Jika mesin bisa mengerjakan hampir semua pekerjaan manusia, manusia mau ngapain dong?

…. tahun dua ribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin, manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin. sungguh mengagumkan tahun dua ribu, namun demikian penuh tantangan – Lirik tahun 2000, Nasida Ria

84718706_robotcarryingaperson

Manusia Berpacaran Dengan Robot, bbc

Kutipan di atas adalah penggalan lagu dari grup qasidah Nasida Ria, berjudul “tahun 2000” yang pernah sangat populer pada tahun 1990an, khususnya di kampung-kampung, di desa-desa, dan di dusun-dusun. Saya masih hafal lirik lagu itu. Bagaimana tidak, dulu hampir setiap sore menjelang maghrib, lagu itu di putar di stasiun radio, yang jaman segitu radio masih menjadi hiburan andalan orang dusun.

Saya juga masih ingat, setiap menjelang diadakan pengajian umum di dusun-dusun, yang mengundang kyai terkenal tingkat kabupten, ibu-ibu Muslimat, dan mbak-mbak fatayat (organisasi keputrian di bawah NU), sibuk latihan karaoke. Ibuk-ibuk dan mbak-mbak ini akan tampil di panggung pengajian, sebelum dan sesudah sang kyai menyampaikan ceramahnya. Kebetulan, rumah saya sering dijadikan tempat latihan karaoke, karena di rumah ada tape deck, yang cukup bagus. Itu lagu, ‘tahun 2000’, selalu menjadi lagu andalan mereka disamping lagu ‘jilbab putih’ dan ‘kota santri ‘. Sungguh, indah betul, suasana keagamaan orang dusun, di jaman Gus Dur masih menjadi ketua PBNU itu, dimana NU benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat. Tidak seperti sekarang, NU lebih dekat dengan pusat kekuasaan dari pada konstituenya di dusun-dusun.

Teurs, mengapa saya tiba-tiba cerita lagu ini? Begini ceritanya,petang tadi, kebetulan saya menghadiri kuliah umum yang diadakan sekolah saya ( i.e. School of Computer Science ).  Pembicaranya, seorang Profesor Yahudi berkebangsaan Israel, dari Universitas Rice, US, yaitu Profesor Moshe Vardi. Beliau adalah profesor di bidang ilmu komputer yang cukup disegani yang sudah mempublikasikan sekitar 400 an paper jurnal, dan telah memenangkan banyak penghargaan.

Judul presentasinya sangat menarik: “If machines are capable of doing almost any work humans can do, what will humans do?” . Tetapi, slide presentasinya jelek banget, ndak ada gambarnya, cuman grafik dan text yang kecil-kecil. So, seperti biasa, saya selalu tertidur, kalau datang di kuliah umum, kebiasaan dari jaman kuliah S1 sampai sekarang yang belum sembuh. Padahal saya duduk tepat disamping ndoro dosen pembimbing riset saya. Maunya jaim tidak tidur, tapi sialan mata saya tidak pernah bisa diatur. Apalagi, bangku kuliah standard di Inggris itu, seperti kursi di Bioskop. Ditambah karena hari ini hari Senin, daya puasa sunah dan belum berbuka puasa. Parah pokoknya saya ini, ya kalau otaknya secerdas Gus Dur, yang meskipun tertidur tetap bisa nyambung, lah ini otaknya agak Pekok binti Oon.

Meskipun selama kuliah harus merem melek, untungnya ndak sampai ngiler, tapi secara garis besar saya nangkep inti kuliahnya. Yah kurang lebih isi kuliahnya sama dengan lirik lagu ‘tahun 2000’ nya Nasida Ria itu. Canggih benar ya, yang nulis lirik lagu qasidah itu, lebih bisa memprediksi 20 tahun lebih cepat, ketimbang Si Profesor Yahudi ini.

Intinya, beliau meng highlight kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan, yang sudah banyak merubah kehidupan manusia. Robot-robot di Jepang seperti Asimo, robot anjing nya Google, software yang bisa mengalahkan manusia dalam bermain catur, dan quiz (lihat: disini dan disini), mobil tanpa sopirnya Google, adalah sebagian contoh kecil dari kemajuan kecerdasan buatan ini. Saat ini, dengan dukungan big data, sebuah software mampu mendiagnosa penyakit lebih tepat daripada dokter bahkan bisa memprediksi waktu kematian pasien dengan tingkat kebenaran 96% (lihat: disini dan disini)dan robot pun bisa melakukan operasi lebih rapi dari dokter lo.

