Santri di Persimpangan Zaman Edan

… jamane jaman edan,sing ora edan ora kuat melu edan. Jamane jaman edan mangan lemper dibeset metu setan -Syair Jaman Edan Cak Nun

jaman_mondok_jadul

Santri Pondok (Asrama Cordova, Pondok Induk, PP Darul Ulum Jombang, 2000)

Beberapa hari belakangan ini kata “santri” menjadi ngehits jadi wacana nasional, di media sosial khususnya. Kata ini mendadak naik kelas, dari wacana senyap orang-orang pinggiran di pelosok-pelosok desa, menjadi wacana orang-orang perkotaan. Saya yakin, ada anak-anak di kota yang bertanya-bertanya kepada bapaknya: “Santri itu apa, Pa?”. Atau kalau tidak, mereka bertanya kepada si Mbah Google. Yah, ini semua karena tanggal 22 Oktober kemaren, ditetapkan sebagai hari santri nasional.

Di dunia akademik, kata santri ini dipopulerkan oleh seorang Antropolog alumni Harvard, Clifford Geertz, dalam buku klasiknya “The Religion of Java” yang melakukan trikotomi masyarakat menjadi tiga golongan: Abangan, Santri, dan Priyayi (bisa dibaca :disini). Santri dalam interpretasi Geertz, adalah masyarakat Jawa yang keislamanya murni, taat, sesuai syariat Islam, sebaliknya abangan adalah orang yang islamnya masih ala kadarnya, e.g. tidak pernah sholat, serta keimananya masih bercampur dengan ajaran Hindu.

Tentu saja, sebagaimana nature ilmu sosial itu sendiri, dalam konteks sekarang, interpretasi Geertz ini bisa jadi sangat tidak tepat dan tidak relevan kembali. Termasuk definisi santri itu sendiri. Dalam konteks sekarang, kata santri mungkin lebih banyak digunakan untuk menyebut para pelajar yang sedang belajar di Pondok Pesantren, pesantren NU khususnya.

Apa Esensi Hari Santri Nasional?

Menurut pemahaman saya yang ala kadarnya, fakta sejarahnya, penetapan hari santri nasional ini adalah tidak lebih dari produk politik, alias sekedar alat untuk meraih kuasa. Kita pastinya belum lupa, bahwa penetapan hari santri nasional ini adalah janji politik JOKOWI waktu kampanye di Jawa Timur, untuk menarik dukungan dari pesantren-pesantren, yang berpengaruh sangat kuat pada masyarakat grass root di Jawa Timur.

Kemudian oleh PBNU ditagih, dan akhirnya ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagi hari santri nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengingat peristiwa penting yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim As’ary. Dalam resolusi itu, sang kyai mamfatwakan bahwa melawan penjajah hukumnya adalah wajib, dan jika mati karena melawan penjajah itu akan dikategorikan sebagai mati syahid. Peristiwa resolusi jihad ini digambarkan dengan apik di Film sang Kyai (bis dilihat : disini). Hal ini jelas melukiskan bagaimana peran para kyai dan santrinya dalam perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan Indonesia yang sangat luar biasa besar kontribusinya. Namun, belakangan setelah Indonesia merdeka, khususnya jaman sekarang, peran santri seolah terpinggirkan. Itulah sebabnya, momentum penetapan hari santri ini disambut penuh suka cita oleh para santri. Terlepas, hal-hal seperti ini memang tidak bisa lepas dari nuansa kepentingan-kepentingan politis.

Tetapi, setelah ditetapkan sebagai hari santri nasional so what? Apakah serta merta menaikkan martabat para Santri?

Santri di Persimpangan Jaman Edan

Memilih menjadi santri di Pesantren di jaman edan sekarang seperti saat ini memang tidaklah mudah.  Awalnya, pesantren adalah tempat mengaji ilmu agama di bawah bimbingan seorang kyai. Yang dipelajari hampir 100% ilmu akhirat. Referensi yang dijadikan rujukan biasanya adalah kitab-kitab klasik, yang di pesantren biasanya dikenal dengan Kitab Kuning. Genre kitab itu pun bermacam-macam, mulai dari tafsir Alquran, hadist, ilmu fiqih, tauhid,  hingga ilmu tasawuf. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem bandongan, kyai membaca kitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab gundul (tanpa harokat) , sementara para santri  menyimak kitab yang sama, sambil memberi makna/arti dari setiap kata kitab gundul tersebut. Atau metode sorogan, dimana setiap santri dibimbing satu persatu untuk membaca kitab. Tempat bandongan dan sorogan ini biasanya di masjid atau asrama pesantren. Lulusan dari model pesantren ini, tentu saja tidak memperoleh ijazah.

