Bichester: Desa Wisata Penjual Gaya Hidup di Inggris

… gaya hidup mewah dan konsumtif kini pun bukan lagi godaan, melainkan sudah meningkat seakan menjadi teror. Pikiran dan selera masyarakat dihadang oleh iklan terutama melalui layar televisi. – Prof. Komaruddin Hidayat

” Dior, Prada, Fosil, Blueberry, Hermes, Gucci “,  apa yang terlintas di pikiran sampean ketika mendengar nama ini? Beruntunglah,  jika sampean tidak mengenal nama-nama itu. Karena, di jaman serba kebendaan seperti saat ini, lebih sering manusia dilihat dan dinilai dari apa-apa yang melekat pada dirinya, bukan lagi kemanusiaan manusia itu sendiri. Merek-merek diataslah, yang memberikan nilai tinggi pada jaman yang katanya jaman kemajuan seperti saat ini.

bichester_sign_board

Desa Bichester, UK

Banyak sekali orang-orang yang merasa kehormatan dan kepercayaan dirinya meningkat drastis, hanya karena barang-barang dengan merek di atas melekat di badanya. Merek yang melambangkan status sosial. Bahkan mungkin status kemanusianya.

bichester_prada

Outlet-outlet Merek  Apparel termahal sejagad

Tak heran, jika banyak orang mengimpikan bisa berjalan-jalan di kota-kota paling glamour di dunia, seperti London, Paris, Milan, Newyork, Singapore, dengan kedua tanganya menentang tas belanjaan barang merek-merek di atas. Kemudian memamerkan fotonya di akun media jejaring sesosialnya. Wes, jian kalau sudah begitu, seolah mulia sekali hidupnya.

bichesther_the_fo

Mereka yang kalap Belanja

Pada liburan musim panas beberapa bulan yang lalu, saya bersama teman-teman Indonesia, rombongan satu bus mengadakan piknik berjamaah ke kota Oxford. Sepulang dari Oxford, dalam perjalanan pulang ke Nottingham, kami sengaja mampir di sebuah desa yang cukup terkenal di Inggris, namanya desa Bichester.

bichester_mushola

Mushola, di pojok Outlet Barang Mahal

Bayangan saya,  saya akan menikmati suasana desa yang hangat dan bersahabat dengan budaya British nya yang masih sangat kental. Rupanya, desa yang satu ini tidak lazim. Desa ini terkenal bukan karena pesona kendesoanya, tetapi anehnya terkenal karena menjual barang-barang yang lazimnya dijual di kota-kota besar sekelas London dan Paris. Yah, desa yang memiliki ‘pasar’ yang hanya menjual barang-barang merek termahal di dunia.

bichester_fotobareng

Bapak-bapak yang Nungguin Pasanganya window shopping

Layaknya sebuah desa, Bichester ini suasananya tenang. Tetapi begitu sampai di pusat desa, ada pemandangan sedikit berbeda. Ada Satu komplek perumahan yang bangunanya semuanya satu lantai. Ada mobil-mobil mewah terparkir berjajar di seberang jalan dari kompleks itu. Dan setiap dari rumah itu adalah outlet barang ‘apparel’ merek-merek paling  mahal sejagad ada disitu. Mulai dari parfum, jam tangan, tas, hingga celana dalam yang biasa dipakai artis-artis hollywood ada disitu semua.

Bagi yang terbiasa bergelimang harta, memasuki komplek ini mungkin terasa seperti memasuki syurga belanja. Tetapi bagi saya yang balungan kere sejak dalam kandungan ini, berada di kompleks ini terasa begitu menyiksa bahkan meneror.

bichester_kudajingkrak

Orang Kaya dengan Kuda Jingkraknya

Saya coba window shopping di salah satu outlet baju yang berjajar-jajar itu. Wau, baru saja masuk, rasanya sudah langsung diintimidasi. Pandangan pertama langsung disapa tulisan besar, “From £350 (setara Rp. 7.000.000)” . Jian, tulisan itu buat saya tak ada bedanya dengan tulisan ” orang miskin dilarang masuk”.  Haha, saya selama di Inggris, paling banter belanja pakaian ya di Primark, dimana harganya hanya 1/100 dari harga di outlet itu. Lebih seringnya belanja pakaian bekas di Carboot, yang banyak jualan baju seharga £1, hehe.

Karena terlanjur masuk, saya pura-pura saja megang-megang baju mahal itu. Saya nggumun sekali, kok ya ada baju seharga diatas £1000. Alamak. Saking penasaranya, tangan saya tak masukkan ke baju mahal itu, dan saya rasakan sensasinya perlahan. Haha, benar juga sih rasanya adem. Kata teman saya, itu baju kalau pas musim panas bisa mengademkan, kalau di musim dingin berubah bisa menghangatkan. Wah, cerdas sekali baju itu, pantesan semahal itu ya.

bichester_angkot

Eit, anomali: masih ada Angkot juga 😀

Meskipun, hampir semua barang-barang yang melekat di badan itu, dilabeli merek-merek asal kota mode dunia seperti London, Paris. dan Milan. Sudah rahasia umum, kalau sebenarnya barang-barang itu diproduksi di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Yah, barang-barang super mahal itu adalah hasil karya tangan-tangan manusia setengah robot, para buruh pabrik yang harus bekerja shift 24 jama sehari, 7 hari seminggu, di negara yang tanahnya subur, gemah ripah loh jinawi. Para buruh pabrik yang dibayar sangat murah, yang total upah buruh jutaan itu tidak ada satu persen dari keuntungan pemilik modal,  dan total upah jutaan buruh itu lebih murah dari bayaran seorang model iklan dari barang yang dijual itu.

