Tentang Sudut Pandang Yang Berbeda

… perbedaan (khilafiyah) itu tidak jadi masalah, yang jadi masalah adalah ketika adanya pertentangan (ikhtilafiyah).  -KH Aqil Sirojd

toleransi_di_bali

Rukunya orang Muslim dan Hindu di Bali (net. tv, youtube)

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya ujug-ujug menemukan sebuah artikel yang ditulis oleh salah seorang  ustad yang sedang ‘ngartis’ di Indonesia. Seorang ustadz yang banyak menjadi panutan khususnya para kaum muslim urban di Indonesia yang konon katanya lebih well-educated itu. Tulisan itu berdasarkan penghayatan beliau ketika berkunjung beberapa hari di beberapa kota di Inggris, salah satunya ya kota dimana saya sudah lebih dari tiga tahun hidup, tidak hanyak melihat dari balik jendela kaca, yaitu kota Nottingham.

Yang membuat saya agak terperanjat adalah tentang narasi beliau dalam tulisan tersebut. Bagaimana objek yang sama begitu terlihat sangat berbeda di mata sang Ustad dan yang terlihat di mata saya. Bagaimana mungkin sebuah bangunan tua dipojok kota Nottingham itu ujung-ujungnya berakhir pada narasi ‘kebencian’ pada  orang-orang Yahudi dan bagaimana Inggris dikait-kaitkan sebagai bagian dari konspirasi jahat itu. Padahal di mata saya bangunan itu tak lebih dari seonggok bangunan tua yang sekarang berubah menjadi hotel dengan tema klasik dengan segmen pasar orang-orang pecinta masa lampau.

Kemudian juga tentang banyaknya masjid yang bermunculan di kota Nottingham, Birmingham, dan Manchester. Termasuk diantaranya, beberapa gereja yang dialihfungsikan menjadi bangunan masjid. Yang membuat saya tersenyum agak kecut adalah tentang narasi beliau tentang bagaimana Islam adalah agama yang berkembang sangat pesat di Inggris, tanpa penjelasan detail mengapa demikian. Saya sangat yakin, tidak sedikit orang yang membaca tulisan itu berimajinasi tentang banyaknya orang-orang bule Inggris yang berpindah agama Islam karena jatuh cinta dengan cahaya kebenaran Islam. Imajinasi tentang perempuan-perempuan bule Inggris yang banyak mengenakan jilbab. Menyusul pemberitaan yang dulu pernah menyebut nama bayi paling populer di Inggris adalah nama Muhamad/Ahmad.

Well, narasi itu memang tidak salah. Tetapi menurut saya kok kurang obyektif dalam membuat narasi. Sebagai muslim, tentu saya personally yakin dengan seyakin-yakinya dengan tentang kebenaran agama saya, dan saya pun yakin agama diluar agama saya itu salah.  Tetapi, keyakinan itu tidak seharusnya lantas membuat kita tidak adil, tidak obyektif dalam melihat kebenaran sebuah fakta.

Mengenai banyaknya muslim di Nottingham, Birmingham, dan Manchester saya lebih suka narasi historis. Pada saat revolusi Inggris, ketiga kota itu adalah kota terpenting penyokong revolusi industri. Banyak pabrik-pabrik didirikan ditiga kota itu. Pendirian pabrik itu tentu membutuhkan buruh pabrik. Siapa buruh-buruh pabrik itu? Masak iya orang Inggris mau jadi buruh pabrik, menjadi manusia setengah robot? Diantara supplier buruh pabrik itu yang terbesar berasal dari negara-negara koloni Inggris, yaitu orang IPB yang kebetulan mayoritas beragama Islam.

