Yang Maju, Yang Rajin Belajar

“Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya” -Confucius

Ilyas_Membaca

Ilustrasi: Ilyas is reading his story book

Ibarat halaman demi halaman dalam sebuah buku, setiap penggalan perjalanan hidup selalu mengajarkan kearifan hidup yang akan mendefinisikan cara kita melihat kehidupan di penggalan perjalanan selanjutnya.

Seperti perjalanan menghidupi kehidupan di negeri-yang karena kedigjayaan bangsanya di berbagai bidang kehidupan, bahasanya menjadi bahasa dunia ini. Buat saya, banyak hal-hal yang saya yakin akan terus-menerus menjadi ingatan, dan inspirasi terus-menerus hingga titik terakhir perjalanan hidup saya nanti.

diLibraryCity

Di dalam sebuah perpustakaan umum, Nottingham

Salah satu hal itu adalah tentang budaya belajar. Dulu, saat masih kecil, di waktu antara maghrib dan isyak, di masjid dusun kami, saya sering mendengar kata-kata ajaib dari guru ngaji saya:

Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wamuslimatin. Minal Mahdi Ilal lahdi. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim lelaki dan perempuan, dari buaian sang ibu hingga masuk tiang lahat.

Kata-kata ajaib itu, yang kemudian saat saya di pesantren saya tahu bahwa kata-kata itu dielaborasi begitu detail di salah satu kitab kuning bernama “Ta’lim Muta’alim”, mengajarkan kwajiban belajar sepanjang hayat.

rakbuku_dilibrary

Sudut Perpustakaan khusus bocah-bocah kecil

Tetapi, saya benar-benar paham, bagaimana implementasi, manifestasi, dari kata-kata ajaib itu ya di negara ini. Ini adalah negeri yang bangsanya rajin belajar.ย Belajar dalam arti yang sebenarnya. Bukan sekedar belajar karena mengejar deretan angka-angka nilai, bukan sekedar demi selembar kertas yang karenanya derajat manusia dibeda-bedakan.

read_a_book

Buku Tiga Dimensi

Alangkah indahnya melihat seorang kakek tua yang renta, duduk di bangku taman sendirian, terlihat begitu menikmati ritual membaca buku kesayanganya. Atau bocah-bocah kecil yang keranjingan membaca di sudut perpustakaan. Atau ibu-ibu paroh baya berdiskusi asyik di salah satu ruangan perpustakaan komunitas. Atau gadis-gadis remaja yang berjemur di bawah terik matahari, tidur-tiduran beralaskan permadani rumput, sambil serius memelototi buku bacaan di tanganya. Atau orang-orang kantoran yang berdesakan di dalam kereta api setiap pulang dan pergi bekerja, tapi tak pernah terdengar riuh kegaduhan, karena setiap orang terlalu khusuk dengan buku bacaanya masing-masing.

diJubileeCampus

Latar Belakang: Djanogly learning Centre, University of Nottingham

Bandingkan, dengan perpustakaan kampus-kampus kita yang sepi dari pengunjung. Kecuali oleh mereka yang sekedar numpang koneksi internetan gratisan. Padahal disini, perpustakaan kampus, buka hingga larut malam, bahkan 24 jam 7 hari seminggu. Mereka tekun belajar dalam kesunyian.

Buku bacaan pun begitu tumpah ruah. Ada ribuan buku di perpustakaan-perpustakaan komunitas yang jumlahnya begitu banyak. Saya menyebutnya setiap dusun selalu ada. Di Car boot mingguan, sepuluh buku bekas yang masih bersih dari oret-oretan, bisa dibeli hanya dengan seharga sebatang lolipop. Jangan tanya berapa juta jumlah buku yang ada di perpustakaan sekolah dan kampus.

Tidak hanya rajin belajar dengan budaya membaca. Tetapi juga dengan budaya menulis. Serta budaya riset. Riset dalam arti sebenarnya. Riset dalam artian menciptakan ilmu-ilmu pengetahuan baru. Inovasi dan teknologi baru. Bukan sekedar riset-risetan, untuk mendapatkan selembar kertas, yang karenanya uang tunjangan akan mengalir ke kantong.

Dulu, saya pernah bertanya bagaiamana bangsa ini menyiapkan para generasi penerusnya yang begitu rajin belajar?

Lewat anak saya yang beruntung bisa sekolah gratis di negeri ini, saya sedikit mafhum, kenapa bangsa ini begitu rajin belajar. Rupanya, memang mereka begitu serius menyiapkan generasi yang rajin belajar itu.

