Generasi Gadget, Generasi Idiot?

“Those students who use tablets and computers very often tend to do worse than those who use them moderately.” – BBC (15/09/2015)

gadget

Ilustrasi: Anak dan Gadget

Pada sekolah musim panas  di sekolah bisnis, Universitas Edinburgh, Skotlandia, awal September 2015 yang lalu,  banyak sekali inspirasi yang terekam kuat dalam ingatan saya dari  yang disampaikan oleh Profesor Gilbert Laporte, dari Montreal, Kanada. Tidak hanya tentang permasalahan ‘routing’ yang saat ini banyak digunakan dalam manajemen logistik dan rantai pasok di industri. Tetapi juga hal lain di luar materi inti yang disampaikan. Salah satunya adalah tentang kehebatan para ilmuwan jaman dahulu.

Adalah Leonhard Euler (meninggal 18 September 1783), sang founding father  ‘algoritma’ permasalahan routing yang hingga detik ini menarik banyak perhatian baik para akademisi maupun pelaku industri. Yang membuat saya nggumun dan terkesima adalah produktivitas Euler yang luar biasa. Dikatakan, semasa hidupnya, sang legenda mampu menghasilkan 250 buku, 850 papers ( 800 halaman per tahun,dalam rentang waktu 1725-1783), 4500 ‘letters’ , dan ratusan manuscripts lainya (Ref: disini). Sudah barang tentu, bukan tulisan ecek-ecek ala kadarnya. Tetapi tulisan hasil penelitian yang masih dijadikan rujukan dan digunakan ilmunya hingga saat ini.

” ya, tentu saja semua ditulis tangan” kata Prof. Gilbert. Ini membuat saya tertegun, dan membatin: di jaman ketika belum ada mesin ketik dan komputer saja ada orang seproduktif itu, tidak kebayang jika Euler ini hidup di jaman sekarang, berapa banyak buku dan papers yang berhasil dia tulis. Tetapi, jangan-jangan Euler malah bisa jadi tak seproduktif  itu jika hidup di jaman sekarang? Buktinya,  di jaman sekarang ini rasanya sulit menemukan ilmuwan yang bisa menandingi produktivitas Euler.

Tidak hanya ilmuwan sekuler, dalam hazanah peradaban Islam pun, lebih dahsyat lagi. Kalau kita membaca sejarah peradaban Islam, kita mengenal Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dll. Ulama-ulama itu telah menghasilkan ratusan kitab (baca: buku), yang hingga detik ini karya-karya mereka itu masih dikaji setiap hari oleh jutaan santri di Indonesia. Padahal tentu saja, pada saat itu mereka harus menulis tangan karya-karya nya itu.

Imam Jalaluddin as-Suyuti dikabarkan telah menulis 600 jilid. Imam Ibnu Taimiyah dikabarkan telah menulis 500 jilid. Sementara Imam Abu Bakar al-Anbari telah menulis 400 jilid. (Ref: disini)

Diantara ulama yang kesohor itu juga termasuk ulama dari Indonesia, salah satunya yang kitabnya masih banyak dikaji dipesantren adalah Syeikh Nawawi Albantani (berasal dari Bantern, Indonesia). Disebutkan Syeikh nawawi ini telah menghasilkan tidak kurang dari 115 kitab (Ref: disini dan disini). Dan tentu saja kitabnya ditulis dalam bahasa arab. Selain syeikh nawawi ada juga Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi (dari Termas, Pacitan, Jawa Timur) , dan tentu saja Kh Hasyim As’ary sebagai ulama-ulama Indonesia yang ‘go internasional‘ pada jamanya.

Subhanallah, luar biasa sekali para ilmuwan dan ulama jaman dahulu bukan. Adakah di jaman komputer dan kemudahan akses informasi melalui teknologi internet seperti sekarang ini, ulama indonesia yang bisa menulis kitab seperti Syeikh Nawawi? haruskah jutaan santri di pesantren-pesantren di Indonesia, hanya mengkaji kitab-kitab kuning klasik yang itu-itu saja. Bukankah jaman sudah berubah? tidak adakah ulama jaman sekarang yang karyanya layak untuk dikaji sebagai referensi baru oleh para kyai dan santrinya di Pesantren?

