Generasi Tua Orang Inggris yang Hangat

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikanya, lain generasi beda tradisi? – a random thought

generasi_tua

Para Generasi Sepuh

Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling mengenal satu sama lainya. Begitu firman Tuhan. Beruntung kita hidup di jaman seperti sekarang. Kemajuan teknologi transportasi, membuat kegiatan menjelajah, saling mengenal bangsa lain itu  menjadi lebih mudah dan murah.

Saya selalu menikmati kegiatan menjelajah belahan bumi lain ini. Mengenal mereka, melihat cara mereka menjalani dan memaknai hidup, semakin memperkaya perspektif saya akan kehidupan ini. Bahwa kenyataan beda bangsa beda budaya, memaksa saya untuk menjadi lebih bijak memahami dan bersikap dalam berkehidupan ini. Bahwa benar-salah, baik-buruk  bukanlah kebenaran yang mutlak.

Setiap bangsa memiliki kesan sendiri di mata bangsa lainya. Orang-orang bule selalu iri dengan kebahagiaan orang-orang indonesia yang begitu murah di Indonesia. Senyum bertebaran dimana-mana. Kemurahan hati, keramahtamahan orang Indonesia telah membuat mereka jatuh cinta. Semoga saja mereka tidak meniru budaya korupsi para pejabat-pejabat kita  yang menjijikan itu.

Sementara kebanyakan orang Indonesia terpesona dengan keindahan fisik orang-orang bule. Kulit putih mulus, hidung mancung, rambut pirang, mata biru adalah perlambang kecantikan dan ketampanan sempurna di mata orang-orang Indonesia kebanyakan. Tak heran, jika banyak diantara orang-orang kita meniru-niru gaya mereka.

Jika orang bule belajar kebahagiaan kepada orang Indonesia, kenapa kita hanya meniru gaya  mereka saja. Kata seorang kawan, kenapa kita enggan belajar budaya kedisiplinan, kerja keras, integritas, dan profesionalitas mereka dalam bekerja?

Bagi saya, orang bule, orang Eropa dan orang Inggris khususnya, yang istimewa adalah etos kerja mereka. Mereka begitu profesional di bidangnya. Serta budaya egaliter mereka. Jabatan, pendidikan tak menjadikan orang merasa lebih terhormat dari lainya. Seorang yang berkedudukan bos di sebuah perusahaan merasa sama derajatnya dengan seorang pembersih toilet. Seorang bos membukakan pintu untuk seorang pembersih toilet di sebuah kantor adalah hal yang lumrah dan wajar. Dan tentunya hal yang teramat langka ada di Indonesia.

Memang orang Inggris tidak seramah orang Indonesia. Mereka terkesan dingin, dan asyik dengan dunia sendiri. Tak lazim orang bertegur sapa dengan orang yang belum dikenal sebelumnya di tempat umum. Tetapi mereka sangat baik hatinya sebenarnya. Saya sering mendapatkan ‘helping hand’ tanpa saya harus meminta.

Tentu saja budaya mereka tidak semuanya baik. Budaya mabuk, kumpul kebo, nyaris tidak mengenal agama, adalah hal-hal yang jelas tidak saya suka.

Kesan dingin orang Inggris itu terbantah jika kita berhadapan dengan para generasi tua orang Inggris. Yah, jumlah populasi generasi tua di Inggris cukup besar  di Inggris. Pelayanan kesehatan, jaminan sosial dan gizi yang baik mungkin menjadi salah satu faktor banyak para generasi tua panjang umur di masa pensiun. Saya selalu senang berada di dekat mereka, karena selain ramah(baca:menyapa duluan) dan baik, mereka selalu memanggil orang yang lebih muda dengan panggilan sayang: ” Darling “.

Seperti pagi itu, saya merasa berada di tempat yang salah. Berada diantara orang-orang yang beda generasi dengan saya. Yah, saya sedang berada di antara orang-orang tua yang telah sepuh  dan memutih rambutnya. Ceritanya saya sedang mengikuti training untuk menjadi penjaga ujian akhir semester ini. Nah, rupanya para calon penjaga ujian ini hampir semuanya adalah orang-orang tua yang sudah pensiun tadi. Sekedar untuk mencari kesibukan mungkin, karena kalau hanya untuk kebutuhan hidup, kebutuhan hidup mereka sudah dijamin oleh pemerintah.

Hangat sekali berada di antara mereka. Senyum mudah terumbar. Semua saling bertegur sapa. Dan hal-hal kecil pun mudah membuat mereka bahagia. Seperti ketika diumumkan, nanti ada break, dan kita semua akan mendapatkan kopi/teh gratis. Para orang sepuh itu pun bak paduan suara bersorak sorai, dan tawa kecil pun terus mengalir. Hal yang tak lazim menurut saya di negara ini, apalah artinya secangkir kopi gratis di negara makmur ini?

Mungkin budaya generasi mereka seperti itu. Atau bisa jadi karena mereka hanya tinggal menunggu kematian, mereka memaknai lain tentang kehidupan. Entahlah.

 

 

Advertisements

4 comments

  1. saya dulu juga beranggapan demikian Cak. Setiap ada undangan visiting lecture dari pembicara luar dan diminta untuk meramaikan selalu diselipkan bahwa bakal ada kopi dan biskuit gratis. Apa istimewanya kopi ini ya, kok selalu disebut sebut di setiap undangan di email. Ternyata memang agak istimewa bagi mereka mungkin kopi ini layaknya nasi ramas atau nasi bungkus bagi kita di tanah air.

      1. juadah sudah jadi bahasa Indonesia, diartikan panganan dari ketan. Namun menurut orang orang melayu juadah ini bolehlah dikatakan snack, makanan ringan: bisa terbuat dari ketan dan terbuat dari bahan lain lainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s