Anggur Merah Putih di atas Sungai Thames

…. kadang kala, apa yang diimpi-impikan oleh sahabat kita, malah kita sendiri yang mewujudkanya,  dan sebaliknya apa  yang kita impi-impikan, justru diwujudkan oleh sahabat kita. Begitulah, hidup kadang seperti serial misteri yang sulit untuk ditebak – A Random Thought.

london

Sungai Thames, London, Inggris

Waktu SMP, saya punya seorang sahabat kecil, sebut saja namanya Fulanah. Suatu ketika, sahabat saya itu mengutarakan mimpi dan angan-anganya kepada saya:

Son, saya sudah lama bermimpi , suatu saat nanti saya ingin menikmati suasana malam kota London yang indah itu, dengan keliling menyusuri sungai Thames, duduk diatas kapal, sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Waktu itu, saya hanya mbatin, emang seperti apa sih, indahnya kota London, kok si sahabat kecil saya ini, terlihat begitu teramat sangat ingin mewujudkanya. Saya saja masih sulit, membayangkan seperti apa suasana kota London itu. Tahun demi tahun berjalan, sang sahabat belum juga dapat mewujudkan mimpinya itu. Hingga suatu saat yang tidak direncanakan, malah saya yang mewujudkan mimpi sahabat tadi.

Selama lebih dari tiga tahun di Inggris ini, sebenarnya saya sudah beberapa kali ke London. Tapi belum sempat menikmati suasana malam kota london dengan  menyusuri sungai Thames di atas kapal seperti yang sahabat saya impikan. Bukan karena apa, buat mahasiswa kantong cekak macam saya ini, saya harus berfikir berkali-kali lipat untuk mengeluarkan uang sekedar untuk membeli mimpi sahabat kecil saya itu.

Hingga tibalah saat akhir musim panas kemaren, kebetulan saya mendapat undangan untuk mengikuti simposium mahasiswa PhD di bidang ilmu komputer se-Eropa dari Imperial College London. Menariknya, simposium ini gratis selama 2 hari. Meskipun gratis, ini adalah seminar paling mewah yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan banyak merchandise dari sponsor, terutama dari Google. Keynote speakernya pun tidak ecek-ecek. Ada Chris DiBona, dari Google dan Erik T. Mueller dari MIT.

Selain bisa  ngaji dari dua keynote speaker yang sangat inspiring itu, yang istimewa dari  simposium kali adalah Gala Dinner gratis, di atas kapal, menyusuri sungai Thames yang membelah kota London itu. Di seminar-seminar yang pernah saya ikuti sebelumnya, biasanya gala dinner nya di hotel. Saya merasa sangat beruntung, karena pada akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi sahabat saya itu.

Kami mulai naik ke atas kapal yang bersandar di dekat London Bridge, ketika hari sudah beranjak senja. Hari sudah mulai surup, rembulan pun sudah nampak jelas menggantung di atas langit. Burung-burung camar bersorak sorai di atas sungai Thames, merayakan sisa-sisa kegembiraan, sebelum hari berubah menjadi gelap. Mereka seolah menyebut-nyebut kebesaran Tuhan. Saya berdiri di atas kapal, menikmati hempasan angin sungai yang cukup kencang, merasai sisa-sisa kehangatan yang tertinggal di sore musim panas itu. Mata saya tak berkedip mengamati London Bridge, jembatan bersejarah yang bisa dibuka tutup itu.  Setiap ada kapal yang lewat di bawahnya, kedua sisi jembatan itu terangkat, dan turun kembali, untuk dilewati kembali kendaraan yang berlalu lalang di atasnya.

Perlahan, matahari benar-benar tenggelam di ufuk langit. Waktu Maghrib tiba. Hati saya tiba-tiba merindukan suara adzan berkumandang, merindukan membasuh muka tangan dan kaki  dengan air pancuran di samping masjid di kampung saya yang segernya alamiah. Bersujud, memasrahkan seluruh hidup di hadapan Tuhan, bersama-sama para jamaah masjid. Saya rindu suasana ketenangan batin di kampung ku yang tenang, di setiap penghujung senja.