Kemudian pesantren berkembang dengan membuka sistem madrasah, yang kemudian dikenal dengan Madrasah Diniyah (Catatan: Madrasah ini berbeda dengan MI, MTs, dan MA, di bawah DEPAG). Di madrasah ini, santri belajar di kelas-kelas layaknya sekolah pada umumnya. Ada beberapa tingkatan, mulai tingkat Ula (setara SD), Wustho (setara SMP), dan ‘Ulya (setara SMA). Masing-masing tingkatan dibagi lagi menjadi level. Misalnya di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Tingkat Ula terdiri dari 4 tingkatan (kelas 1 – 4), Tingkat Wustho terdiri dari 2 tingkatan (kelas 1-2), dan kelas ‘Ulya (kelas 1-2). Di sistem madrasah ini, ilmu yang dipelajari selain ilmu sebagaimana genre kitab-kitab yang dipelajari dengan sistem klasikal (bandongan dan sorogan), juga dipelajari ilmu alat atau ilmu grammatika bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balagoh, mantiq. Disebut ilmu alat, karena ilmu ini adalah ilmu untuk bisa membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang ditulis dengan bahasa Arab gundul tadi. Juga ilmu falaq. Sistem pengajaran yang digunakan kebanyakan adalah dengan perulangan (di pesantren dikenal dengan Taqrar) dan hafalan (di pesantren dikenal dengan Muhafadzoh atau lalaran) atau istilah modernya disebut  ‘Rote Learning System’. Salah satu kitab yang terkenal di pesantren dan wajib di hafal adalah kitab Alfiyah Karya Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1000 nadzom (atau baris syair) yang merupakan rule grammar bahasa Arab.

Dari Madrasah Diniyah ini, santri memperoleh ijazah. Hanya saja tentu saja ijazahnya tidak diakui oleh sistem pendidikan nasional. Padahal untuk memperoleh ijazah sampai level Ula tadi misalnya, dibutuhkan waktu setidaknya 8 tahun. Dan pesantren, karena memang orientasinya akhirat, tidak pernah protes dengan masalah tidak diakuinya ijazah itu. Pengecualian, untuk beberapa pesantren, seperti pondok pesantren Gontor,  Ponorogo, ijazahnya sudah diakui setara SMA. Karena ijazahnya tidak diakui, para santri yang biasanya ijazah formalnya hanya sampai tingkat SD itu, sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulusan dari pesantren dengan metode klasikal dan madrasah diniyah ini pada akhirnya yang beruntung akan menjadi kyai yang sukses mendirikan pondok pesantren baru, hanya saja jumlah sangat-sangat sedikit, mungkin hanya 1:1000. Kebanyakan, ya menjadi kyai kampung atau menjadi orang biasa dan bekerja di sektor-sektor informal.

Seiring jaman yang semakin materialistis, pada akhirnya membuat banyak pesantren membuka diri untuk membuka sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi di dalam pesantren, baik yang berafilisiasi dengan Depag (misal: MI, MTs, MA, STAI), maupun Dikbud (SD, SMP, SMA/K, Universitas). Sehingga selain mengikuti sistem klasikal, dan Madrasah Diniyah, santri juga bersekolah layaknya sekolah-sekolah di luar pesantren. Dan berhak mendapatkan ijazah yang diakui oleh pemerintah. Keberadaan sekolah-sekolah umum di pesantren ini bukanya tanpa resiko. Satu sisi, bagus karena santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga ilmu umum, dan setelah lulus mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah, dan pada akhirnya bisa bekerja di sektor-sektor formal. Tetapi disisi lain, hal ini membuat santri tidak fokus belajar agama. Bahkan di beberapa pesantren, keberadaan kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren itu, menjadi terpinggirkan. Sehingga jangan heran jika ada lulusan pesantren yang tidak bisa bahasa Arab, dan tidak bisa membaca kitab kuning.

Keberadaan sekolah umum di pesantren ini juga membuat Pesantren melakukan trade-off antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Idealnya, ya sama-sama kuat, atau dalam operation research dikenal dengan istilah Pareto Optimal. Gus Dur, mungkin adalah contoh santri yang paling ideal. Ilmu keagamaanya top, beliau bisa berbahasa Arab dan bisa memahami kitab kuning klasik, tetapi juga wawasan ilmu umumnya tak diragukan, bahkan akademisi barat pun sangat mengakui keilmuanya. Kita bisa saja mengatakan, kita tidak boleh mendikotomi ilmu agama dan umum, keduanya penting. Tetapi pada kenyataanya sangat tidak mudah.   Pesantren yang tradisinya kuat ( ngaji kitab dan madrasah diniyah nya bagus), biasanya kualitas sekolah umumnya juga ala kadarnya.  Sebaliknya, pesantren yang sekolah dan Universitas umumnya bagus, tradisi ngaji pesantrenya menjadi ala kadarnya.

