Kemrungsung: Ketika Perjalanan Hidup Kita Diperbandingkan

…. bisa jadi pada satu persimpangan waktu, kita berada pada panggung kehidupan yang sama. Tetapi bukan berarti lakon ku dan lakon mu sama. Karena kita sedang memerankan skenario yang berbeda. – a random thought

Withby_hidup

Ilustarasi: Mesra hingga diujung usia (Whitby, UK)

Dalam satu titik perjalanan hidup, kita pernah membandingkan kehidupan kita dengan dengan kehidupan orang-orang yang kebetulan berada di dekat kita. Atau bahkan, hidup kita dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Si Fulan sudah naik haji dan umrah berkali-kali dengan keluarganya, diusianya yang masih sangat belia. Sementara kamu, dengan usaha dan kerja keras siang dan malam mu, jangankan buat naik haji, rumah saja masih ngontrak di pinggiran kota.

Si Fulanah, teman seangkatan kuliah mu itu, karir akademiknya begitu cemerlang. Meraih gelar PhD kurang dari 3 tahun, serta mendapatkan bermacam-macam penghargaan ini itu dari sana-sini. Telah menginjakkan kakinya di berbagai belahan dunia. Sementara kamu, masih berjuang sendirian menyelesaikan skripsi yang tidak kelar-kelar. Menyandang predikat sebagai mahasiswa paling tuwek di kampus. Si Fulanah, namanya sering disebut-sebut dengan penuh pujian, sementara kamu, menampakkan batang hidung saja, rasanya malu setengah mati.

Ketika kita berada pada posisi puncak yang diuntungkan, tentu kita sangat senang jika dibanding-bandingkan. Sebaliknya, ketika kita berada pada titik nadzir, dibanding-bandingkan itu rasanya perih setengah hati. Dibandingkan oleh diri sendiri saja, membuat hati menjadi gelisah tak tenang. Kemrungsung kata orang Jawa. Apalagi jika yang membandingkan orang lain, di depan kita lagi. ” ingin rasanya ku bunuh orang itu “.

Para motivator hidup bisa saja mbacot, seolah menjalani hidup ini begitu mudah. Seolah selalu ada solusi untuk setiap permasalahan. Selalu ada golden rule yang bisa kita ikuti untuk meraih kesuksesan, meraih mimpi yang kita dambakan.

Tetapi, kenyataan hidup tidak pernah semudah bacotan para motivator kehidupan itu. Banyak hal-hal yang sungguh tak bisa kita kendalikan dalam kehidupan ini. Kehidupan selalu menyimpan misterinya sendiri. Pepatah boleh saja mengatakan berakit kehulu berenang ketepian, bersakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tapi kenyatan, bersakit-sakit seolah tak berkesudahan, bahkan malah mati kemudian.

Dalam hidup, kadang pilihan yang terbaik adalah ridhlo dengan apa pun yang sedang terjadi  dalam kehidupan kita. Ikhlas, nerimo ing pandum, terhadap peran apa saja yang harus kita mainkan dalam panggung kehidupan ini. Tidak setiap tanya harus ada jawabnya. Bukankah pelakon yang terbaik itu dia yang paling menghayati peran nya? Bukan yang paling enak peran nya.

Kita sendiri yang bisa menghayati betapa indahnya perjalanan hidup kita ini. Bukan para penonton kehidupan kita, yang hanya bisa bersorak hooo dan betepuk tangan. Sudahlah, tutup saja, akun media sosial mu, jika hanya membuat hati mu menjadi kemrungsung. Percayalah hidup mereka tak seindah yang mereka pamerkan. Betapa indahnya hidup, jika pada setiap perjalanan, kita bisa menghayati dan memahaminya. Perjalanan kita, bukan perjalanan orang lain. Betapa tenangnya hati kita, ketika kita bisa ridho dan ikhlas, dengan apa pun yang terjadi, setelah kita berusaha melakukan yang terbaik sekuat tenaga.

Suatu saat nanti, kita akan sadar, bahwa hanya ketenangan hati dan ketentraman jiwalah, teman sejati perjalanan hidup kita. Bukan label, tempelan-tempelan, atau ukuran-ukuran yang digunakan orang lain untuk menilai kita. Hingga saat perjalanan hidup kita ini harus berakhir, kita akan kembali kepada yang memberi kehidupan ini dengan hati yang tenang, dan jiwa yang tentram.

…. Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii. – Wahai nafsul mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.) #QS.Alfajri :27-30.

Semoga, kita selalu dapat melangkahkan setiap jengkal kaki kita dengan penuh keyakinan!

 

Advertisements

9 comments

  1. Suka tidak suka akan selalu saja ada orang atau sekelompok orang yang akan membandingkan aku dan kau, kita dan mereka, ia dan dia. Namun saat diperbandingkan, maka bagi saya adalah bukan berusaha membuat orang itu berhenti memperbandingkan karena hal itu sudah lazim dan agaknya bakal begitu adanya, melainkan menjadikan perbandingan itu sebegai pelecut diri untuk meraih yang terbaik sesuai cak Shon sebutkan hanya dan hanya demi Ridhonya bukan demi menunjukan bahwa aku lebih dari kamu, kita lebih dari mereka atau ia lebih dari dia.
    Salam dari negeri seberang, all the best for cak Shon and family.

  2. Sip cak son 😁

    Kalau saya sendiri belum dibandingkan dengan orang lain sudah membandingkan sendiri. Hal yang seperti ini sebenarnya kurang sehat tapi dak tahu sudah otomaatis aja.

    Sejak dulu sering diajari beberapa konsep seperti: kalau melihat masalah harta lihat kebawah kalau masalah amal ibadah lihat ke atas, boleh iri dalam hal ilmu dan amal soleh, dll. Konsep-konsep yang masih sering terlupa untuk dipraktekkan.

    Kalau sekarang seringkali kalau melihat/mendengar orang-orang yang prestasinya mumpuni saya punya pemikiran tersendiri. Mereka mencapai titik itu pasti tidak mudah, pencapaiannya juga mengorbankan hal-hal yang belum tentu diperlihatkan ke orang lain. Juga seandainya mencapai itupun terus kenapa? Semua capaian di dunia belum tentu mengantarkan kepada kebahagiaan atau kepuasan baik dunia atau akhirat.

    Sing penting ngelakoni lelakune urip, menowo gusti pengeran kerso mugi diparingi dalan sing sae. Ikhtiar e ditenani, niate ditoto, menowo enek sing lali mugo enek sing ngilingno. 😁

  3. Ha, ha, ha, soal dibandingkan, emang betul mas, kadang bikin kemrungsung. Tp kl sy pegang aja prinsip org cina: hoki org beda2; ajaran di agama: talenta/bakat org beda2, jd yg penting bgmn kita berusaha maksimal dg hoki kita, dg bakat kita. Kmdn bersyukur selalu berapapun kecil berkat yg kita terima, jadi ga kemrungsung lg deh…betul kan mas… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s