Kearifan Hidup dari Bedug dan Kentongan

Meyakini sebuah kebenaran, tidak berarti hilangnya sikap kita untuk menghormati pandangan orang lain, karena sikap itu adalah cermin kematangan pribadi kita. – Gus Dur

sket5

Ilustrasi Bedug ( Gambar dari :http://kumpulansketsa.blogspot.co.uk/)

Pada musim gugur, di awal bulan September lalu, kami sekeluarga alhamdulilah,  berkesempatan mengunjungi The National Museum of Scotland, salah satu dari banyak museum di kota Edinburgh, Skotlandia. Sungguh, sebuah museum yang sangat indah dan megah, dimana kita bisa belajar banyak tentang hidup dan kehidupan dari masa lalu. Rupanya, museum ini tidak sekedar bercerita tentang masa lalu kehidupan di skotlandia, tapi juga di seluruh dunia.

Di salah satu sudut museum itu, kami dibuat nggumun dan tertegun dengan koleksi yang cukup lengkap, yang mendeskripsikan, bagaimana embah buyut dari embah buyut kami, orang Jawa hidup. Sesuatu yang justru mungkin sulit, kami temukan di Indonesia sendiri. Koleksi barang-barang antik itu, diberi nama sesuai dengan nama Jawa nya. Kendi misalnya, barang itu tetap dinamai Kendi, tanpa terjemahan dalam bahasa Inggris. Lukisan perempuan-perempuan Jawa abad 17-18 juga terpajang apik di dalam ruang pajangan.

Tetapi sayang, saya sedang tidak ingin bercerita tentang koleksi benda-benda sejarah orang Jawa jaman dulu di museum itu. Dari membaca salah satu artikel tulisan Gus Dur tadi pagi sambil malas-malasan di kasur, saya jadi ingat dua benda yang mungkin hanya ada di Indonesia, dan sangat mungkin sepuluh sampai duapuluh tahun lagi sudah dimuseumkan, atau bahkan terlupakan sama sekali. Apakah dua benda itu? Iya benar, seperti judul tulisan ini dua benda itu adalah beduk dan kentongan.

Dua benda ini begitu lekat dalam ingatan masa kecil saya. Dulu, waktu masih belum baligh, ketika bulan Ramadlan, bapak dan emak mengajari saya berpuasa dengan berpuasa setengah hari. Saat seperti itu, waktu bedug, adalah waktu yang paling saya tunggu-tunggu. Poso Bedug, artinya berpuasa hanya sampai tengah hari. Wes bedug, artinya sudah masuk waktu sholat duhur, atau sekitar jam 12 siang.

Setiap hari jumat, bedug di masjid mulai ditabuh sejak satu jam sebelum sholat adzan jumat dimulai, beriringan dengan suara qiraah, bacaan quran, dari kaset yang diperdengarkan melalui TOA masjid. Bila sudah terdengar suara, paduan kentongan dan bedug:

Thok tho tho tho tho thok, dug dug  dug!

Itu artinya, waktu sholat Jumat sudah tiba. Dan sejenak kemudian suara adzan, asli dari muadzin-orang yang adzan, pun berkumandang.

Suara bedug dan kentongan makin sering terdengar di Bulan Ramadlan. Ada istilah tidor, yaitu sehari sebelum datangnya bulan Ramadlan, bedug ditabuh perlahan dari siang hingga sore hari. Ada juga istilah kotekan yaitu ketika bedug dan kentongan ditabuh dengan irama rancak setiap habis sholat Tarawih. Bedug pun ditabuh lagi, setiap bacaan tadarus di masjid yang diperdengarkan lewat TOA itu, sampai pada Juz baru, hingga tengah malam.

Beda halnya dengan di desa Berasan, desa paling santri, karena saking banyaknya pesantren, di pesisir timur Kabupaten Banyuwangi, tempat nenek saya dari emak tinggal. Dibanding bedug, kentongan lebih terekam kuat dalam memori ingatan saya. Setiap berada di rumah si mbah, suara kentongan dari masjid, adalah suara sakral yang terdengar lima kali dalam sehari.

Wes Kentong kae Lo!

Itu artinya, Imam sholat sudah datang di masjid, dan sholat jamaah di masjid segera dimulai. Dan si mbah sesibuk apapun, langsung bergegas pergi ke masjid. Sepanjang hidupnya,  nenek saya ini adalah orang yang paling istikomah, selalu sholat jamaah di masjid, untuk lima sholat waktu.

Saya pernah mendengar cerita, dulu sebelum listrik masuk desa, nenek saya harus berjalan ke masjid yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah itu, dalam kegelapan, untuk sholat jamaah Isyak dan Subuh. Apalagi jaman segitu, di desa masih sangat rimbun dengan pepohonan. Untuk menerangi jalan, nenek membawa api dari blarak (daun kelapa) kering yang dibakar. Nah dalam perjalan ke masjid itulah, nenek sering digoda sama Jin. Obor dari daun blarak itu sering mati tiba-tiba, padahal tidak ada angin. Tetapi keusilan Jin itu sama sekali tidak menyurutkan semangat nenek untuk sholat Jamaah di masjid.

