Filosofi Hidup yang Dititipkan Pada Tembang Dolanan Anak-anak

Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina, Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat, Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.   – Bang2Wetan

anak_desa_old

Ilustrasi : Anak Desa (captured from : here) FG: Rarindra Prakarsa

Saya ini kadang heran sama saya sendiri, karena sering merasa memiliki pola pikir berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Katanya sih sudah lima tahun lebih pernah  tinggal di luar negeri, pernah tinggal di negara yang boleh dibilang sebagai pusat peradaban manusia paling maju saat ini. Sekolah juga sampek jenjang akademik paling tinggi, di bidang teknologi yang paling ngetrend di jaman ini.

Tetapi, entahlah semakin kesini saya justru semakin bangga dengan kendesoan saya. Semakin menjunjung tinggi tradisi saya. Pernah memang dalam perjalanan itu, saya merasa minder dengan kendesoan dan tradisi dimana tempat saya berakar. Gampang nggumun dengan yang kebarat-baratan.  Gampang terpesona dengan yang kerab-araban. Tetapi itu dulu, sekarang malah terjadi arus balik.

Ketika beberapa teman merasa excited hidup blended dengan orang-orang lokal. Merasakan, cara hidup mereka. Saya tidak pernah bisa menikmati. Berkali-kali terpaksa saya coba, tetapi saya selalu merasa tersiksa bersenda gurau dengan mereka di meja Bar. Saya juga tidak pernah bisa menikmati makanan mereka yang serasa hambar itu. Saya juga hingga sekarang masih gagal untuk menanggalkan kata Doktor di depan nama ndoro dosen saya setiap kali berkomunikasi dengan beliau baik lisan maupun dalam tulisan. Meskipun ndoro dosen saya selalu meminta untuk memanggil dengan namanya saja. Entahlah, itu terasa berat sekali buat saya. Filosofi kyai yang harus sangat dihormati, begitu merasuk dalam mindset saya. Meskipun saya tahu, ndoro dosen itu bukan kyai saya.

Ketika sesama teman dalam komunitas agama saya, giat belajar agama dengan pendekatan yang kearab-araban. Berbaju gamis, memelihara jenggot, banyak menggunakan kosakata kearab-araban: antum, barakallah fi umrik, jazakallah. Saya lebih suka pakai sarung dan peci indonesia dan menggunakan kosakata Jawa. Ketika kebanyakan di komunitas saya membid’ahkan (tidak membolehkan), tahlil, selametan, manaqiban, sholawatan,  berjanzi karena itu tidak ada di Arab. Saya justru sangat bangga menjunjung tinggi tradisi itu. Pendeknya, ketika kebanyakan orang-orang di sekitar saya belajar agama dengan pendekatan yang sangat fiqih (hukum Islam), dengan pemahaman teks agama yang leterlek dengan ustad yang kemarab. Entahlah, saya menemukan pendekatan seperti itu sangatlah  kering dan dangkal. Saya lebih merasa adem, menemukan kesejukan dan cinta belajar agama dengan pendekatan belajar ala kyai saya di pesantren, yang memahami agama dari banyak sudut pandang (misal: tasawuf), yang sangat ramah dengan tradisi dan budaya. Tidak senang membid’ahkan, menyalahkan, lebih-lebih mengkafirkan orang lain. Bahwa Islam tidak sama dengan Arab. Bahwa kita harus pandai membedakan mana budaya dan mana yang esensi dari agama.

Dalam selera musik juga demikian, saat orang-orang mengidolakan Adele, One direction, Beatles. Dalam komputer saya yang ada hanyalah musik gamelan dan tembang-tembang Jawa. Saya tidak pernah bisa konsentrasi kerja sambil mendengarkan musik, kecuali gamelan Jawa. Saat saya stress, saat saya membutuhkan konsentrasi tinggi, hanya gamelan Jawa yang bisa menenangkan. Oleh anak jaman sekarang, saya pasti dicap ndeso binti kampungan bin udik.

Tetapi belakangan saya bangga, ketika ndoro dosen saya yang orang British asli dan pernah tinggal lama di Perancis dan US bilang, yang dia ingat tentang Indonesia hanya dua yaitu Gamelan dan Nasi goreng. Meskipun beliau belum pernah ke Indonesia. Bahkan di kota Nottingham ini pun ada perkumpulan gamelan, yang anggotanya semua orang lokal. Mereka biasa kita undang kalau orang-orang Indonesia mengadakan acara Indofest. Acara indonesia, tapi pemain gamelanya para bule. Saya juga pernah ketemu tidak sengaja dengan seorang mahasiswa seni musik di stasiun kereta api Rotterdam, Belanda, yang dalam pertemuan singkat itu dia sempat bilang: ” Gamelan itu, academicly,  is the new  direction dari seni musik barat yang sudah menemukan kejumudan “.  Sudah bukan rahasia lagi, jika orang barat begitu gandrung dengan seni musik peninggalan leluhur kita itu. Anehnya, di ndesoke sama peranakan orang-orang Jawa jaman sekarang.

