kijolan karo rejeki ne wong liyo – kearifan jawa

Withby_hidup

Ilustrasi : Pasangan Lanjut Usia

Setiap pagi hari di kantor ku aku bertemu banyak orang. Orang-orang yang yang sudah memulai bekerja disaat, sebagain orang-orang masih menikmati kehangatan di balik selimut. Manusia dimana-mana sama saja, ada yang terlihat ramah, ada juga yang terlihat cuek. Ada yang terlihat baik hatinya, ada juga yang terlihat jahat orang nya. Tetapi, kita tak pernah benar-benar bisa membedakan antara yang benar-benar baik, yang berpura-pura baik, yang terlihat jahat, dan yang pura-pura jahat.

Dalamnya lautan bisa kita selami keberadaaanya, dalamnya hati manusia, siapa yang mampu untuk menyelami nya?

Saat aku harus membersihkan dengan vacuum cleaner setiap butiran debu dan kotoran di atas karpet alas ruangan kantar ku itu, ada yang acuh dengan keberadaanku. Tetapi, ada juga yang nguwongke keberadaanku. Salah satunya Pak Tua yang seorang programmer itu. Dia selalu berdiri, menghentikan sejenak pekerjaanya, dan mempersilahkan aku membersihkan karpet di bawah kursi dan meja kursinya itu. Ucapan thank you selalu kudapatkan bersama sejumput senyum terukir di wajahnya yang terlihat arif itu.

Yang menarik perhatianku adalah, tangan kirinya yang gemeteran sangat kenceng  dan tak terkontrol. Aku hanya mengira mungkin itu adalah gejala dini yang namanya penyakit stroke.

Tangan itu mengingatkan ku pada Emak Keter,  emak salah satu penjual nasi langgananku di kantin La Tansa. Kantin nomor satu di pondok induk pesantren Darul Ulum, Rejoso Jombang. Ya, kondisi tanganya sama persis. Masih terekam jelas di memori ingatanku bagaimana tangan emak itu gemetaran tak terkendali saat menciduk kuah kari ayamnya yang aduhai lezat sekali itu.

Bagaimana kabar mu mak? masihkah kari ayam mu selezat dulu? Bagaimana juga kabar Mak Dah, Mak apin, dan Mak Anis. Perempuan-perempuan perkasa yang setiap pagi hari memasak sarapan ribuan para santri itu. Emak-emak yang tidak pernah bersaing satu sama lain, karena sangat yakin rejekinya sudah diatur sendiri-sendiri sama Sing Kuoso. Buktinya, semua warung makan di kantin itu punya santri langganan sendiri-sendiri. Semoga mereka sehat dan dikaruniai umur yang berkah.

Selain tanganya yang gemeteran, yang membuat ku terkesan lainya dari Pak Tua itu adalah tampilan di layar monitornya. Console hitam, dengan font tulisan di dominasi warna merah, biru. Tampilan monitor itu mengingatkan ku kembali saat pertama kali belajar ngoding, membuat program komputer, pekerjaan yang masih saya geluti hingga detik ini. Saat masih duduk di kelas 1 STM Telkom Darul Ulum, pertama kali mengenal bahasa pemrograman bernama Basic. Bukunya setebal bantal, tapi praktik ngoding nya hanya seminggu sekali, karena harus antri dengan siswa dari kelas lain di satu-satunya lab. komputer milik sekolah saat itu.

Kemudian kelas dua dan kelas tiga, berganti bahasa pemrograman Pascal, Foxpro, sebelum akhirnya mengenal visual basic dan pemrograman web di awal abad 21. Bu Yulia adalah guru bahasa pemrograman pertama ku. Orangnya baik, pintar, dan sabar membimbing kami yang layaknya anak seumuran segitu ada saja kenakalanya. Dan juga Bu Amiroh dan Bu Rofiqah. Yang saat itu semuanya bergelar B.Com, di belakang namanya. Gimana kabar mu Bu? Semoga para ibu guru Bahasa Pemrograman yang luar biasa itu dikaruniahi keberkahan hidup selalu.

Terakhir, yang membuat ku tekesan dengan Pak Tua dikantor ku itu adalah semangatnya. Tubuh boleh saja semakin rapuh dimakan usia, tetapi semangat hidup tak boleh kendur. Tetapi, pengabdian tak boleh surut.

Advertisements

5 comments

  1. Satu hal yg patut ditiru dr budaya barat adalah semangat hidup-bahkan sampai titik darah terakhir, mungkin itu ya yg menyebabkan mrk masih kelihatan seger waras walaupun umur kadang sdh kepala 8..

  2. 😀kalo di indo sebenarnya jg tdk sedikit ortu yg mandiri, ga ngerepotin anak putu, malah ga jarang anak putu yg ga ngrumangsani- ortu dah sepuh msh dijaluk’i duit mulu, sing ortunya yo nurutin ae, ga mikir kl itu malah ga mendidik…duh, opo aq sing mikir’e terlalu kejem nang anak yo..😓

    1. hehe iyo sih bener juga mbak banyak yg kayak gitu. Bar dinikahne, kabeh wes dicepake kambek wong tuone. Tapi yen aku, diumbar koyok pitek, kon golek pangan dewe. Hahaha…….. sakno.

  3. Ga popo mas, masio diumbar koyo pitek wong yo nyatane iso miber tekan Londen lho, lak adoh tenan, lha cobak ra diumbar malah rung karuan tekan Nottingham 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s