Pagi di Jalan Itu

Tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena sebuah alasan – a random thought

jalan_di_inggris

Ilustrasi: Jalan Setapak di Pinggir Sungai, Universitas Cambridge, UK

Morning ! sapaan itu selalu aku dengar bersama sejumput senyum dari orang-orang yang datang di kantor antara jam 5-8 pagi, saat aku sibuk mengelapkan handuk kecil basah di atas  meja-meja kantor yang kotor oleh bekas tangan dan noda kopi itu, dengan penuh penghayatan, sepenuh hati. Di pagi hari yang masih perawan. Kata orang barat pagi itu lebih arif bijaksana dari pada siang atau senja hari. Sobahunnur, pagi yang bercahaya kata orang Arab. Very good Morning, kata orang Malaysia. Kata orang tua di Jawa, ora ilok, tidak baik, tidur di pagi hari. Nanti rejekinya ditutul pitik, dimakan ayam.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Walaupun kadang terasa berat. Harus bangun antara jam 3-4 pagi, saat badan masih terasa pegal karena baru saja istirahat 3 jam sebelumnya. Tetapi, pagi hari memang penuh berkah. Rasa pegal dan kantuk hilang seketika, saat air wudlu yang dingin dan segar itu membasuhi muka ku. Sejenak berganti dengan keteduhan hati, ketentraman jiwa, dan kejernihan pikiran, saat kurapalkan do’a-do’a untuk memulai hari ku.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Alam dan orang-orang yang aku jumpai di jalan dan waktu yang sama itu selalu menggairahkan imajinasiku. Jalan setapak yang selalu aku susuri bersama sepeda ontel ku sebelum jam 5 dan setelah jam 8 pagi itu terlalu banyak menyimpan kenangan-kenangan dalam hidup ku. Aku selalu mengayuh sepedaku sangat perlahan di jalan itu. Sekedar untuk lebih khusuk mendengarkan cicit cuit-cuit nyanyian burung-burung  yang bertengger di atas ranting-ranting pepohonan yang berjejer-jejer rapat di kiri kanan jalan itu. Indah nian, suara orkestra alam ini.

Aku selalu menikmati pagi hari ku. Di jalan itu, setiap pagi hari aku nyaris selalu bertemu dengan orang-orang yang sama, di tempat dan waktu yang juga nyaris sama, tetapi kami tidak saling mengenal, tapi kami tidak saling bertegur sama. Hanya bertukar senyum, itupun hanya kadang-kadang saja. Orang-orang yang bertaburan dari rumahnya menjemput rejekinya masing-masing. Bagaikan segerombolan ayam yang keluar dari kombong nya, sobo kebon, mengais rejekinya masing-masing. Bagaikan sekawanan burung-burung yang terbang meninggalnya sarangnya, bertebaran kesana kemiri, dan kembali ke sarangnya dalam keadaan penuh temboloknya di senja hari.

Ada seorang pemuda yang selalu saya temui di jembatan kayu, nongkrong di atas sepeda ontelnya yang bersandar di jembatan sempit itu, sambil sedat sedut kebal-kebul menikmati setiap sedotan rokok di jarinya.  Saya hanya membatin, wah ini anak muda, kalau di negara saya, bisa jadi artis yang digandrungi  para remaja putri baru gede kemaren sore yang menjerit-jerit histeris berebut ingin menjadi rokoknya. Karena ketampanan dan ke’cool’anya tak kalah dengan yang namanya Aliando ataupun Algazali.

Ada cewek cantik berbibir tipis, berambut pirang, yang pipinya selalu terlihat kemerah-merahan. Terlihat jelas aura kecapekan di wajahnya. Sepertinya dia telah menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda ontelnya.

Ada seorang kakek tua, yang mengayuh sepedanya dengan sangat perlahan. Lampu sepedanya terlalu besar, kelap-kelip lampu merah itu menyilaukan mata ku yang selalu sabar menunggu di belakangnya,  tanpa pernah berani menyalipnya. Di boncengan sepedanya, ada tas ala Pak Pos tempo doeloe, yang membuat aku selalu penasaran apa isinya.

Ada seorang ibu, bersama dua bocah laki-laki, yang aku taksir berumur 4 dan 8 tahun. Si sulung bersepeda paling depan, disusul ibunya, yang terlalu sering menoleh ke belakang, memperhatikan si bungsu yang mengayuh sepeda mungilnya dengan gerak paling lambat dan sering terhenti. Si sulung kadang terlihat tidak sabar, dia menunggu diujung jalan, sambil khusuk membaca buku di atas sepedanya.

Ada seorang lelaki bertubuh kekar, berambut gondrong yang dikuncir di belakang, yang selalu berlari cepat dengan tas ransel berlawanan arah dengan ku. Di selalu memakai hoodie berwarna hijau muda.

Ada seorang gadis remaja bertato, berambut cepak yang selalu berjalan sangat cepat  sendirian berlawanan arah dengan ku. Menurutku, dia lebih cocok jadi model majalah fashion. Model pakaianya tidak lazim. Modelnya unik dan selalu berganti model setiap hari. Terlalu banyak aksessoris yang menempel ditubuh dan pakaianya itu. Dari ujung rambut yang sering berganti warna, hingga pergelangan kaki ada aksesorisnya. Aksesoris itu pun selalu berganti setiap hari.

Ada seorang lelaki hitam berambut gimbal ala mbah surip yang berjalan berlawanan arah dengan ku tepat di bawah jembatan rel kereta api. Model pakaianya kayak gelandangan, tetapi mengingatkan ku konsep pakaian Dicky adam, anak didik mbak Anggun diacara Xfactor Indonesia itu. Di kepalanya selalu melingkar headset berwarna putih bermotif bintang-bintang.

Ada mbak-mbak bertubuh tinggi sangat besar, bagian dadanya juga terlihat dua gundukan yang sangat besar sekali . Yang berjalan sangat berwibawa seolah jalanan yang dinjaknya bergetar karena hentakan langkah-langkah kakinya. Rambutnya yang sangat lebat dan panjang selalu dibiarkanya terurai bebas ke belakang. Dia selalu memakai kain tebal dan panjang, yang diikat ujung nya di lehernya, dan membentang menutupi bagian belakang tubuhnya, menjuntang ke bawah nyaris menyentuh tanah.

Ada juga seorang lelaki berwajah Arab yang menggandeng bocah kecil yang berjalan kecil di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat teduh, senyumnya selalu tersungging menghias bibirnya. Dari auranya terbaca bahwa lelaki ini adalah orang yang sangat sabar dan sangat ikhlas menjalani kehidupanya.

Hai, orang-orang yang selalu saya temui di jalan itu. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita kehidupan ku. Sayang, kita tak pernah saling mengenal. Kuyakin, ini bukanlah sebuah kebetulan. Tetapi untuk sebuh alasan yang baru besok atau besoknya lagi terungkap oleh ku.

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s