Ketika Jam Mengatur Hidup Kita

Jam tangan dulu itu diciptakan untuk mengatur waktu, tetapi sekarang jam tangan yang mengatur diri kita – Prof. Komaruddin Hidayat

2013-11-01_1383268446

Ilustrasi: Jam Dinding

Pada satu kesempatan, saya pernah bilang ke salah seorang sahabat saya, yang kebetulan ayahnya seorang Profesor sekaligus sastrawan berpangaruh di kota Padang:

Eh, Bro! sepertinya enak ya hidup jadi sastrawan atau budayawan itu. Pekerjaanya ‘hanya’ membaca, menghayati, dan menulis tentang kehidupan. Hidupnya, so casual tak terbelenggu oleh-oleh dinding-dinding formalitas.

Sang sahabat, hanya menjawab singkat: ” indeed “.

Mungkin waktu itu saya sedang jenuh, melihat bagaimana kebanyakan orang-orang kota menjalani kehidupanya. Bagaimana orang modern mendefinisikan makna kehidupanya.

Pemusatan pembangunan ekonomi di kota-kota besar, membuat banyak orang-orang berlomba menjadi orang kota. Apalagi, kotak TV yang setiap saat memamerkan kemewahan hidup orang kota.  Membuat hampir semua orang desa bermimpi untuk hidup di kota.

Anak-anak dusun yang tekun belajar dan otaknya lumayan cerdas, pun akhirnya harus belajar di kota besar. Untuk kemudian, mendapatkan satu tiket untuk sebuah kursi empuk di gedung-gedung pencakar langit di ibu kota. Dan hidup pun berubah terlihat begitu mudah, bisa mendapatkan uang melimpah hanya dengan menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.  Pendidikan telah menjadi tangga anak-anak dusun yang lugu itu naik strata sosialnya, menjadi orang-orang kota. Meskipun masih menjadi kelas pekerja, dari para pemilik modal.

Anak-anak dusun yang kurang beruntung pun tak mau ketinggalan. Dengan modal tekad baja, mengadu nasib di kota. Meskipun lebih banyak yang terpinggirkan hanya karena selembar kertas ijazah sarjana, menjadi orang-orang pinggiran kota.

Dusun-dusun pun merana, ditinggalkan anak-anak mudanya. Sumber daya alamnya pun ngelokro. Dusun-dusun seolah telah kehilangan gairah kehidupanya. Hanya kepedihan para orang-orang tua,  menahan rindu, dan kesepian, ditinggalkan anak-anak dan cucu-cucu tercintanya. Serta ratapan akan nasib yang semakin buram dan beban hidup yang semakin terasa berat.

Argh, andai saja, pembangunan ekonomi dimulai dari pinggiran dusun-dusun. Argh, andai saja, anak-anak dusun yang cerdas itu belajar untuk kembali dan membangun dusunya. Mungkin, orang-orang dusun tak perlu lagi merasa kehilangan gairah kehidupanya.

Sebagi anak dusun yang terhempas nasibnya di pinggiran kota, saya kadang merenung: inikah kehidupan orang-orang modern, orang-orang kota yang dulu sering dipamerkan di sinetron itu?

Bukankah ternyata hidup di kota ternyata hanya membuat kita menderita penyakit 3 H: Hurried, Hostile, and Humorless ?

Kita hidup seolah dikejar-kejar oleh waktu. Semua harus serba terburu-buru. Jam kantor, Jadwal rapat, jadwal penerbangan, jadwal janjian, tanggal deadline,  begitu menjajah kemerdekaan kita. Mereka begitu mendekte dan mengatur kehidupan kita dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Kehidupan di dalam gedung-gedung pencakar langit itu pun ternyata tak seindah yang digambarkan. Ada persaingan, ada kompetisi, yang kadang terasa sengit dan menyakitkan. Semua ingin menjadi yang paling unggul sendiri, meski harus menjegal kawan sendiri. Tidak hanya antar gedung, tetapi juga di dalam satu gedung sendiri.

Itu semua akhirnya membuat kita lupa bagaimana cara tersenyum dan tertawa. Membuat kita lupa bagaimana nikmatnya secangkir kopi hangat di pagi hari. Senyum, tawa, kehangatan, keakraban, kebersahajaan, dan ketulusan yang dulu bertumpah ruah dan murah di dusun, kini menjadi barang paling mahal di kota.

Kawan, haruskah kita menunggu tubuh kita terkapar tak berdaya di rumah sakit, atau menunggu datang nya hari tua, hanya untuk dapat sesekali menghayati dan memaknai kehidupan kita? Haruskah kita menunggu terkumpul segunung emas, hanya untuk bisa bersyukur dan merayakan anugerah festival kehidupan ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s