Bagi santri sendiri, keberadaan sekolah/universitas umum di pesantren ini juga membuat santri tidak mudah memahami dan menghayati dua perspektif ilmu tersebut pada saat yang sama. Ilmu agama cenderung berisi kebenaran deduktif yang dogmatis. Sementara ilmu umum, adalah kebenaran empiris, berdasarkan bukti ilmiah, yang bersifat induktif. Kitab tasawuf yang umum dijadikan rujukan di pesantren seperti kitab Alhikam, dan Ihya Ulumidin, misalnya mengajarkan santri untuk ‘membenci’ dunia, memilih untuk zuhud, tidak serakah, hidup bersahaja, dan mengutamakan akhirat. Sementara ilmu umum, e.g. ilmu bisnis misalnya, mengajarkan untuk mencintai dunia, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Demikian juga tentang relasi hubungan antara lelaki dan perempuan atau suami istri, pada kitab-kitab yang dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren seperti: Qurrotul ‘Uyun, dan ‘Uqud dilijain, perempuan/istri seolah menjadi subordinat lelaki atau suami. Bisa jadi apa yang menurut kitab tersebut wujud dari istri solehah, justru dianggap merendahkan kaum perempuan pada wacana keilmuan barat. Demikian juga masalah homoseksual. Jelas ini akan membuat santri yang juga mengenyam dunia Barat, seperti Ulil Absar Abdala misalnya, berada pada posisi yang dilematis.

Indeed, terkadang susah menemukan kedua kutub ilmu tersebut. Tetapi, bisa saja kita menempatkan kedua ilmu itu pada tempatnya, sesuai dawuh kanjeng nabi:

… bekerjalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu sekan esok hari engkau tiada.

Tentu saja ini tidak mudah, disinilah tantangan pesantren untuk mendamaikan keduanya, yang tentunya tidak mudah.

Keberadaan sekolah umum di pesantren-pesantren juga berdampak pada biaya di pesantren. Sebagaimana kita tahu, pesantren ini tidak dibiayai oleh pemerintah. Jika ngaji di pesantren tradisional bisa dijangkau hampir semua lapisan masyarakat akar rumput. Pesantren yang ada sekolah umumnya menjadi kian tidak terjangkau. Semakin bagus sekolah umumnya (lulusanya banyak yang diterima di PTN favorit misalnya), biasanya biayanya juga semakin mahal. Tidak heran, jika masuk pesantren sekarang juga harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Pada akhirnya pesantren-pesantren itu memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Tak ubahnya apa yang terjadi di bisnis, ada pesantren kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Keputusan untuk membuka atau tidak membuka sekolah umum di jaman edan sekarang ini juga tidak mudah bagi pesantren. Pesantren yang ingin murni menjaga tradisi misalnya, dengan tidak mau membuka sekolah umum. Akan berada di posisi tidak mudah. Jika tidak membuka sekolah umum, untuk ngemani fokus mempelajari ilmu agama yang kuat, bisa berdampak kehilangan calon santri dari masyarakat yang semakin materialistis. Masyarakat yang takut, jika anaknya hanya ngaji tidak sekolah, setelah lulus mau kerja jadi apa, pasti akan berfikir berkali-kali lipat untuk memasukkan anaknya ke pesantren tradisional, atau dikenal dengan pesantren Syalaf ini.  Sebaliknya, kalau ingin memasukkan anaknya di pesantren yang sekolah umumnya bagus, orang tua harus memikirkan biaya pendidikan yang berkali-kali lipat.

Alhamdulilah meskipun pesantren murni syalaf semakin langka keberadaanya, karena calon santri yang semakin materialistis. Masih ada pesantren-pesantren besar yang hingga sampai sekarang masih bertahan dengan tradisi murni salafnya, seperti pondok pesantren sidogiri Pasuruan, dan pondok pesantren Lirboyo Kediri. Yah, memang bukanya kita percaya rejeki sudah ada yang ngatur? Rejeki tidak ditentukan oleh sekolah kita, tetapi oleh Gusti Allah ta’ala.

Santri Memaknai Jihad di Jama Sekarang

Jikalau jihad di jaman Mbah Hasyim dimaknai, perang angkat senjata melawan penjajah. Jihad dalam konteks kekinian bisa dimaknai dengan jihad melawan kebodohan, ketertinggalan, dan kebobrokan akhlak. Para santri harus giat menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Santri juga harus bangkit mengejar ketertinggalan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang harus diakui saat ini kita sangat tertinggal dengan dunia barat. Padahal spirit untuk melakukan research itu ada pada ayat-ayat Alquran. Padahal tradisi akademik itu ada pada para ulama-ulama penulis kitab-kitab klasik yang kita pelajari di pesantren selama ini. Santri juga harus berjihad melawan kebobrokan akhlak para pemimpim kita saat ini yang kronis dihinggapi penyakit keserakahan, kemunafikan, dan hidup bermewah-mewahan, dengan semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan spirit untuk berbagi, bukan untuk menang sendiri.  Spirit untuk berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, bukan berlomba-lomba untuk keunggulan diri sendiri. Pada akhirnya santri dan pesantren ditunggu kontribusinya untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik.

Selamat hari santri nasional !

Related Post:

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s