Mengumpulkan Tulang-Tulang Yang Berserak

Laisal fata man yaqulu kana abii : Innal fata man yaqulu hada anaa
Pemuda yg sejati bukan orang yg membanggakan nenek moyangnya, tetapi pemuda yg memiliki kemampuan untuk berjuang – Maqolah
silsilah_keluarga

Pohon Silsilah Keluarga

Akhir pekan kemaren, saya membaca salah satu artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan. Guru besar UIN Sunan Kalijaga, yang menceritakan kenangan bersama Alm. Gus Dur. Dalam tulisan itu, ada kutipan dialog yang membuat saya tertegun.

Mulkhan : “Jelek-jelek gini Gus, saya ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari.”

Gus Dur : ” Hemm” (berdehem).

Mulkhan : ” Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya adalah Ki Juru Kunci :D”

Gus Dur : “Wah, yen ngono awake dewe iki sih sedulur, sih sedulur! (Wah, kalau begitu kita ini masih saudara/ keluarga!).”

Kenapa tertegun? Pertama, adalah nama Kiai Kasan Besari. Entahlah saya merasa magic dengan nama itu. Kayak sudah kenal, tapi kok saya cari-cari di memori otak saya, tidak ketemu juga. Setelah saya googling, waw ternyata, Kyai Kasan Besari ini adalah kyai hebat yang menyejarah, pada tahun 1700an, dari Tegal sari, Ponorogo, Jawa Timur.

Dari website pondok modern gontor,  saya juga dapat informasi kalau pesantren tegal sari adalah cikal bakal Pondok Modern Gontor yang terkenal itu.  Sejarahnya, pondok gontor didirikan oleh keturunan Kyai Kasan Besari, setelah pondok tegal sari mulai ditinggalkan para santrinya. Hal biasa terjadi pada pesantren-pesantren di Jawa, biasanya ketika kyai yang kharismatiknya telah meninggal dunia.

Hal kedua yang membuat saya tertegun adalah kehebatan Gus Dur dalam mengingat para leluhurnya. Gus Dur sangat hafal detail silsilah nenek moyangnya.

Itu sesuatu yang sangat istimewa menurut saya. Di jaman yang setiap orang cenderung hidup semakin individualis ini, siapa sih yang masih peduli dengan keluarga di luar keluarga inti nya? Apalagi mengingat para leluhurnya? mengenang masa lalu yang telah mati? jelas sesuatu yang tidak worthed ya, untuk ukuran jaman sekarang?

Terus, kalau Gus Dur masih ingat para leluhurnya, wajar dong karena beliau adalah keturunan darah biru. Dimana para leluhurnya adalah senarai berantai orang-orang hebat yang diabadikan dalam sejarah, dan menjadi ingatan kolektif orang Indonesia. Nah, kalau rakyat jelata macam saya ini, apa penting nya? Hehehe

Tetapi, emang sejarah hanya boleh dimiliki oleh para pesohor? Saya yakin, banyak orang-orang yang lebih hebat dari para pesohor sejarah itu, yang hanya saja lebih senang berada di belakang layar. Yang memilih menempuh jalan sunyi, demi menjaga keikhlasan diri.

Lagian, bukankah sebenarnya masa sekarang dan masa depan kita ini tidak pernah bisa terlepas dari masa lalu? Bisa jadi kesuksesan yang sampean reguh saat ini adalah jawaban doa-doa embah buyut kita. Atau bahkan kenikmatan yang kita nikmati saat ini adalah hasil jerih-payah, pahit getir perjuangan para leluhur kita, yang bahkan mereka belum sempat menikmati buah dari getih perjuangan mereka sendiri.  Kita yang datang belakangan, tinggal enak-enak menikmati saja, take it for granted.

Jadi, masihkah kita tega melupakan para leluhur kita?

***

Dalam tradisi budaya Jawa, ada istilah ngumpulke balung pisah atau mengumpulkan tulang yang terpisah. Yang kurang lebih artinya adalah menelusuri sanak kerabat kembali. Persaingan hidup yang keras, kadang sering kali membuat kita sulit membedakan mana musuh mana lawan, membedakan mana kerabat mana orang lain.  Ngumpulke balung pisah itu adalah semangat untuk menjalin silaturrahim.

