Resensi Buku : Tuhan Pasti Ahli Matematika

… untuk kebutuhan hidup, saya bekerja apa saja yang saya bisa, seperti memberi les dan asistensi. Untuk makan, saya juga menjadi penyelundup kecil-kecilan di acara-acara resepsi. Tiap Sabtu dan Minggu saya keliling hotel dan gedung-gedung resepsi dengan pakain rapi  untuk mencicipi hidangan orang-orang kaya tanpa saya tahu siapa yang sedang hajatan – Hadi Susanto

Tuhan_ahli_Matematika

Cover Buku Tuhan Pasti Ahli Matematika

Alkisah, seorang kawan saya di Indonesia, sebut saja namanya Pak Yadin, yang sangat mulia hatinya, memberi hadiah sebuah buku yang sangat istimewa, judulnya: Tuhan Pasti Ahli Matematika. Ditulis oleh seorang yang sangat istimewa buat saya: Dr Hadi Susanto, seorang anak muda Indonesia, seorang dosen matematika dengan jabatan akademik sebagai Associate Professor di Universitas Essex, Inggris. Yang juga ketua pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK). Buku tersebut dititipkan ke seorang calon mahasiswa S3 sang penulis yang baru saja datang ke UK, dan diserahkan secara langsung oleh penulis kepada saya pada satu acara yang sangat istimewa di London. Bonus tanda tangan dan foto bersama dengan sang penulis pula (walaupun sudah berkali-kali foto bareng beliau, salah duanya disini dan disini :p). Betapa beruntung dan istimewanya saya, bukan? Hehehe.

Tuhan_Pasti_Ahli_Matematika

Dengan sang Penulis

Alhamdulilah, dalam sekali leyeh-leyeh manja di kasur, aka berlumajang (ber lumah-lumah di ranjang) ria :p  di hari minggu pagi, saya selesai membaca buku setebal 184 halaman ini. Saya baca mulai dari bab 4, bab terakhir, dan berakhir di bab pertama. Hehe, agak anti-mainstream. Tapi jangan protes dulu, buku ini memang kumpulan artikel lepas Bro! so, sampean bisa baca dengan urutan sakenak udele sampean.

Selain berisi catatan penulis tentang penghayatan beliau akan matematika, bidang yang penulis gandrungi dari SD hingga saat ini, dalam kehidupan sehari-hari. Dimana beliau dengan sangat sederhana bisa menjelaskan konsep-konsep matematika yang selama ini dianggap ruwet oleh orang-orang awam, dalam konteks hal-hal di sekitar kita sehari-sehari, seperti noda tumpahan kopi, yang biasa saya lap setiap hari karena tuntutan profesi, eih ternyata sudah ada rumus matematikanya. Hal yang paling menarik bagi saya dari buku ini adalah kisah perjalanan beliau dari menjadi cah ndeso anak orang dengan berpenghasilan pas-pasan di pelosok Desa Cikunir, Lumajang, Jawa Timur, kemudian hijarah ke kota Bandung, ke Belanda, ke Amerika Serikat, hingga menjadi orang besar di Inggris seperti sekarang.

Beberapa episode kehidupan sang penulis sebelum menjadi seperti sekarang, penuh dengan cerita yang mengharukan namun penuh pelajaran buat kita semua. Mungkin susah dibayangkan buat ukuran anak jaman sekarang, bagaimana dia setiap hari harus ngontel sejauh 13 km ke sekolah. Dan juga mungkin susah dibayangkan buat orang tua jaman sekarang, bagaimana orang tua penulis, yang hanya lulusan SD itu, rela menjual lapak jualan satu-satunya di pasar, demi biaya masuk kuliah di ITB. Perjuangan penulis untuk bertahan hidup sambil kuliah di Bandung bisa menguras air mata tapi dalam waktu yang sama juga bisa mengundang tawa. Tetapi semua perjuangan phait itu berubah menjadi manis pada akhirnya.

Dari tulisan-tulisan dalam buku ini, saya semakin yakin bahwa justru segala kesulitan, hambatan, rintangan itu jika disertai dengan kesabaran dan kesungguhan, justru bisa menjadi pelecut untuk meraih kesuksesan yang luar biasa. Dan sebaliknya, berbagai kemudahan sering kali malah ‘membunuh’ kita.

Sebenarnya, cerita sengsaranya keadaan penulis dan keluarga Penulis sebagaimana diceritakan dalam buku ini tidak unik. Sampai sekarang pun, saya yakin masih ada jutaan anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok negeri , termasuk di pulau Jawa sendiri yang bernasib sama dengan masa kecil penulis bahkan lebih mengenaskan. Hanya saja mereka tidak seberuntung sang penulis buku ini, mereka hanyalah silent majority yang nyaris tak pernah terdengar di media, meskipun jumlahnya mayoritas.

Karenanya, semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi cah-cah ndeso (termasuk saya :p) yang akrab dengan kesederhanaan, keterbatasan, dan kekurangan untuk berani bermimpi dan melawan segala keterbatasan itu dan mengubahnya menjadi energi untuk meraih prestasi setingg-setingginya. Apalagi sekarang sudah ada beasiswa bidik misi, yang diinisiasi oleh  Bapak Muhammad Nuh , ketika menjabat sebagai rektor ITS, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga cerita tidak bisa bayar SPP dan tidak bisa makan di kampus-kampus terbaik di kota-kota besar di Indonesia, apalagi sampai menjadi penyusup di resepsi :p, tidak perlu terjadi kembali lagi. Cerita hidup penulis dalam buku ini juga bisa menjadi bukti, bahwa pendidikan yang baik mampus menaikkan kelas sosial seseorang, bahwa pendidikan mampu memutus rantai kemiskininan.

Buku ini juga bisa menjadi tamparan buat anak-anak yang selalu dikelilingi berbagai fasilitas dan kemudahan. Mereka yang merubah pemandangan parkiran kampus-kampus rakyat dari parkiran sepeda onthel dan motor butut yang bersahaja, menjadi tak ubahnya show room mobil-mobil mewah yang menteror mental mahasiswa miskin di kampus. Kalau yang penuh keterbatasan dan keprihatinan saja bisa meraih prestasi luar biasa, lalu mereka yang penuh kemudahan dan fasilitas mewah itu bisa berprestasi lebih apa selain menang lebih bergaya?

Buku ini juga bisa menjadi bahan energi semangat baru, buat teman-teman yang sedang merasa ‘lelah’ dan ‘letih’ dalam beratnya perjuangan, khususnya yang sedang berjuang menyelesaikan studinya. Seperti yang diungkapkan beliau:

…. bagi mereka yang saat ini sedang diuji oleh Allah dengan perjuangan, saat badan terasa begitu lelah dan hati menjadi gundah, rebahkanlah badan kita sejenak dan bersujudlah dalam-dalam kepada-Nya. Sampaikan segala keluh kesah kepada Dia yang Maha Kasih. Mudah-mudahan Dia segera mengajari kita untuk menikmati perjuangan yang sedang menjadi episode kehidupan kita ini.

Akhirnya, selamat membaca buku inspiratif ini kawan ! Eits, tapi jangan lupa beli dulu bukunya :p, bisa dibeli online disini.

Advertisements

6 comments

  1. Dan rata rata orang sukses dan bahagia selalu diawali dengan “ngontel sejauh berkilo kilo meter”. Dari situ aku memilih untuk ngontel saja. Karena selain males nyetir motor, ternyata ngontel itu membahagiakan. Gak cuma menyehatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s