Seharusnya waktu seperti itu, saya harus bersujud. Beruntung saya masih berstatus musyafir, sehingga saya bisa menunda sholat maghrib dan menggabungkanya dengan sholat isyak kemudian.

Karena udara mulai dingin, kami turun ke dalam perut kapal. Sebuah tempat yang sangat mewah untuk makan malam sudah disiapkan. Suara musik dugem pun mulai terdengar perlahan. Saya pun, mulai merasa menjadi makhluk asing di tempat yang salah. Tapi inilah cara orang Eropa bersosialisasi, dan saya pun harus pura-pura berbahagia, mengumbar senyum ramah kepada setiap orang yang berdandan rapi-rapi itu.

Di meja saya, ada seorang berkebangsaan Jerman, dua orang berkebangsaan Sri Langka, dan seorang berkebangsaan Arab. Mulailah, kami bercengkerama dalam obrolan yang hangat. Mulai dari riset, tentang budaya negara kita masing-masing, dan tentang pengalaman hidup kita masing-masing. Si teman Jerman yang terlihat paling mendominasi pembicaraan, dan saya sepertinya yang paling banyak mendengarkan. Sambil terus berpura-pura tersenyum dan tertawa. Walaupun jujur, saya tidak menikmati obrolan itu.

Dari obrolan itu saya tahu banyak tentang kebijakan publik di Jerman yang sangat menguntungkan bagi rakyat kecil, bahkan buat siapa saja yang memiliki ijin tinggal di negara itu. Tak heran, jika para pengungsi dari timur tengah begitu ingin hidup di negara itu. Dari obrolan itu, saya juga jadi tahu kalau Nasi Goreng adalah makanan Indonesia yang paling terkenal di dunia.

Obrolan itu terasa terlalu lama buat saya. Makanan pembuka, makanan utama, minum, hingga makanan penutup sudah habis pun obrolan belum selesai. Perut saya masih lapar sekali, karena ketika orang-orang disamping saya melahap dengan nikmat daging babi panggang yang potongan besar-besar itu, seperti biasa saya hanya bisa menikmati bubur jamur, makanan vegetarian pengganti dietary requirement: halal meat, yang tidak pernah terpenuhi setiap menghadiri makan malam formal seperti itu. Perut saya pun jadi kembung, karena kebanyakan minum air putih, hanya karena mengimbangi teman ngobrol saya yang menghabiskan dua botol besar wine, anggur merah dan anggur putih. Beruntung saya tidak sedikit pun tertarik mencicipi daging babi panggang, dan anggur yang kata mereka  enaknya  luar biasa.

Semakin malam, obrolan sepertinya semakin asyik. Tetapi saya lama-lama tidak tahan dengan bau anggur yang semakin kuat memenuhi ruangan itu. Saya berpura-pura ijin ke toilet, tapi saya ngacir di atas kapal. Subhanallah, indah sekali suasana malam kota London di malam hari terlihat dari atas kapal. Langit sangat cerah, gemintang malam di langit pun terlihat begitu Indah. Rembulan, walaupun tidak terlihat penuh, terlihat indah menggantung di langit. Lampu warna-warni, dari setiap bangunan-bangunan megah, pencakar langit itu seolah membentuk hamparan gemintang di atas bumi.  Dari sudut utara kota London, ada sinar laser berwarna hijau, The Meridian Laser, yang seolah membelah malam kota London. Suara angin yang terhembus dan suara ombak sungai yang terbelah kapal, membuat suasana malam itu begitu berbeda.

Saya kembali ke meja makan, ketika kapal  hampir bersandar kembali di pelabuhan tempat kita berangkat. Tak terasa lebih dari 4 jam kami berada di atas kapal itu.  Dan pesta pun harus segera berakhir. Ini cerita untuk sahabat kecil saya, semoga satu hari di hari depan kau segera mewujudkanya.

Advertisements

3 comments

  1. Rasanya semua pengalaman 2 si mas perlu dibukukan, bisa buat panduan wisata…:) soalnya kl menceritakan lengkap, terinci n puitis sih…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s