Lagu-lagu Perjuangan Kita

… lagu terkadang bukan sekedar penghibur di kala senggang, lagu bisa menjadi perekam kenangan yang sewaktu-waktu bisa kita hadirkan kembali setiap lagu itu kita dengarkan kembali – a random thought

nglokro_01

Merenungi Nasib

Kesendirian, kesepian, keheningan malam, dan  secangkir kopi adalah teman akrab mahasiswa yang sedang berjuang di tahun terakhir studinya. Demikian juga, kekhawatiran, kecemasan, frustasi, begitu akrab menemani hari-hari dimana kita merasa kurang tidur itu. Bekejaran dengan moster menakutkan bernama deadline.

Kebetulan, saya bukan penikmat kopi, dan peminum teh atau sejenisnya. Satu-satunya pain-relief di hari-hari penuh penderitaan itu adalah mendengarkan lagu. Dan selalu saya ingat lagu-lagu itu, mungkin sampai kapan pun hingga ingatan ini benar-benar telah merapuh. Saya menyebutnya lagu perjuangan kita. Lagu yang begitu kuat merekam kenangan perjuangan yang mendebarkan itu.

Tahun 2006, di saat semester 8 S1, di malam-malam yang panjang menjelang sidang tugas akhir/skripsi, di ruangan lab tugas akhir yang sempit itu, di depan monitor 14 inchi, telingaku tak pernah jeda mendengarkan lagu-lagu soundtrack film My Heart dan lagu-lagu nya MLTR yang selalu saya ulang-ulang. Setiap kali mendengar lagu-lagu itu kembali, jiwa saya rasanya terbang kembali ke hari-hari itu.

Tahun 2008, di saat semester 4 studi S2 saya, saya pun menghabiskan malam-malam yang panjang di kamar hostel di depan laptop, dengan beberapa lagu-lagu perjuangan. Bedanya, di tahun itu lagu perjuangan saya adalah lagu-lagunya letto. Lagu-lagu yang liriknya menurut saya sangat dalam itu seolah memberi kekuatan batin sendiri.

Nah, dan tibalah akhirnya, saat ini saya di akhir studi S3 saya. Dan lagu-lagu perjuangan saya saat ini adalah lagu-lagu gamelan jawa, lagu-lagunya kyai kanjeng, lagu-lagu nasida ria, dan lagu-lagu  jadulnya bang haji rhoma irama. Argh, lagu-lagu jadul itu seolah menyemangati saya untuk segera kembali ke ndeso, pulang kembali ke kampung halaman. Dan satu-satunya lagu baru yang menyemangati saya adalah lagunya Afgan: Untuk mu Aku bertahan (soundstrack film my idiot brother).

Ini bagian lirik yang paling saya suka:

Tenanglah kekasihku. Ku tahu hatimu menangis. Beranilah tuk percaya. Semua ini pasti berlalu. Meski takkan mudah. Namun kau takkan sendiri. Ku ada di sini.

Setiap mendengar lagu ini, seolah ada istri saya di samping saya, yang menyanyikan lagu ini untuk saya.
***
Untuk diri saya sendiri yang lemah, saya menasehati. Argh, perjuangan mu ini tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan perjuangan arek-arek suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya sekedar mengorbankan waktu tidur dan bersenang-senang, tetapi darah merah. Ingatlah betapa banyak darah yang telah tumpah, nyawa yang meregang, yang telah ditumbalkan untuk kenyamanan yang engkau rasakan saat ini di kota mu. Penderitaan mu tidaklah seberapa, jika dibandingkan penderitaan nenek moyang mu, hidup beratus-ratus tahun, di bawah kejamnya penjajahan, ketika kewibaan bangsa sendiri dikangkangi londo, inggris, dan Jepang.

Untuk diri saya sendiri yang rapuh, saya menasehati. Argh, kekhawatiran mu itu belumlah seberapa, jika dibanding kekhawatiran si bocah-bocah desa menatap masa depan mereka, yang harus terhenti sekolahnya hanya di bangku sekolah dasar.

Untuk diri saya sendiri yang kadang malas, ingatlah jika kau gagal karena kemalasan mu, kau akan dikenang sebagai pecundang oleh anak cucu mu nanti. Ayah Pecundang ! Kakek pecundang. Malulah bapak mu pula, yang telah melahirkan anak pecundang.

Besok adalah hari pahlawan, ingatlah, perjuangan mu tak ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka itu Man! Duh Gusti, sampaikanlah do’a dan ucapan terima kasih kami kepada mereka. Duh Gusti, tularkanlah dan wariskanlah semangat perjuangan mereka kepada kami, dan anak cucu kami, sehingga mereka tak malu memiliki penerus-penerus seperti kami.

Kawan, sejenak mari kita menyanyikan salah satu perjuangan kita kembali:

Bangun pemudi pemuda Indonesia. Tangan bajumu singsingkan untuk negara. Masa yang akan datang kewajibanmu lah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas. Tak usah banyak bicara trus kerja kerasHati teguh dan lurus pikir tetap jernih. Bertingkah laku halus hai putra negri. Bertingkah laku halus hai putra negri.

Selamat hari Pahlawan, 10 November 2015, Rek ! Mari berjuang dan segera kembali mengabdi negeri !

Advertisements

2 comments

  1. Bener Cak, kadangkala lagu yang sering kita dengar kan berulang ulang, ia akan memeberi kan sebuah ingatan indah ketika kita mendengarkan nya beberapa tahun kedepan.. .
    Semangat mnyeleasaikan tugas akhir untuk S3 nya cak (Sakjane aku pantes ora yo ikutan manggil cak, melihat Cakson wes siap siap menyandang gelar doktor, pun umurnya jauh di atas saya, Sapurane Cak,).
    Ngomong, Sang istri belahan jiwa, bukankah sedang menemani di Notingham bukan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s