Dalam hal lagu juga demikian, saya masih senang mendengarkan tembang/lagu dolanan jaman dulu, seperti gundul-gundul pacul, cublak-cublak suweng, lir ilir, bang-bang wetan. Dulu saya pikir itu ya sekedar lagu anak-anak ndeso jaman dahulu. Belakangan saja, saya baru tahu bahwa lagu-lagu itu ternyata penuh petuah hidup, sarat dengan filosofi kehidupan yang sangat penting dan serius. Seperti filosofi tentang kepemimpinan yang diabadikan lewat tembang Gundul Pacul. Bahwa pemimpin seharusnya berhati-hati ketika memegang sebuah jabatan (nyunggi wakul), bahwa kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak adalah seharusnya satu-satunya yang dijunjung tinggi (disunggi ditaruh di atas kepala,  tidak dijinjing maupun dikempit/ditaruh di bawah ketiak). Jika tidak berhati-hati semuanya kan menjadi kacau balau (segone dadi sak latar).

Adalah Cak Nun, alias MH Ainun Najib, jimat Indonesia yang pandai menangkap makna dan menjelaskan lagu-lagu dolanan peninggalan para Sunan/Wali songo itu. Sampean bisa tanya mbah google , atau search di youtube tentang  Cak Nun dan Kyai Kanjeng jika tertarik memahami filosofi kehidupan yang dititipkan pada lagu anak-anak itu (salah satunya bisa dilihat : disini , disini) . Memang memahami hal yang tersirat tidaklah semudah memahami hal yang tersurat. Karenanya, kita butuh guru, kita butuh kepekaan rasa, untuk memahaminya.

Menurut Cak Nun, budayawan yang seharusnya lebih banyak tampil di TV tapi memilih terjun langsung ke rakyat ini, filosofi-filosofi kehidupan yang serius itu sengaja dititipkan menjadi lagu anak-anak agar abadi.  Karena hanya, lagu anak-anak yang abadi. Itu lagu sudah berabad-abad umurnya, tetapi hingga sekarang masih banyak yang hafal bukan? Demikian juga dengan bintang kecil dan balon ku ada lima. Coba kalau dijadikan lagu remaja, pasti sekarang sudah banyak yang tidak hafal. Baru belakangan ini saja, saya paham kenapa hampir semua mata pelajaran di  pesantren dulu, bahkan pelajaran: grammar dan lingustik bahasa Arab, oleh ulama jaman dahulu, inti sarinya diringkas dan ditulis dalam dalam bentuk Nadzom (baca: tembang/lagu  yang berima sama). Dan semua santri wajib menghapal diluar kepala nadzom yang berjumlah ribuaan baris itu. Dulu saya pernah membenci dan mendesokan metode hafalan itu. Baru sekarang saya paham, bahwa hafalan itu adalah gerbang  pertama untuk memahami dan mengabadikan ilmu-ilmu itu untuk kemudian kita hayati sepanjang hidup kita di kemudian hari. Baru sekarang saya tahu, penelitian barat, membuktikan bahwa hafalan itu penting untuk menjaga kualitas memori otak kita.

Menempuh jalan yang tidak banyak ditempuh oleh orang kebanyakan di sekitar kita memang sering membuat kita menjadi merasa sendirian. Tetapi apalah arti hidup, jika kita hanya bisa mbembek orang-orang kebanyakan tetapi kehilangan jati diri kita sendiri. Semoga kita lebih berani memilih menjadi cahaya sendiri, daripada hilang dibawah cahaya orang lain.

Advertisements

4 comments

  1. Mas, lebih baik tdk memakai baju gamis atau tdk memelihara jenggot, lbh baik memilih menjalankan tradisi drpd mengikuti budaya Arab tp pikirannya picik, menjalankan ibadah hanya agar dibilang solehah, karena Allah menilai kita dari hati n amal perbuatan bukan dr pakaian n fisik kita. Dan bagi saya pribadi agama spt kita misalnya akan ke jakarta, kita bisa lewat jalur Utara atau Selatan, tdk ada yg salah jalur manapun yg kita tempuh asalkan tujuan nya tetap satu. Eh, kok jd menggurui ya, wong sy ini doa aja angger sukur, kok malah sok menggurui, maaf mas, kebawa emosi…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s