Pasca revolusi industri, dan berakhirnya kolonialisme, banyak dari keluarga buruh itu yang menetap dan memilih berkewarganegaraan British. Meskipun mereka harus menjadi warga negara kelas dua. Mereka dan anak cucu mereka inilah yang mendominasi komunitas muslim di Inggris itu hingga saat ini. Mereka kebanyakan bekerja di sektor informal sebagai sopir taksi, buka toko daging halal, warung kecil, usaha cuci mobil, hingga kedai potong rambut. Ada juga memang yang bekerja di sektor formal, sebagai guru, bahkan bekerja di city council tapi jumlahnya sangat sedikit. Ada juga memang orang British asli yang berpindah agama Islam semata karena hidayah dari Allah swt atau karena menikah dengan perempuan/lelaki muslimah/muslim tetapi jumlahnya memang tidak banyak.

Mengenai pesatnya pertumbuhan Islam di Inggris, ini menurut saya bisa dijelaskan dengan pendekatan sosio-cultural. Meskipun sama-sama tinggal di negara yang sama, rupanya ada perbedaan value antara orang British asli dan orang muslim IPB ini. Yang terlihat jelas adalah tentang peranan perempuan. Di budaya orang Inggris, lazimnya orang barat pada umumnya, nyaris tidak ada bedanya antara orang laki-laki dan perempuan. Karir keduanya di dunia profesi nyaris sama. Inilah, menurut saya penyebab kecenderungan banyak perempuan barat yang pada akhirnya malas memiliki anak. Bahkan, malas menikah secara resmi. Suami dan istri kedudukanya sama, dan mungkin mengandung dan memilihara bayi itu dianggap memberatkan pihak istri di mata orang barat. Tidak heran jika mereka lebih senang memelihara anjing daripada merawat bayi.

Sebaliknya, sebagaimana kita tahu kedudukan perempuan dari keluarga IPB itu kurang lebih sama kayak perempuan jawa jaman dahulu. Posisinya di sumur, kasur, dan dapur. Pekerjaanya, masak, macak (berdandan), dan manak (melahirkan). Tidak heran jika pada akhirnya, keluarga muslim keturunan IPB ini biasanya anaknya banyak sekali. Adalah pemandangan tipikal ketika berpapasan dengan perempuan muslim IPB ini terlihat dengan dua anak yang masih kecil digandeng dikedua tanganya, sementara perutnya sudah dalam kondisi hamil besar. Sehingga, masuk akal sekali jika nama bayi-bayi yang lahir itu bernama Ahmad/Muhamad, bukan?

Ada satu fakta lagi yang sebagai sesama muslim, saya sebenarnya sedikit merasa agak malu. Sudah menjadi rahasia umum disini bahwa, kalau dibanding dengan orang British asli, orang-orang muslim IPB itu less-bahave. Jika ada yang suka nyerobot antrian, tidak tertib berkendaraan, bisa dipastikan mostlikely ya orang mereka. Juga sudah menjadi rahasia umum, kalau kawasan yang didominasi mereka biasanya daerahnya lebih kumuh dan tingkat kriminalnya lebih tinggi. Tetapi ada untungnya juga buat mahasiswa kere macam saya ini, biasanya kawasan tersebut harga sewa rumahnya lebih murah, dekat masjid, dan dekat toko daging halal lagi, hehehe. Juga bukan rahasia lagi, jika sampean jalan-jalan ke Eropa, jika bertemu dengan para pengemis yang mintanya agak maksa dan mirisnya para pengemis itu kebanyakan berjilbab.

Terakhir mengenai banyaknya masjid di Inggris, yang sebagian diantaranya berasal dari konversi gereja (lihat tulisan saya sebelumnya disini dan disini). Ketimbang berbangga-bangga diri, saya kok malah justru banyak belajar bagaimana seharusnya agama mayoritas mengayomi agama minoritas. Saya  merasa sangat beruntung, hidup di negara dimana keyakinan saya yang berbeda dengan orang kebanyakan disini, begitu dihormati oleh mereka. Bahkan rumah ibadah mereka, diijinkan untuk dirubah menjadi tempat ibadah kami. Bagaimana kampus sekuler kami, begitu bermurah hati menyediakan tempat sholat permanen yang sangat nyaman, bahkan fasilitas olahraga pun mereka ijinkan untuk tempat ibadah diluar tempat ibadah yang sudah mereka sediakan ketik hari raya kami tiba. Malu rasanya, di negara saya sendiri, yang beragama mayoritas justru pola pikirnya masih kayak minoritas, penuh kecurigaan, dimana ijin pembangunan tempat ibadah jauh lebih susah daripada ijin pembangunan diskotik dan tempat karaoke.

