Secangkir Beras Kencur Anget dan Segenap Kenangan Yang Meliputinya

Sabar dalam kehidupan itu seperti jamu, meskipun pahit tapi menyehatkan. -MutiaraBijaksana.Com

Secangkir Beras Kencur Anget

Ilustrasi : Secangkir Beras Kencur Anget

Pergantian dari musim panas ke musim gugur tahun ini rupanya kurang bersahabat dengan keberuntungan saya. Meskipun sudah tiga tahun hidup di negara empat musim, pergantian musim tahun ini berhasil mengagetkan tubuh saya dan merobohkan daya tahan tubuh saya. Akibatnya, badan meriang, batuk, pening, pilek, letih, lesu ber-‘konser ria’ menjajah tubuh saya berhari-hari. Tetapi semangat hidup mencoba tak menyerah hanya pada penyakit sejuta umat itu dengan beraktivitas seolah badan masih baik-baik saja.

Karenany, saya masih ke kampus juga seperti biasa, meskipun harus ditemani dengan seonggok tisu. Untuk menyeka ‘umbel’ sialan yang suka meleleh tanpa permisi dari hidung. ‘Sentrap – Sentrup’ si hidup jadi sering mampet. Berpadu dengan konser batuk yang juga susah dikontrol. Keduanya membuat saya merasa sangat berdosa dengan orang-orang di sekitar saya. Karena mereka pasti sangat jijik melihat saya.

Hari ini, ketika hari menjelang malam, penderitaan saya semakin sempurna, karena masih ditambah lagi si gusi yang tiba-tiba bengkat dan menimbulkan rasa sakit senat-senut sampai di kepala. Padahal sudah bertahun-tahun sudah tidak pernah merasakan yang namanya sakit gigi. Hati saya hanya bisa mbatin: ealah di saat belakangan saya semakin merasa sangat ‘sensi’ untuk menjawab pertanyaan yang makin sering ditanyakan orang-orang disekitar saya: ” Have you submitted your thesis? ” kenapa juga penyakit-penyakit ini muncul bersamaan. Tuhan, memang maha pandai membuat cerita hidup hambanya agar semakin dramatis, hehe.

Argh, pertanyaan itu sama menakutkanya dengan hantu di siang bolong. Saya sampai berani memarahi salah seorang teman, yang berkali-kali mengajukan pertanyaan yang sama. Mungkin begitu ya rasanya ketika seorang jomblo senior ditanya ” kapan nikah? “. Atau pasangan yang belum punya anak ditanya ” kapan nih punya momongan? “. Atau pasangan yang baru punya anak satu ditanya ” kapan nih punya adek?”. Haha, kadang memang susah membedakan antara sebuah perhatian dan sebuah sindiran.

Akhirnya hanya sampai jam 9 malam saya bertahan di kampus, 2 jam lebih awal dari hari-hari biasanya, saya pulang ke rumah. Berjalan menembuh angin malam yang sudah terasa sangat dingin menusuk tulang. Kedua lubang hidung langsung meleleh kembali.

Sesampai di rumah, melihat menu makan malam rasanya tidak berselera. Yaelah, hidung mampet. Tetapi ada yang istimewa di meja makan dari biasanya. Secangkir beras kencur anget. Kebetulan, kemaren Raras, adik angkatan saya waktu kuliah di ITS bersama dengan putri dan ibunya yang baru datang ‘sambang’ dari Indonesia, membawa oleh-oleh istimewa. Salah satunya kerupuk dan beras kencur.

Saya seduh secangkir beras kencur anget itu, dan saya sruput perlahan sambil duduk di sofa yang hangat. “Slurrrp”. Rasa manis, gurih, dan hangat secara perlahan menjalar dari mulut, tenggorokan, perut, dan menimbulkan sensasi hangat ke seluruh tubuh. Wah, jian rasanya, seperti dipeluk Malaikat Ridzuan. Kuulangi sruputan itu berkali-kali. Membuat saya sejenak terlupakan sensasi penyakit-penyakit yang sedang mendera badan.

Secangkir beras kencur hangat dari kota Solo Jawa Tengah itu pun, membawa alam pikiran saya terbang bersama kenangan-kenangan akan beras kencur yang kenikmatanya sudah bertahun-tahun tidak saya kecap itu. Beras kencur itu mengingatkan saya akan sosok Alm. Mbah Dok alias Nenek ketika saya masih kecil. Dulu, ada penjual jamu gendong yang berjalan bekilo-kilo meter keliling kampung, yang dua minggu sekali selalu mampir di emperan nenek saya.

Jangan bayangkan si penjual jamu yang masih muda dan seksi, penjual jamunya sudah tua dan tidak seksi. Tetapi tubuhnya masih terlihat segar dan subur. Ada beberapa jenis jamu yang ditawarkan, yang saya ingat hanya tiga: jamu beras kencur, jamu kunir asem, dan jamu cabe puyang. Jamu-jamu itu disimpan dalam botol plastik berwarna putih, seukuran botol bensin 1 literan. Si nenek biasanya memesan jamu cabe puyang yang warnanya hitam kecoklatan itu, dan pastinya pahit rasanya. Dan saya biasanya dibelikan jamu beras kencur yang berwarna putih agak kekuning-kuningan.

Jamunya masih hangat dan manis, biasanya dibungkus dalam kantong plastik gula pasir 1/4 kg, yang saya sedot dari salah satu ujung bawahnya. Baru kalau jamu beras kencurnya sudah habis, biasanya diganti dengan jamu kunir asem.

Yang saya kangeni dari kenangan itu adalah suasananya. Bagaimana suasana desa jaman nenek saya masih hidup itu masih sangat bersahabat. Hubungan antar sesama masih sangat hangat dan istimewa. Setiap rumah selalu terbuka lebar pintunya bagi siapa saja. Orang-orang juga biasa berunjung sana, dari rumah ke rumah seperti saudara sendiri. Orang-orang juga selalu punya banyak waktu untuk sekedar bercengkerama dengan sesama. Sekedar ngobrol ngalur ngidul, tentang kehidupan. Bahkan dengan orang asing, seperti penjual jamu tadi.

Suasana desa jaman sekarang tak ubahnya suasana di kota yang mulai angkuh dan kurang bersahabat. Perbaikan ekonomi membuat semakin banyak rumah yang bagus dan megah di desa, sayang rumah-rumah bagus itu dikelilingi beteng tembok yang tinggi, dan hampir selalu terlihat terkunci. Benteng-benteng rumah itu seolah menggambarkan bagaimana gaya hidup orang di dalamnya, yaitu keinginan hidup yang lebih individualistis, hidup nafsi-nafsi. Orang-orang desa pun terlihat lebih sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri.

Entahlah, siapa yang mengajar mereka seperti itu? Mungkin Televisi, tontonan yang karena hampir setiap orang mampu membeli, sekarang menjadikan mereka semakin hidup sendiri-sendiri. Padahal, dahulu, ketika hanya satu dua orang yang mempu membeli, televisi menjadi media pemersatu dan pengakrab warga.

Untuk yang kesekian kali, hati kecil saya kembali bertanya: benarkah setiap kemajuan selalu menjadikan kehidupan yang lebih baik? Atau sebaliknya, harus ada sisi lain kehidupan yang harus dikorbankan untuk kemajuan itu?

Yang pasti, secangkir beras kencur hangat di malam itu, telah mengantarkan istirahat tidur saya dalam nyenyak yang meneduhkan. Terima kasih kawan, untuk secangkir beras kencur hangat nya! Terima kasih Tuhan atas setiap langkah perjalanan dalam titian takdir kehidupan mu yang begitu indah.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s