Hal menarik untuk dicari jawabanya adalah, mengapa ya ternyata, komputer dan kemudahan internet kok tidak mendorong produktivitas?

Kita yang hidup di jaman sekarang ini sendiri tentu yang bisa menjawabnya. Logika sederhananya, anak-anak sekolahan dan mahasiswa yang hidup di jaman internet dan gadget ini, tentu memiliki akses informasi dan ilmu yang lebih mudah. Karena semua informasi kini bisa diakses dari tangan mereka. Tetapi, pertanyaanya adalah apakah siswa sekolah dan mahasiswa jaman sekarang lebih hebat  dari siswa sekolah dan mahasiswa jaman dahulu?

Baru-baru ini, riset di Inggris mengungkap fakta bahwa ternyata investasi teknologi (untuk komputer, tablet, dan sejenisnya) besar-besaran di sekolah ternyata tidak membuat siswa lebih pintar. Bahkan sebaliknya. OECD‘s education director Andreas Schleicher, mengatakan: school technology had raised “too many false hopes”.  Silahkan baca fakta menarik ini disini dan disini.

Berkaca pada diri sendiri, hasil temuan ini menurut saya masuk akal. Apalagi kalau penelitian itu dilakukan di Indonesia. Dibandingkan antara dua sekolah dengan input siswa dan kualitas sekolah yang comparable. Di sekolah yang satu siswanya diperbolehkan akses gadget terkoneksi internet 24 jam, yang satunya tidak diperbolehkan membaw HP hanya bisa akses internet dari lab. komputer di sekolah, misal di sekolah di pesantren. Saya yakin ketika diadakan ujian tertutup dengan soal ujian yang sama, hasil yang diperoleh oleh sekolah yang kedua lebih bagus daripada sekolah yang pertama.

Jujur saja, kita, anak-anak remaja apalagi, kebanyakan menggunakan akses internet untuk kesenangan dan hal-hal lain yang tidak butuh otak mikir (mindless).  Bahkan ketika kita dituntut untuk mikir pun, kita sering kali menggunakan gadget untuk pengalihan. Dikit-dikit ngecek facebook, instagram, youtube.

Apalagi dengan adanya mbah google. Tambah membuat kita malas berfikir, dan mengingat. Mahasiswa calon sarjana komputer misalnya, sekarang bisa bikin program dengan mengandalkan copy paste ‘code’ dengan bantuan mbah google. Tanpa harus capek-capek,  mikir, problem solving.  Ditambah lagi, jika penilaian mata kuliah 100% hanya dinilai dari demo program yang dibuat. Jelas, semakin membuat mahasiswa malas mikir dan mengingat.  Jaman saya kuliah dulu, saya masih mengalami, UTS dan UAS mata kuliah pemrograman dengan ujian tulis closed book. Iya betul, kami harus membuat program ditulis tangan diatas kertas ujian. Kami harus hafal semua  sintak kode Java, dan tentu saja harus benar-benar mikir memeras otak ‘to solve the problem’ dalam waktu yang terbatas.

Tapi justru itulah, yang membuat problem solving skill itu begitu mendarah daging pada kami. Sampai-sampai, seorang kawan saya, pernah berkomentar: ” sebegitunya kamu menjiwai kuliah mu, sampai-sampai pola pikir mu dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, terlalu sistematis kayak baris-baris program”.