Dari usia 3 tahun, bocah-bocah kecil yang masih sering menangis itu harus berada di sekolah setidaknya 3 jam sehari. Bukan hafalan lagu-lagu kanak-kanak yang ditekankan. Tapi mereka dilatih berimajinasi lewat dongeng-dongeng yang dongengkan setiap hari. Sekaligus mengenal kosakata yang bereserakan di kehidupan sekitar mereka. Setiap minggunya, setidaknya ada satu buku dongeng baru yang harus didongengkan di rumah.

Menginjak 4 tahun, si kecil sudah mengenal huruf dan angka. Bahkan, sudah belajar membaca. Sekolah pun, sudah mulai seharian, dari jam 9 pagi, hingga jam setengah 4 sore. Saya begitu takjub, ketika pertama kali melihat si kecil sudah bisa membaca buku dengan logat Bristishnya yang sangat fasih di usianya yang baru 4 tahun. Yah, walaupun masih buku-buku sederhana. Dalam setiap minggunya, selalu ada target setidaknya sebuah buku baru harus selesai dibaca dengan lancar oleh si kecil. Sama takjubnya, ketika si kecil sudah pandai menulis, berhitung dan menggambar imajinasi dalam alam fikiranya yang ternyata tidak sesederhana yang saya pikirikan.

Begitulah, negara ini, sedini mungkin menyiapkan para generasi penerusnya sebagai bangsa yang rajin belajar. Belajar lewat, dongen, membaca, menulis, berimajinasi dan berinovasi dari usia se dini itu.

Negara yang begitu yakin, maju mundurnya bangsanya di kemudian hari, ditentukan dengan seberapa serius menyiapkan generasi penerusnya sebagai bangsa yang rajin belajar.

Negara yang begitu yakin, bahwa setiap bocah dan anak yang hidup di negara ini berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar keras untuk memperoleh masa depan mereka yang lebih baik, apa pun latar belakang nya.

Negara ini mewujudkanya dalam alam nyata, bukan sekedar cita-cita sloganistik, yang tertulis dalam undang-undang dasar negara, yang hingga di ulang tahun ke 70 nya pun tak kunjung mampu mewujudkanya.

belajar

Serius Belajar, Neh !

Akhirnya, hanya bangsa yang rajin belajarlah, termasuk belajar dari sejarah masa lampau bangsanya sendiri. Termasuk belajar membaca bangsa dan tanah air sendiri, bukan sekedar mengembikย latah mengikuti bangsa lain. Yang akan keluar sebagai bangsa yang maju di kemudian hari. Karenanya, mari belajar menjadi bangsa yang yang rajin belajar, kawan!

Advertisements

15 comments

  1. Saat ini pun di negara kita rajin semua kok mas: kakek nenek msh sibuk mencari nafkah ngemong cucu krn anak2nya msh blm mandiri meski sdh berkeluarga, ibu2 terkadang sibuk dg belanja online n ngrumpi gaya hidup sambil nungguin anaknya, Abg2 lebih care dg update status foto selvie di hp canggih tp malah ga care kl buku pelajaran basah kehujanan krn katanya tdk punya uang utk beli jas hujan, di tv rajin dg sinetron2 yg mengajar gaya hidup mewah n memperdebatkan cowok tajir kl perlu dg membunuh, sementara anak2… harus mencari sendiri panutan mrk, kasian….

    1. ๐Ÿ™ kl terbawa emosi lg ya, tp fakta2 itu yg sehari-hari ada di depan mata n kita hanya bisa menghela nafas panjang….

  2. Hhmmmm….
    Bonus demografi Indonesia bs jadi bencana demografi kl usia muda nya tidak dipersiapkan dgn baik…

    Di sisi lain, cinta dgn negeri ini…tp sudah muak dgn segala kebijakan pendidikan yg carut marut…

    Cuman bs mengela nafas saja mas..
    Ga sabar mau sekolahin anak di sana..

  3. “Bandingkan, dengan perpustakaan kampus-kampus kita yang sepi dari pengunjung. Kecuali oleh mereka yang sekedar numpang koneksi internetan gratisan. …. ” <—- saya kok merasa tersindir dengan pernyataan ini ya, haha…
    Good luck cak!

      1. maaf cak, mau nanya soal penelitian/tesis… saya sudah baca tesis s2 cak shon..
        kira2 topik semantic web masih relevan ga buat penelitian tesis saat ini? misalkan dikaitkan dengan knowledge management di instansi pemerintahan..

        suwun atas jawabannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s