Setiap melihat label barang bahal itu tertulis made in Indonesia, hati saya langsung merasa ngenes. Ini barang bahan bakunya dari negeri saya,  tempat pabrik dan buruhnya juga dari saya, yang semuanya dibeli dengan sangat-sangat murah. Kemudian setelah dilabeli, menjadilah barang yang sangat-sangat mahal, yang sebagian dibeli kembali orang-orang di negara saya ketika menghabiskan uangnya di luar negeri.

Eyalah, siapa untung siapa yang buntung? Siapa yang bodoh, siapa yang diakadali? Bagaimanapun juga, yang memiliki modal yang paling serakah menikmati keuntunganya. Dan saudara-saudari saya, para buruh pabrik yang ikhlas itu, sampai kapanpun ya tetap miskin. Mereka tak punya pilihan, selain menjeratkan dirinya pada sistem perbudakan modern yang sangat tidak adil itu.

Di komplek outlet barang mahal itu, orang-orang terlihat begitu kalap belanja. Menariknya, banyak sekali yang belanja luar biasa banyaknya itu banyak perempuan-perempuan Arab lengkap dengan pakaian serba hitam dan cadar yang membungkus nyaris sempurna tubuhnya.  Sampai-sampai, di komplek yang tidak sebegitu luas itu, disediakan tempat khusus untuk sholat. Dan mushola itu antrianya tidak pernah sepi. Artinya banyak dari yang belanja itu adalah orang-orang muslim.

Dalam hati saya heran, perempuan-perempuan Arab ini lowh, mau bergaya bagaimana dengan pakaian mahal-mahal itu? Toh apapun dalamanya yang terlihat hanya balutan kain hitam polos itu? Hehe, ternyata saya salah sangka. Kata seorang teman yang pernah masuk ke komunitas mereka. Para perempuan Arab itu mereka juga punya acara layaknya Arisan ibu-ibu sosialita di Jakarta. Dimana para perempuan Arab itu akan bertemu dengan sesamanya, disana mereka membuka jilbabnya dan memamerkan semua yang melekat di badan mereka. Dan nilai mereka juga dinilai dari merek barang-barang yang melekat di badan mereka itu. Itulah sebabnya, kenapa mereka banyak yang memburu barang-barang super branded itu. Oalah, ternyata, sama saja haha.

Berjam-jam, kami menghabiskan sore yang panjang di musim panas itu hanya untuk melihat-melihat orang belanja. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya, kenapa ya barang-barang mahal itu di Jual di Desa? bukanya lazimnya, orang-orang yang kaya itu belanjanya ya di kota besar? Mungkin untuk mengurangi biaya sewa tempat, kan di desa seharusnya jauh lebih murah. Tapi ya kalau jauh dari kota besar, siapa yang mau harus menuju desa untuk harga yang lebih murah. Benar, kata salah seorang teman saya, bahwa barang yang sama, tidak ada KW ya di negara ini, harga barang di desa penjual gaya hidup ini lebih murah cukup signifikan jika dibandingkan dengan harga di London. Yah pantesan, meskipun di desa, tempat belanja ini diserbu ribuan pembeli tiap harinya.

So, buat sampean yang ingin bergaya hidupnya, jika jalan-jalan ke London, mampirlah belanja di desa penjual gaya hidup ini ! Tetapi buat sampean yang sudah merasa cukup dengan kemanusiaan kalian, tak perlulah membeli nilai dengan barang-barang yang menempel di badan kita. Sampean mau dinilai orang karena kemanusian sampean sendiri, atau karena yang melekat di badan sampean hayo?

Masalahnya, jama sekarang masih ada ndak ya, yang tulus menghargai kita ya karena kemanusiaan kita? Bukan karena jabatan, pendidikan, kecantikan/ketampanan, dan kekayaan yang sebenarnya semuanya hanya menempel, yang kapan saja bisa terlepas dari kita.

Advertisements

7 comments

  1. Msh adakah yg menghargai krn kemanusiaan bkn krn apa yg menempel di badan? Ada mas…no.1 istri si mas yg cantik, lalu mrk yg setia mendukung, membaca blognya si mas ini…walau bhs inggrisnya mungkin rada clometan (ha,ha,ha, guyon mas), walau wajah-otak n duit serba pas2an…masih ada mas, jgn kuatir…:)

  2. By the Way, suami saya ini fan berat blognya si mas lho, sy jg tahu ada blognya ini dr suami saya, trus jd ikut ketagihan…. He, he, he. Suami sy bahkan promosi blognya si mas ke teman2, sementara sy suka pakai artikel si mas kl lg nasihatin bawahan yg nb anak2 muda yg suka ndlewer….ha, ha, ha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s