Rembulan dan Kunang-Kunang

rembulan

Rembulan di atas kota Nottingham

Menjelang subuh tadi aku menatap rembulan,
Sinarnya yang lembut menghadirkan suasana hati yang teramat tenang,
di penghujung malam yang hening sunyi itu.

Rembulan, dulu kau begitu memesona,
Kau begitu dipuja,
Entah berapa ribu cerita, puisi, dan lagu telah digubah
untuk menyanjung keindahan mu.
Teringat anak-anak desa yang sempurna tertawa riang,
Karena kehadiran mu membuat malam menjadi padang jingglang,
terang benderang.
Para petani yang bersuka cita, karena bisa bekerja menggebyok padi, di malam hari di bawah sinar mu, saat musim panen tiba.

Kunang-kunang, kau hadir saat rembulan sedang menunggu hilal
Kelap-kelip sinar mu, indah menghiasai kegelapan malam.
Tapi, kata orang kamu adalah penjelmaan kuku orang-orang mati.
Mungkinkah, para leluhur yang telah tiada itu sedang merindukan orang yang masih hidup?

Rembulan, kini pesona mu semakin pudar,
Tergantikan lampu-lampu kota yang bak bintang gemintang di bumi.
Semakin sedikit orang yang bisa menikmati pesona keindahan mu,
Semakin sedikit orang yang menyanjungi.

Kunang-kunang, dimanakah diri mu kini berada?
Puluhan tahun sudah kamu menghilang begitu saja.
Apakah para leluhur kami, tidak merindukan kami lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s