Esensi dari kazanah keilmuwan, menurut saya adalah budaya mengingat, mengamati, niteni, dan berfikir yang dalam. Nah, kalau teknologi malah justru membuat kita malas untuk mengingat, mengamati, niteni, dan berfikir yang dalam, wajar kalau malah bikin kita semakin bodoh. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel hasil penelitian yang mengungkap bahwa ternyata terlalu banyak memfoto, bisa merusak memori otak kita (baca: disini). Masuk akal juga sih, karena kita saat ini terbiasa lebih banyak mengandalkan memori handphone, daripada memanfaatkan memori otak kita untuk mengingat fakta.

Itulah sebabnya, to some extend, saya masih setuju dengan sistem pendidikan rote system, yaitu sistem pendidikan dengan metode hafalan dan perulangan (materi pelajaran diulang-ulang),  untuk tetap dilestarikan. Meskipun banyak dikritik sebagai sistem kuno (lihat diantaranya disini, sistem tersebut masih digunakan di sekolah di Cina dan di pesantren-pesantren Indonesia. Toh dengan sistem pendidikan seperti itu, anak-anak Cina tak kalah pinter dengan orang barat. Lihat saja jumlah publikasi jurnal orang cina yang sangat dahsyat (lihat: disini), dan mahasiswa Cina yang terkenal pintar di kampus-kampus di barat.

tulisan_tangan

Catatan Riset dengan tulisan tangan saya

Sejak sekolah musim panas itu, saya coba iseng-iseng experiment pada diri saya sendiri. Jika biasanya saya 100% bekerja dengan komputer yang tergabung internet. Saya mencoba kembali menggunakan buku tulis untuk kegiatan riset PhD saya yang tentang algoritma. Jika biasanya saya langsung code and runs di editor. Saya ganti dengan berfikir yang dalam terlebih dahulu,  dengan membuat oret-oretan , rancangan algoritma, desain experiment di atas terlebih dahulu. Baru kemudian saya code dan run di editor.

Apa yang terjadi kemudian? Ternyata saya jadi kecanduan menggunakan buku tulis kembali. Saya jadi berasa jaman sekolah SD dulu, selalu menulis tanggal di atas kertas, kemudian membuat coret-coretan dengan pena itu rasanya ‘something’. Dan ternyata, saya merasa lebih produktif dan kerja saya menjadi jauh lebih efektif dengan bantuan buku tulis. Daripada kerja 100% dengan komputer. Membaca pun demikian, membaca dengan print out dan konsentrasi 100% jauh lebih efektif ketimbang membaca online ataupun membaca soft copy.

Sebaik apapun teknologi itu, tidak selalu sama dengan 100% bertambahnya kebaikan.  Ada saja celanya, yang menuntut kita untuk menggunakanya dengan bijak. Jika tidak, alih-alih menjadi lebih baik, bisa-bisa malah membawa kita ke keterpurukan. Internet adalah peluang sekaligus godaan. Jika kita tergoda, bisa jadi malah membuat kita jadi bangsa pemalas, apalagi jika terjerumus dengan bahaya pornografi misalnya. Jangan-jangan teknologi ini malah melahirkan para generasi idiot.

Semoga kita bijak dan waspada. Kembali ke poin awal, jika jaman belum ada mesin ketik, komputer dan internet saja, ulama dan ilmuwan terdahulu bisa sebegitu hebatnya. Bisakah kita pembelajar jaman sekarang, mengungguli atau setidaknya menyamai mereka? Akankah lahir kembali ulama dari Indonesia sekaliber Syekh Nawawi Albantani?

Advertisements

9 comments

  1. Betul mas, kemudahan teknologi justru ternyata menghasilkan generasi yg maunya serba instan, habis sekolah maunya lsg dpt kerjaan yg cuma ongkang2 di ruang ber-ac dpt gaji gede, pdhal dg proses menjadi bawahan rendah, perlahan menapak jenjang karir sy sadari mengajarkan utk bisa tetap menghargai bawahan/rekan kerja walaupun mungkin pendidikan mrk lbh rendah dr kita, tp menang pengalaman. So it should be smart technology for smart usernya…:)