Sebenarnya, topik ini sudah pernah saya baca di BBC. Dalam rangka mengenang Alan Turing, founding father ilmu komputer berkebangsaan Inggris yang pernah ‘dihukum’ karena dia seorang Gay itu, BBC mengulas secara khusus topik Kecerdasan Buatan ini. Sampean yang tertarik bisa baca  dan lihat videonya: disini.

Nah, yang menarik dari pesatnya teknologi kecerdasan buatan ini adalah, lah terus manusia mau mengerjakan apa? Banyak manusia yang bakalan menganggur dong? Sang profesor membuat prediksi-prediksi tentang masa depan yang menjadi perdebatan panas di ruang kuliah. Good newsnya, akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Yang menarik dari kuliah Profesor ini adalah, beliau mengutip banyak sekali ayat-ayat kitab suci (lengkap dengan nama surat dan nomor ayatnya) untuk menjelaskan kuliahnya itu. Seharusnya itu diambil dari kitab Taurat. Ini tidak lazim menurut saya. Karena setahu saya, ilmuwan barat itu sangat-sangat sekuler. Boleh dibilang, Sains dibarat itu anti-tesis dari kitab suci. Nah ini, malah menggunakan ayat-ayat kitab suci.

Salah satu yang dikutip dalam presentasi itu adalah cerita tentang Adam dan Hawa, yang juga dibahasa di Alquran dan Injil setahu saya. Hampir sama sih, hanya slightly different. Kalau di Islam, pohon nya disebut pohon Quldi, kalau di versi profesor tadi disebut ‘Tree of Knowledge’.

Hanya saja ayat-ayat Taurat tadi, secara nakal dimodifikasi. Di percakapan Adam dan Hawa itu, ditambahi percakapan nakal, yang sejauh yang saya ingat, kurang lebih ada tambahanya seperti ini.

X : ” Karena kita sudah makan buah dari pohon pengetahuan, kita sekarang bisa mengakali ‘outsmart’ Tuhan” .

X: ” Dulu kita pernah mengalami masa berburu, kemudian bercocok tanam, sekarang kita bisa menciptakan mesin-mesin”

X: ” Jika dengan mesin-mesin itu, kita  bisa bekerja tanpa harus berkeringat, jadi buat apa kita kembali ke Syurga? “

Haha, kurang ajar sekali menurut saya. Kedepan manusia bisa memperbudak robot-robot ciptaan mereka sendiri. Manusia tinggal leyeh-leyeh. Benarkah akan demikian? Wallahu a’lam bishowab,  hanya Tuhan yang tahu. Siapa sih yang bisa memprediksi masa depan? Kita saja tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Setelah kuliah umum itu, sambil mengantri kopi dan snack gratis yang disediakan di luar ruang kuliah. Ndoro dosen saya mengajak berdiskusi tentang kuliah yang barusan. Ada pernyataan dari ndoro dosen saya yang cukup membuat saya kaget adalah ketika beliau bilang: “Halah, bagaimana pun juga, tak seorang pun bisa mengendalikan masa depan bukan? ”

Ternyata pola pikir ndoro dosen saya sama dengan pola pikir saya. Manusia boleh sombong dan sesumbar dengan capaian teknologinya. Tetapi sebagai orang beriman, saya yakin itu tidak ada apa-apanya dengan ilmu Tuhan. Apalagi kalau ada yang berani memprediksi dan mengontrol masa depan manusia. Sebagai orang yang percaya pada Qadla dan Qadar, serta kemahakuasaan Allah swt, saya tak akan seberani itu.

Kita manusia ini apalah? Buat saya,  lakon hidup ini sudah ada yang ngatur. Yang sebenarnya di luar kendali kita. Sampai dengan tamat kuliah S1, saya tidak pernah terbesit sedikit pun bercita-cita jadi dosen, bahkan bapak saya sejak kecil bercita-cita agar saya jadi kyai. Katanya jadi kyai itu enak, ndak pernah kerja, tapi duitnya banyak. Lah kok sekarang saya jadi dosen. Waktu kecil saya tidak pernah sekalipun membayangkan akan hidup di luar negeri, sekarang saya hidup di luar negeri.  Argh, tapi justru misteri itulah yang membuat hidup ini menjadi menarik. Jika semua bisa kita kendalikan, betapa membosankan sekali hidup ini bukan?

Semoga penguasaan ilmu dan teknologi dunia kita  ini tidak menjadikan kita menjauhi Tuhan. Sebaliknya, justru membuat kita semakin dekat dengan NYA. Bukankah belajar sains itu tak lebih dari sekedar membaca ayat-ayat nya?

Sebagian Presentasi bisa dilihat : Disini

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s