Ketika Muhammed, Ibrahim, dan Ilyas Merayakan Natal

…. hidup di lingkungan yang kosmopolit, di dunia yang semakin mengglobal dan plural, apalagi sebagai minoritas. Rasanya, tidak mungkin untuk memonopoli sebuah kebenaran. Kita harus rela berbagi kebenaran. Dibutuhkan kesadaran bahwa sebuah kebenaran bagi saya belum tentu kebenaran buat orang lain. Tetapi, hidup bebrayan yang damai dan harmoni adalah keinginan fitrah setiap manusia. Sebab itulah, toleransi adalah sebuh keharusan – A Random Thought

ilyas_chrismast_old

Suasana Natal di Inggris

Pagi yang masih perawan di musim dingin itu adalah hari terakhir anak saya, Ilyas, masuk sekolah. Jam di dinding rumah saya sudah sekitar jam 8.30 pagi, tapi suasana masih terasa seperti baru usai waktu Subuh. Sepagi itu, seperti pagi-pagi biasanya, saya harus mengantarkan Ilyas pergi ke sekolah dengan sepeda ontel saya. Mengayuh, kurang lebih 20 menit di jalan yang bergelombang dari rumah sampai gerbang sekolah di suhu udara yang dingin menggigit, bisa jadi hal tidak mengenakkan. Tetapi, tidak bagi saya.

Saya selalu menikmati obrolan di atas sepeda ontel dengan bocah 4 tahun itu.  Mengikuti setiap inchi perkembangan kecerdasan dan nalar berfikirnya dari hari ke hari dari obrolan itu adalah pengalaman mengagumkan buat saya. Hari itu, di atas sepeda pancal itu, dia bercerita dengan penuh kegirangan tentang sebuh pesta yang akan diadakan hari ini di sekolah. Dia akan menari dan menyanyi dalam sebuah performance yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya.

Yah, memang dari surat edaran yang diberikan oleh sekolah, hari ini akan ada pesta natal di sekolah, sebelum libur natal dan tahun baru selama 2 minggu. Iseng saya bertanya (tentunya dalam bahasa Inggris). Emangnya kamu mau nyanyi lagu apa, Ilyas? tanya saya penuh selidik. Dari boncengan hanya terdengar suara:Hemm jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu. Saya ulangi lagi pertanyaan yang sama, tetapi karena tidak ada Jawaban, saya ganti dengan pertanyaan Yes or No. Kamu mau nyanyi lagu Twinkle Twinkle little Star ya? Dengan tegas dan sedikit tertawa, dia menimpali : Nooo…. ! 

Lah terus lagu apa dong? kejar saya.  Baby Jesus, jawab nya dengan pelan. What? tanya saya mengkonfirmasi. Baby Jesus, Ayah !  jawabnya sekali lagi dengan logat Britishnya yang sangat fasih.

Entahlah  kata itu begitu menyeruak dalam hati saya. Andai saja, saya penganut Islam yang fundamentalist, saya pasti mencak-mencak dan melarang anak saya untuk pergi ke sekolah hari itu. Apalagi, ternyata performance nya itu diadakan di gereja katedral, yang letaknya kebetulan tepat  di depan sekolah. Pikiran saya jadi sedikit terganggu, karena saya tahu, lebih dari separoh di kelas anak saya adalah muslim. Sulit membayangkan, bagaimana bocah-bocah kecil bernama Muhamed, Ilyas, Ibrahim, Norin, Hadija, Abdul Manan, Burhan itu menyanyikan lagu Baby Jesus di dalam sebuah gereja. Dalam hati kecil saya berbisik: tak apalah, dia bernyanyi baby Jesus, toh bocah itu tidak tahu-menahu apa itu Baby Jesus.  Yang penting di rumah, mereka masih pandai mengaji dan membaca ayat-ayat quran, meskipun bocah-bocah itu juga tidak paham itu mengaji dan membaca ayat-ayat quran.

Untungnya saya paham bahwa kita harus bisa membedakan antara esensi agama dan budaya. Dan saya paham betul bahwa perayaan Natal, apalagi di tengah masyarakat Eropa is nothing to do, sudah sama sekali tidak ada kaitanya dengan agama. Natal semata-mata perayaan festival budaya, layaknya tahun baru cina, dan tradisi mudik lebaran di Indonesia. Bahkan di hari H natal pun, nyaris tak ada orang pergi ke gereja untuk kebaktian dengan khusyuk layaknya umat kristiani di Indonesia. Yang ada malah tidur, karena semalaman mabuk, dan bersenang-senang dalam pesta natal.

Sebulan sebelum Natal, semua tempat perbelanjaan dan kantor-kantor berhias diri dengan pernak-pernik natal. Di sudut-sudut jalan, di setiap sudut ruangan ada pohon natal, pohon cemara yang dihiasai lampu hiasa berwarna warni, tempat menggantungkan wish list. Demikian juga di setiap rumah. Sampai-sampai anak saya menangis, merengek-rengek minta dibelikan pohon natal di rumah. “Ayah,  I want to decorate Christmas tree in my house”  rengeknya suatu hari.

Sebenarnya, pihak sekolah sudah berusaha adil dan toleran. Sebelumnya, ketika Idul Adha, di sekolah juga diadakan Eid Party. Demikian juga waktu hari Diwali, hari raya umat Hindu, di sekolah juga diadakan Diwali Party. Tapi tentu saja, memang tak semeriah perayaan Natal. Karena memang, hanya natal lah, budaya asli di benua ini.

Sungguh indah sekali bukan, ketika hidup bebrayan, hidup bersama, dengan saling memahami dan menghormati? Mungkin kita tidak akan pernah selalu bisa bertemu pada definisi kebenaran yang sama, tetapi selalu ada alasan untuk bisa bertemu  pada titik kebaikan bersama. Walaupun, hidup di tengah perbedaan-perbedaan memang tidak selalu mudah.

Advertisements

3 comments

  1. Wahh, Kakak Ilyas udah makin pinter aja nyanyinya, Cak : ) Hehe, jadi inget Natal tahun lalu, makan malam sama temen kos yang sebenrnya atheis. Padahal nggak ada yang mengimani Natal juga. Tiap Natal juga sering dapat beberapa email dari orang-orang yang tahu persis aku Muslim dan tidak merayakan Natal. Ya, lebih karena budaya saja, seperti yang Cakshon ceritakan 😀

    1. hehe, iya Put. bisa nyanyi see you again juga lowh. Piye kabare Put? msh di Semarang atau jadi hijrah ke Yogya? Happy new Year, moga tambah sukses di tahun depan !

      1. Welahh, wis pinter tenan kakak Ilyas 😀 Kapan-kapan yen ketemu neh taktanggap e nyanyi hehe. Ini masih di rumah Cak, di Kendal. Hehe, masih proses seleksi, belum final. Pandonganipun Cak. Met tahun baru juga Cakshon, Mbak Lilik & Kakak Ilyas, amin amin amin matur nuwun doanya. Cakshon juga, semoga makin setrong dan berkah ngerjain thesis nya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s