  2. Memang kebanyakan seperti itu, tapi menurut saya teknologi jaman sekarang memang lebih membantu aktvitias pekerjaan, walaupun bukan menambah suatau kebahagiaan dan hanya kesenangan. Sebenarnya dengan teknologi misal kita bikin karya tidak perlu harus print ini itu menghabiskan banyak kertas , kan mubadzir apalagi waktu nulis skripsi atau yang harus bimbingan dan revisi, itu menurut saya pemborosan, apalagi jika permintaaan para dosen itu terlalu perfect dan kurang efektif, kan bisa lewat komputer atau tablet jadi kalau ada revisi tinggal di coret di tabletnya dulu, kalau sudah fix sudah jadi dan ga salah barulah di cetak menggunakan kertas, mungkin teknologi sekarang membantu kita untuk bisa menghemat kertas. Ini hanya salah satu contoh positifnya.

    Dan memang teknologi juga bisa membuat kita malas dan narsis, tapi dengan ada nnya teknologi canggih dan internet banyak sekali peluang untuk sebuah pekerjaan yang bukan hanya itu-itu saja, contohnya blogger, youtuber, dan IM dan yang lainnya, dengan akses internet kita bisa membuat itu semua menjadi sebuah peluang untuk meraih penghasilan dan menjadi sebuah profesi. Saya sendiir merasa lebih suka baca-baca lewat gadget karena kita bisa membaca sebuah tulisan yang membuak wawasan lebih luas, misal tentang sebuah fenomena alam, tapi tidak semua tulisan yang saya baca di web itu langsung saya serap , karena banyak juga tulisan yang mengandung unsur penipuan atau hanya mencari sensai seperti yang digunakan situs berita yang hanya mencari pengnjung saja dengan membuat judul yang kontroversial tapi isinya tidak ada atau bisa dibilang tidak pas sama judulnya.
    Tapi sah saja karena di dalam pelajaran bahasa dulu waktu smp kata guru saya membuat judul itu harus menarik kalau mau dibaca karangan buatanmu. Tapi yang salah disini banyak yang membuat judul ngawur padahal bukan sebuah karangan, dan itu terjadi di berita-berita juga :O.

    Hanya opini saya, karena saya lebih suka memandang sebuah teknologi yang canggih ini ke sisi positifnya, kalau sisi negatifnya pastinya kembali ke para pemakai teknologi tersebut 🙂 . Dan tentunya sekarang juga banyak masyarakat yang cerdas menyikapi sebuah teknologi, walaupun kenyataan malah banyak yang menjadi terbawa suasana yang membuat sebuah dampak negatif.

  3. Eh kebetulan sama lagi kita. Cuman beda bidang. AKu lagi seneng nggambar di kertas pakai pulpen sekarang. Nyekets2 karakter. Bikin kartun2 lucu. Atau logo atau tulisan yg bagus.

    Dan ternyata itu jauh lebih fun dibanding ndisain langsung di depan komputer. Mungkiin rediasi monitor itu yg bikin otak kita bodoh.

    Designer2 hebat di dalam dan luar negeri rata2 nyekets dulu pakai tulisan tangan. Baru diaplikasikan di software.

  4. alhamdulillah tulisan bapak sangat menginspirasi saya… sehingga saya ambil hikmahnya :

    1. teknologi seperi dua sisi mata pedang yang tajam… kalau memang sesuai dengan penggunaannya malah sangat efektif tapi kalau dimanjakan dengan teknologi, walhasil bakal bahaya ke diri sendiri.

    2. kadang metode lama, merupakan solusi untuk masalah yang kita hadapi di zaman serba canggih semacam ini. ini seperti kata-kata “ketika negara akan menerapkan kebijakan irit bbm, maka solusi jitunya adalah memakai sepeda atau berjalan kaki yang notaben sepeda dan jalan kaki adalah cara atau metode jaman dulu untuk digunakan sebagai transportasi, bukan malah membangun sesuatu yang makin canggih untuk dijadikan solusi”.

    syukro pak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s