Keistikomahan mbah putri saya yang luar biasa ini, insya Allah diganjar dengan syurga. Nenek meninggal pas malam nisfu sya’ban, menurut putra-putrinya yang memandikan jenazahnya, wajahnya terlihat bersinar dan cantik sekali, serta wangi. Semoga itu pertanda husnul khotimah. Menurut cerita banyak orang, nenek adalah sosok orang yang paling ikhlas, dan sabar dalam kehidupanya yang tidak pernah mudah, penuh ujian dan cobaan, bahkan didzolimi oleh saudara kandung sendiri.

Eaaa, saya kok  jadi terjebak nostalgia mas lalu. Tapi bener lo, cerita bedug dan kentongan tadi itu sekarang hanya tinggal menjadi dongeng. Mana ada jaman sekarang yang segalanya diukur dengan duit, ada orang yang kurang kerjaan mau mukulin bedug dan kentongan di masjid tanpa bayaran? Mikir beli beras saja sudah mumet.

**

Kembali ke masalah bedug dan kentongan. Menurut Gus Dur, sejak tahun 1926, dan bertahan hingga tahun 1960, NU dulu tiap bulanya sudah menerbitkan Jurnal Ilmiah. Sekali lagi, Jurnal Ilmiah. Jauh sebelum Perguruan Tinggi – Perguruan tinggi di Indonesia itu berdiri, NU ternyata sudah menerbitkan Jurnal Ilmiah dulur dulur!. Sesuai dengan namanya, kebangkitan ulama alias ilmuwan, rupanya tradisi keilmuwan itulah sebenarnya  yang menjadi cikal bakal ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

Nah, pada salah satu terbitan Jurnal tersebut, Mbah Kyai Hasyim As’ary, dari Tebuireng Jombang, yang juga ketua NU saat itu, mengulas tentang hukum Bedug dan kentongan. Menurut Kyai Hasyim, Bedug boleh digunakan di masjid tetapi kentongan tidak boleh digunakan. Karena tidak ada dalil naqli, sumber hukum textual, yang membolehkan kentongan, sementara kalau bedug memang ada dalil naqlinya.

Pada terbitan, bulan berikutnya, Mbah Kyai Faqih dari Maskumambang, Gresik,  yang juga ketua wakil NU saat itu, menulis artikel yang berbeda pendapat dengan Mbah Hasyim. Menurut Kyai Faqih, hukum kentongan juga boleh digunakan di masjid, karena meskipun tidak ada sumber teksnya, kentongan bisa diqiyaskan, atau dianalogikakan dengan bedug.

Setelah kemunculan terbitan jurnal yang memuat pendapat kyai faqih itu, Mbah hasyim mengumpulkan para Ulama dan santri senior di pesantren Tebuireng Jombang, dan meminta kedua artikel itu dibacakan ke hadirin. Mbah Hasyim, mengatakan bahwa baik bedug maupun kentongan bisa digunakan secara bebas, hanya saja beliau meminta hendaknya di masjid Tebuireng kentongan tidak digunakan selama-lamanya.

Pada waktu kesempatan berikutnya, dalm rangka maulid nabi, Kyai Hasyim diundang ceramah ke Pesantren Mas Kumambang, Gresik, pesantrenya Kyai Faqih. Nah, rupanya, sebelum kedatangan kyai Hasyim, Kyai faqih mendatangi para pengurus masjid se Kabupaten Gresik, dan meminta agar selama Kyai Hasyim berada di Gresik, kentongan-kentongan itu diturunkan dari tempatnya.

**

Cerita Gus Dur di atas sangat menyentuh hati saya. Pertama, tradisi keilmuwan yang kuat dari para ulama atau kyai NU dimana, di tahun 1926 sudah punya Jurnal ilmiah. Kontras dengan jaman sekarang dimana malah banyak para kyai yang ‘berselingkuh’ dengan kekuasaan dengan menjadi politisi, bahkan sampai ada yang harus meringkuk masuk penjara, karena kasus korupsi.  Sementara tradisi keilmuanya apa kabar? wallahu ‘alam. 

Kedua adalah, bagaimana kearifan para Ulama jaman dahulu, meskipun berbeda pendapat, tetapi mereka tetap saling menghormati perbedaan pendapat itu. Teguh dalam pendapat dan keyakinan bukan berarti harus kehilangan rasa hormat terhadap pendapat dan keyakinan yang berbeda.

Ironisnya, justru dijaman serba keterbukaan informasi sekarang ini, banyak Ulama yang tidak rukun. Antar ketua kelompok gerakan, saling menyalahkan, saling menyesatkan, bahkan saling mengkafirkan. Andai para ulama yang berbeda pendapat itu bisa saling menghormati seperti mbah hasyim dan mbah faqih, umat pastinya akan rukun dan damai.

Sekali lagi, rupanya kita masih banyak harus belajar dari kearifan para pendahulu kita. Sayang, banyak sekali kearifan itu yang tak tertulis, sehingga tidak menyejarah, dan hilang ditelan jaman.

Sumber Bacaan:
Tata Krama dan Ummatan Wahidan, dalam ‘Islam ku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi’, Hal. 256-259, Abdurrahman Wahid, Link Download

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s