Nah dengan semangat ngumpulke balung pisah, saya tiba-tiba ingat 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih SD, Pak Lek saya datang ke rumah hendak pamitan mau berangkat merantau ke Malaysia.

Waktu minum es bareng di warung tetangga depan rumah, Pak lek saya menunjukkan selembar kertas, katanya sih silsilah keluarga kita. Saya yang anak SD, yang ndak tahu apa-apa waktu itu, ya cuman melihat sekilas saja, dan tidak tertarik sama sekali.

Iseng, kemaren saya menanyakan kembali silsilah itu ke Pak lek yang sampai sekarang masih di Malaysia itu lewat Whatsapp. Rupanya, catatan Pak Lek saya itu sudah hilang. Tetapi, kemudian Pak Lek menghubungi sepupunya, yang berada di Ryadh, Arab Saudi.

Beruntung, sepupu Pak Lek saya itu, masih hafal betul silsilah keluarga, dan silsilah keluarga saya itu pun akhirnya sampai di handphone saya. Saya sangat terkejut, karena ternyata:

Tada….!! dalam susunan silsilah itu berujung pada Kyai Kasan Besari, Tegal Sari, Ponorogo yang menyejarah itu. Setengah tidak percaya, soalnya di silsilah itu hampir semuanya ada embel-embelnya Kyai. Tapi, itu mungkin arti perasaan magic saya ketika mendengar nama Kyai Kasan Besari.

Silsilah itu saya cocokan dengan informasi yang ada di website pondok modern Gontor. Saya baca berkali-kali. Ternyata memang cocok. Terus saya tambah lagi riset dengan bantuan mbah google. Cukup membingungkan awalnya, karena terdapat inkonsistensi. Itu karena kebiasaan kyai jaman dahulu yang suka membolak-balik kan nama untuk keturunanya. Nama anaknya biasanya diberi nama sama dengan nama kakeknya. Sehingga menimbulkan kerancuan. Tapi akhirnya, kerancuan itu terpecahkan, dengan sumber informasi lainya.

Kemudian, entahlah, saya ujug-ujug iseng mention seorang teman saya, Mas Ndop, di twitter. Nanyain, kalau-kalau dia kenal sama nama salah satu kyai di silsilah itu. Dalam hati, saya ada feeling kalau teman saya ini masih ada kekerabatan dengan saya. Tapi ternyata dia tidak kenal. Malah dia bilang, kalau dia keturunan Joko Tingkir.

Obrolan twitter itu berujung dengan si Ndop ngasih lihat, dokumen lawas silsilah keluarga dia di google drive. Amazing, silsilahnya super duper lengkap sampai ke Nabi Adam.

Dari investigasi dokumen silsilah itu, akhirnya saya menemukan titik temu nasab saya dengan nasab si ndop. Yang artinya, saya pun bisa menemukan silsilah lengkap leluhur saya sampai nabi Adam ( disini hasil investigasi saya). Saya merasa melakukan something great, hari ini. Tetapi,  Wallahu a’lam kevalidan datanya.

Buat saya, tahu memiliki leluhur yang baik adalah inspirasi untuk bisa meneladani mereka, tidak lebih dari itu. Karena, indeed kualitas diri kita tergantung dari usaha keras kita sendiri jua. Terlepas dari, semua itu wes kersane Gusti Allah. Tidak ada jaminan putra kyai hebat akan melahirkan kyai yang hebat juga. Walaupun  ada pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonya. Tetapi seperti maqalah yang saya kutib di atas: Pemuda yg sejati bukan orang yg membanggakan nenek moyangnya, tetapi pemuda yg memiliki kemampuan untuk berjuang.

Bagaimana dengan leluhur sampean? jangan-jangan kita masih mambu dulur, hehe.

 

 

Advertisements

12 comments

      1. Ha, ha, ha, ok lah, kl gitu saya mau istirahat malam dulu…. Salam sejahtera untuk keluarga 👪… 😀 Pamit rutin nggih mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s