Begitulah, bagaimana obyek yang sama bisa terlihat begitu berbeda di mata orang yang berbeda. Hal yang sama bisa diceritakan dengan narasi yang bahkan berlawanan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Dunia ini sangat kompleks, so wajar jika akhirnya memunculkan cara pandang yang berbeda. Yang tidak wajar adalah ketika kita bertentangan, gontok-gontokan, hanya karena perbedaan sudut pandang. Semoga kita terus mau belajar memahami dunia yang kompleks ini. Bisa jadi kita sangat mahir dalam memahami seluk peluk membuat kapal terbang, tetapi kita sangat bodoh dalam memahami keadan socio-cultural di sekitar kita. Untuk itulah, perlunya kita berendah hati untuk mendengar, melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain yang mungkin lebih paham daripada kita. Jangan sampai kita memaksakan kebenaran yang kita yakini kebenaranya kepada orang lain, apalagi dengan kekerasan. Na’udzubillah tsumma naudzubillah mind dzalik.

Referensi Bacaan:

Advertisements

12 comments

  1. Sekarang jamannya sudah seperti ini cak, banyak ustadz artis yang diorbitkan entah dari kelompok tertentu. Meski juga banyak yang muncul secara organik karena wawasannya dan ceramahnya yang memang bermutu, meski tidak sebanyak yang sebelumnya.

    Sudut pandang, kalau menurut saya sendiri adalah akumulasi pengalaman dan wacana yang telah dicerna siempunya. Terkadang kalau yang membatasi sumber wacana dari golongannya sendiri jadinya sulit untuk luwes dalam berpikir dan sudut pandangnya akhirnya sempit. Sedangkan tokoh-tokoh yang saya anggap mumpuni, beliau-beliau belajar dari berbagai sumber yang akhirnya terlihat dari keluwesannya dalam berpikir dan berargumentasi.

    Entahlah yang seperti ini saya cuma bisa komentar saja. Seringkali ungkapan “al-islamu mahjubun bil muslimiin” terjadikan oleh orang-orang yang tidak luwes dalam berpikir dan melakukan monopoli kebenaran. Semoga saja kita dak masuk yang suka monopoli-monopoli gini.

    Saran saya cuma satu, cak shon agar segera jadi artis dan nanti saya yang nonton kalau tausiyah di TV 😁

    1. indeed. Cuman saran sampean menyesatkan hahaha……. Alhamdulilah sekarang Kang Said dan Kang Komar sudah sering muncul di Net TV. Seharusnya mereka2 itu yang lebih sering muncul di TV.

  2. Tulisan ini kemudian membuka wawasan baru bagi saya yang belum pernah main ke luar negeri. Nyatanya ada fakta yang masih belum sepenuhnya dijelaskan oleh ustad tadi.

  3. Rasanya negara kita ini butuh orang2 spt si mas ini, ulet mengejar ilmu duniawi n rohani namun mampu menghormati n menghargai perbedaan yg ada di sekitar. Sy ingat ada satu tokoh islam di jaman perang salib yg bagi saya (yg beda agama ini) bisa menjadi panutan, kl tdk salah namanya Salahuddin, sy pernah baca kl beliau ini bahkan terhdp tawanan musuh yg beda keyakinan tetap berlaku hormat n berperilaku kemanusiaan. Ya begitulah cara menyebarkan agama yg baik, ga banyak omong tp banyak berbuat. Moga2 bisa jadi inspirasi buat kita semua mas…utk jadi Umatnya yg soleh

      1. Di jaman yg sdh globalisasi ini hrs sgt open minded, cuma memang nyadar yg susah adl gimana bs nyaring pengaruh buruk spy kita ga terpengaruh, namanya jg manusia, suka ‘nglali’ ha, ha, ha, soalnya yg buruk kan biasanya malah yg enak n menyenangkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s