Lalu, Kapan Cukupnya?

Gerombolan burung gagak keluar dari sarang nya, terbang ke segala penjuru mata angin untuk mencari makan. Walaupun terbang bergerombol, tak seekor burung pun merasa takut, jatah makananya terambil oleh kawanya. Mereka pun kembali setelah semua penuh temboloknya, tanpa sedikit pun membawa makanan untuk ditimbun di sarang nya. Mereka tak pernah merasa takut, apakah besok masih bisa makan atau tidak.

Kembang-kembang setaman. Mereka beraneka warna, ukuran, dan aroma. Ada yang hidup merunduk di tanah, ada yang yang tinggi menjulang menantang matahari. Tetapi setiap dari mereka tak pernah merasa ingin terlihat paling indah di antara kembang-kembang setaman itu. Karena justru dengan semua perbedaan itulah yang membuat mereka saling memberi dan menerima, serta membuat taman terlihat jauh lebih indah.

Jika burung dan kembang saja memiliki kearifan hidup untuk saling berbagi dan memberi, tapi justru kenapa semakin banyak manusia yang serakah dan ingin menang sendiri? – A Random Thought

AndTheGang

Ilustrasi: With The Gang

Kemaren siang saya makan di sebuah restoran tepat di Jantung kota Nottingham. Kecuali kebab, chiken and chip, atau fish and chip, rasanya sangat jarang, selama di kota ini,  saya makan di restoran yang proper. Bisa dihitung dengan jari. Biasaya sih, pas lagi ditraktir.

Nah, kebetulan, kemaren juga ada seorang sahabat kami yang juga traktiran. Dalam rangka syukuran sehabis submit, tesis doktornya. Setelah berjuang empat tahun lebih, dan sekarang masih harus menunggu untuk ujian lisan.

Nama restoranya adalah Red Hot. Ini adalah restoran model buffet alias all you can eat alias bisa makan sepuasnya sakenak udele dewe. Meskipun ndak ada tulisan Halal nya, qala waqila (baca: dengar-dengar) nya sih ini restoran Halal. Restoran favourite teman-teman Malaysia.

Saya, dan sepertinya kedelapan sahabat saya pun baru pertama kali masuk di restoran ini. Ini, sepertinya restoran paling mewah yang pernah saya masuki di Nottingham. Tempatnya sangat luas, tiga lantai, bersih dan elegan. Memasuki restoran ini berasa kayak masuk dalam restoran hotel mewah.

Di meja makan, kami langsung disambut dengan Cracker (bukan krupuk lowh ya), bungkusan kado berbentuk tabung kecil dari kertas, yang biasa ada dalam suasana hari natal. Di dalamnya ada mainan kecil, dan Prince crown dari kertas tipis berwarna.

Kemudian pelayan restoran nyamperin kami untuk menawarkan minum. Kami hanya memesan air putih. Setelah duduk sebentar, kami langsung menyambar makanan.

Di tempat makanan, saya malah jadi bingung, saking banyaknya pilihan makanan yang bisa dipilih. Mulai dari masakan India, Jepang, Korea, apalagi masakan Eropa, semua tersedia melimpah. Masakan India didominasi kare, nasi goreng, mie goreng, beraneka ragam. Masakan Jepang ada ramen, sushi, berbagai jenis. Masakan Eropa, ada pizza dan konco-konconya.

Ada pancake, berbagai macam kue dessert, es krim, puding, pun tersedia melimpah ruah. Tak ketinggalan berbagai sayuran dan buah-buahan. Yang ringan-ringan seperti kerupuk, ayam goreng, nudget, bakwan juga melimpah.

Akhirnya, Daging Kalkun panggang, Mie goreng, dan tumis cumi-cumi , dan kerupuk, berhasil menggoda selera saya. Kebetulan, saya belum sarapan dari pagi, yang membuat makanan itu semakin nikmat.  Overall, enak sekali. So spicy, dan bumbu manis asin nya berasa banget. Daging kalkun panggangnya pun mantap gurihnya.

Hingga sampailah piring keempat, ketika perut sudah terasa sangat penuh, dan saya pun sudah tidak berselera kembali. Ohya, harganya pun cukup bersahat dengan kantong mahasiswa. Karena dapat diskon student, untuk berdelapan, kami hanya kena bill sekitar £60 (sekitar  RP. 1. 200. 000).

Restoran ini mengingatkan saya kembali pada sebuah restoran hotel bintang lima di Jakarta pusat. Tempat makan paling mewah yang pernah saya masuki seumur hidup saya. Saya nggumun, karena saking banyaknya makanan yang tersedia, dari makanan ndeso, makanan khas semua daerah di Indonesia, sampai Eropa tersedia di restoran hotel itu. Dan hampir segala macam buah-buahan ada disitu. Maklum waktu itu, saya sedang bergabung sebagai pembantu para pejabat se Indonesia yang di lantik langsung oleh Menteri.

Saking nggumunya, saya sampai berfikir, mungkin kayak gini ya nanti kenikmatan di Syurga itu. Dan dari situ saya baru paham, kenapa banyak orang berebut jadi pejabat.

Tetapi kenikmatan makanan selezat dan semelimpah apa pun, ternyata nikmatnya hanya sebatas di mulut saja dan sebatas ukuran perut saja. Tetap saja, rasa lapar adalah lauk makan paling nikmat di dunia.
***
Yah, begitulah sifat kenikmatan dunia. Hanya sekejap dan sebentar saja. Rumah megah, mobil mewah, liburan mahal, dan segala apa pun puncak-puncak kenikmatan apa saja, ternyata hanya terasa nikmat di awal-awal saja. Selanjutnya, setelah terbiasa kita kecap dan kita nikmati just so so, tak lagi terasa kenikmatanya. Justru, kenikmatan terbesar itu ketika kita mengecap kenikmatan itu, sekali-sekali saja.

Tetapi anehnya, jaman sekarang semakin banyak manusia yang serakah. Suka menimbun dan menumpuk-menumpuk kekayaan. Mau menang sendiri, mau paling kaya sendiri, mau paling sukses sendiri. Bahkan dengan cara-cara yang keji dan menjijikkan.

Selalu saja merasa kurang. Selalu saja ada ketakutan, besok, lusa, tahun depan, di masa depan mau makan apa? Sudah punya satu gunung mas pun, masih mengharap satu gunung mas lainya? kalau sudah begitu kapan cukup nya?

Andai saja, setiap manusia berfilosofi bahwa hidup adalah tentang semangat memberi dan berbagi. Bukan tentang menjadi paling unggul sendiri. Andai saja, setiap manusia menjadikan kebermanfaatan terhadap sesama sebagai ukuran kesuksesan. Bukan tumpukan kekayaan. Mungkin, kita semua akan merasa cukup. Tak perlu berkompetisi setengah mati, bahkan menjegal saudara sendiri. Hidup tenang , damai, dan penuh harmoni. Seperti, segerombolan burung gagak dan kembang-kembang setaman.

Mari kita memilih hidup sederhana saja, sing prosojo saja. Cukupkanlah rejeki kita. Toh, urip nang ndunyo sepiro suwene?

 

Advertisements

6 comments

  1. Barusan diriku bikin rekaman motivasi, temane mirip karo postinganmu iki kang.

    Kapan2 tak upload ndik youtube deh. Ben iso sampean rungokne hahahaha.

  2. Semakin lama membaca tulisan sampean, semakin merasa kalau sampean mestinya ngambil jurusan sastra…
    Ha…ha…
    Bercanda mas…
    Sukses selalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s